Promosi Kearifan Lokal Melalui Youtube

November 10, 2012 oleh : BHP UMY


Masyarakat memiliki persepsi bahwa kehadiran teknologi baru membuat masyarakat pinggiran akan semakin terpuruk atau terpinggirkan. Berbeda halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Sukron Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (I-Kom UMY), membuktikan bahwa kehadiran dunia baru bisa dimanfaatkan oleh masyarakat pinggiran untuk mempromosikan kearifan lokal.

Demikian disampaikan Sukron dalam presentasinya pada 1st International Conference on Media, Communication and Culture dengan tema “Rethingking Multiculturalism: Media in Multicultural Society”, pada Rabu (8/11) di Kampus Terpadu UMY. Acara ini dilaksanakan oleh prodi Ilmu Komunikasi UMY bekerjasama dengan School of Communication Universiti Sains Malaysia (USM).

“Seperti yang terjadi di Dieng dalam mempromosikan kearifan lokalnya dalam “Dieng Culture Festival” melalui Youtube. Dengan promosi tersebut membuat pengunjung baik dalam negeri maupun luar negeri bertambah,” tuturnya.

Syokron menjelaskan Dieng Culture Festival adalah serangkian acara seni lokal yang di dalamnya terdapat ritual pemotongan rambut gimbal yang diadakan secara massal. Sebelumnya pemotongan terhadap anak berambut gimbal bisa terjadi kapan saja. Namun pada tahun 2010 ritual itu dikemas secara sedemikian rupa untuk menarik media dengan skala internasional.

“Hal ini berdampak pada pengembangan budaya lokal dan peningkatan ekonomi daerah. Tentunya, kemajuan itu merupakan peran dari hadirnya media baru yang dapat membantu masyarakat dalam menumbuhkembangkan kearifan lokal,” lanjutnya.

Dalam presentasinya Syukron juga memaparkan bagaimana keberhasilan Dieng mempromosikan kearifan lokal melalui youtube. Penduduk Dieng tidak tergerus oleh hadirnya teknologi canggih, namun dengan teknologi itu justru mampu memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkembang dan mampu memnunjukkan identitas mereka. “Salah satunya mereka mampu menunjukkan bahwa anak-anak yang berambut gimbal di Dieng adalah penggemar Bob Marley dan pecinta music reage. Mereka memiliki cerita masing-masing dan telah menjadi kearifan daerah itu,” tambahnya.