Profesi Farmasi Perlu Dikenalkan Pada Masyarakat

Februari 16, 2013 oleh : BHP UMY

Profesi farmasi hingga kini masih belum sangat dikenal luas oleh masyarakat. Padahal sebenarnya, farmasi juga memiliki peran yang sangat penting dalam kesehatan masyarakat. Hal ini karena yang paling kompeten tentang obat-obatan adalah orang-orang farmasi.

Demikian disampaikan Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt, dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) saat menjadi narasumber dalam acara Seminar Kefarmasian Joglosemar bertemakan “The Deveploment Of Clinical Pharmacy: A Strategy To Enhance The Role of Clinical Pharmacist And Community Pharmacy”. Hadir pula sebagai pembicara seminar ini, Dr. Nur Hayati, MD. Sc, dosen FKIK UMY, dan Widyati, praktisi Farmasi Klinik UGM.’

Acara seminar ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Prodi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Ruang Sidang AR. Fakhruddin B Kampus Terpadu UMY, Sabtu (16/2). Acara ini juga merupakan rangkaian acara milad FKIK dan milad Farmasi yang ke-3.

Dr. Zullies memaparkan bahwa profesi farmasi juga harus dikenalkan pada masyarakat luas. Sebab farmasi juga memiliki tanggung jawab atas kesehatan masyarakat, saat mereka tengah memeriksakan dirinya pada dokter dan membutuhkan obat.

“Farmasilah yang semestinya menjamin bahwa pasien mendapatkan obat yang benar, digunakan dengan cara yang tepat, dan menghasilkan efek yang diharapkan. Selain itu, farmasi juga yang bertanggung jawab jika ada masalah terkait dengan obat, seperti salah memberikan obat dan menimbulkan efek samping yang membahayakan pasien,” papar Zullies.

Dalam seminar ini juga disampaikan pentingnya membentuk Farmasi Klinik. Farmasi Klinik merupakan disiplin ilmu kesehatan, di mana apoteker memberikan perawatan pada pasien dengan mengoptimalkan terapi obat, dan mempromosikan kesehatan serta pencegahan penyakit.

“Strategi Farmasi Klinik ini lebih memfokuskan pada Interprofessional Education (IPE), yaitu kerja sama dari berbagai profesi yang berbeda untuk mengeksplorasi berbagai masalah kesehatan secara bersama. Jadi, orang-orang farmasi bukan saja yang bekerja menjadi apoteker, tapi bisa bekerja bersama dengan dokter, ahli gizi dan tenaga kesehatan lainnya dalam mendampingi pasien untuk mengetahui terapi yang sudah dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya,” pungkas Zullies.

DSCN1395Profesi farmasi hingga kini masih belum sangat dikenal luas oleh masyarakat. Padahal sebenarnya, farmasi juga memiliki peran yang sangat penting dalam kesehatan masyarakat. Hal ini karena yang paling kompeten tentang obat-obatan adalah orang-orang farmasi.

Demikian disampaikan Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt, dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) saat menjadi narasumber dalam acara Seminar Kefarmasian Joglosemar bertemakan “The Deveploment Of Clinical Pharmacy: A Strategy To Enhance The Role of Clinical Pharmacist And Community Pharmacy”. Hadir pula sebagai pembicara seminar ini, Dr. Nur Hayati, MD. Sc, dosen FKIK UMY, dan Widyati, praktisi Farmasi Klinik UGM.

Acara seminar ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Prodi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Ruang Sidang AR. Fakhruddin B Kampus Terpadu UMY, Sabtu (16/2). Acara ini juga merupakan rangkaian acara milad FKIK dan milad Farmasi yang ke-3.

Dr. Zullies memaparkan bahwa profesi farmasi juga harus dikenalkan pada masyarakat luas. Sebab farmasi juga memiliki tanggung jawab atas kesehatan masyarakat, saat mereka tengah memeriksakan dirinya pada dokter dan membutuhkan obat.

“Farmasilah yang semestinya menjamin bahwa pasien mendapatkan obat yang benar, digunakan dengan cara yang tepat, dan menghasilkan efek yang diharapkan. Selain itu, farmasi juga yang bertanggung jawab jika ada masalah terkait dengan obat, seperti salah memberikan obat dan menimbulkan efek samping yang membahayakan pasien,” papar Zullies.

Dalam seminar ini juga disampaikan pentingnya membentuk Farmasi Klinik. Farmasi Klinik merupakan disiplin ilmu kesehatan, di mana apoteker memberikan perawatan pada pasien dengan mengoptimalkan terapi obat, dan mempromosikan kesehatan serta pencegahan penyakit.

“Strategi Farmasi Klinik ini lebih memfokuskan pada Interprofessional Education (IPE), yaitu kerja sama dari berbagai profesi yang berbeda untuk mengeksplorasi berbagai masalah kesehatan secara bersama. Jadi, orang-orang farmasi bukan saja yang bekerja menjadi apoteker, tapi bisa bekerja bersama dengan dokter, ahli gizi dan tenaga kesehatan lainnya dalam mendampingi pasien untuk mengetahui terapi yang sudah dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya,” pungkas Zullies.