Profesi Dokter Gigi Masih Terpusat di Pulau Jawa

April 18, 2011 oleh : BHP UMY

Saat ini profesi dokter gigi yang ada belum sepenuhnya merata di seluruh wilayah Indonesia. Masih terpusat di wilayah pulau Jawa. Selain itu pelayanan dokter gigi juga belum benar-benar menyentuh segala aspek masyarakat.

Demikian disampaikan Kepala Program Studi Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), drg. Hastoro Pintadi Sp. Prost ketika memberikan sambutan dalam Seminar Seminar Sehari dan Table Clinic dengan tema DENTAL SHINE (Scientific, Health, Intelectual, Nature, Education) yang diselenggarakan mahasiswa dokter gigi muda UMY di Asri Medical Center (AMC ) Sabtu (16/4) siang.

Lebih lanjut Hastoro menguraikan, permasalahan-permasalahan tersebut harus segera diantisipasi dan dicari solusinya. “Belum meratanya dokter gigi, belum maksimalnya pelayanan yang diberikan dokter gigi kepada masyarakat harus segera diantisipasi. Kuncinya terletak pada untuk mengikutertakan semua aspek. Semua pemangku kepentingan mulai dari institusi pendidikan, pemerintah dan lainnya untuk saling bekerja sama dalam mengembangkan kompetensi dokter,”urainya.

Hal ini juga diperlukan sebagai upaya untuk mendukung para dokter nantinya dalam menghadapi era globalisasi. “Para dokter harus siap menghadapi globalisasi seperti AFTA. Serta adanya perjanjian tidak ada batas antar Negara. Sehingga para dokter harus benar-benar dipersiapkan,”tegasnya.

Koordinator kegiatan, Abu Bakar, S.KG di tempat terpisah menambahkan profesi dokter harus professional dan berkompeten. “Ia harus benar-benar mengutamakan kesembuhan pasien atau pasien oriented. Selain itu seorang dokter harus memiliki intelektual yang baik. Meskipun ia telah menjadi dokter, tetap tidak boleh berhenti belajar. Harus selalu menambah wawasan keilmuannya. Salah satunya dengan mengikuti seminar-seminar bidang kesehatan dan kedokteran,”jelasnya.

Sementara itu salah satu pemateri, praktisi Disasster Victim Identification (DVI), drg. Suseno Wibowo memberikan materi mengenai ‘Peran dokter gigi dalam identifikasi Korban Mati Bencana Massal’. Menurutnya pada saat mengidentifikasi atau mengenali korban kecelakaan, kebakaran, bencana alam dan lainnya yang menimbulkan kesulitan dalam mengenali korban, salah satu cara yang paling efektif adalah dengan identifikasi melalui gigi.

“Hal ini karena gigi selalu melekat pada tubuh, terlindung oleh bibir dan pipi, mudah dicapai, tahan terhadap pengaruh panas, fisik dan pembusukan selain itu sangat jarang ada orang yang memiliki struktur gigi yang sama,”ujarnya.