Prihatin Permainan Tradisional Anak-Anak, CIKO UMY Garap Film “Mak Cepluk”​

Mei 13, 2015 oleh : BHP UMY
Processed with VSCOcam

Processed with VSCOcam

Perkembangan dunia perfilman tanah air dewasa ini semakin berkembang pesat. Terutama Film Pendek, atau biasa disebut dengan Film Indie. Berbagai judul dan genre di angkat oleh sutradara-sutradara muda Indonesia, namun untuk film yang mengangkat tema tentang anak-anak masih cukup kurang.

Berawal dari obrolan ringan di angkringan, Wahyu Agung Prasetyo, salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil membuat film pendek dengan mengangkat tema anak-anak. Film dengan judul Mak Cepluk ini menceritakan tentang segerombolan anak SD yang sedang bermain pletokan di tanah kosong. Namun, yang menjadi nilai tambah dan menarik dari film ini adalah, kolaborasi antara permainan tradisional pletokan dengan gadget. Pletokan sendiri merupakan permainan khas dari masyarakat Betawi yang dimainkan oleh anak laki-laki berusia 6 – 13 tahun. Permainan ini seperti bermain tembak-tembakan atau perang-perangan, hanya saja alat yang digunakan bukan pistol mainan atau sejenisnya, melainkan dengan memanfaatkan bambu kecil. Disebut pletokan juga karena bunyi yang dihasilkan dari permainan ini berbunyi “pletok”.

Ketika ditemui di ruang jurusan komunikasi UMY, Rabu (13/5), Wahyu menjelaskan, latar belakang ide dari dibuatnya Film ini karena keprihatinannya terhadap permainan tradisional, khususnya pletokan. Permainan pletokan ini semakin ditinggalkan oleh anak-anak, karena perkembangan teknologi khususnya gadget yang saat ini lebih banyak digunakan anak-anak dalam mengisi waktu luang. “Miris ketika permainan tradisional terkikis dengan adanya perkembangan gadget yang saat ini semakin berkembang dengan pesat di Indonesia. Sekalipun bukan berarti kita menolak perkembangan teknologi tersebut. Karena bagaimana pun, kita tidak bisa menafikan bahwa akibat dari perkembangan teknologi ini semakin memudahkan kita dalam mengerjakan segala sesuatu,” jelasnya.

Akan tetapi, lanjut Wahyu lagi, permainan tradisional juga tak selayaknya hilang karena terkikis oleh perkembangan teknologi. Karena justru dengan adanya perkembangan teknologi itulah, permainan tradisional seharusnya bisa tetap terjaga dan bisa tetap dikenal hingga generasi berikutnya. Oleh sebab itu, Wahyu bersama timnya pun mencoba untuk ikut menjaga kelestarian permainan tradisional tersebut dengan cara mengkolaborasikannya dengan gadget.

Wahyu menambahkan, mereka memilih untuk memproduki film dengan mengkolaborasikan permainan tradisional pletokan dengan gadget, karena menurutnya penggunaan permainan tradisional dan gadget itu sendiri dapat menjadikan anak-anak tidak akan lupa dengan budaya tradisonalnya. Selain itu, mereka juga akan tetap mengikuti perkembangan zaman. “Cara kami mengkolaborasikan antara permainan tradisional pletokan dengan gedget ini yakni dengan cara menjadikan gadget tersebut sebagai alat komunikasi mereka. Jadi, anak-anak yang sedang bermain pletokan itu bisa saling memberikan informasi pada teman satu timnya yang lain, kalau ada teman timnya yang semisal diikuti oleh lawan mainnya atau sudah terkena tembak oleh lawan mainnya. Maka mereka akan memberitahu temannya tersebut melalui gadget itu, baik itu dengan cara mengirimkan pesan di aplikasi BBM atau Line,” paparnya​.

Film yang diproduksi bulan Mei 2014 dan kemudian di launching pada bulan Oktober 2014 tersebut telah berhasil mendapatkan berbagai penghargaan, seperti Nominasi Film pendek terbaik Pekan Film Yogyakarta 2014, meraih Best Picture Winner Algorythem UGM 2014, Official Selection Psychofest 2014, Out of Competition XXI Short Film Festival 2015, Official Selection Malang Film Festival 2015, Ide Cerita Terbaik Festival Film Indie Lampung 2015, dan saat ini masuk nominasi dalam Festival Taman Film Bandung yang diselenggarakan pada tanggal 10 – 16 Mei 2015.

Wahyu juga mengatakan bahwa keberhasilan film Mak Cepluk tersebut tidak terlepas dari kerja keras rekan-rekan Cinema Komunikasi UMY (CIKO), yang merupakan salah satu Badan Semi Otonom (BSO) di Jurusan Ilmu Komunikasi UMY. “Kerja keras teman-teman dalam memproduksi Film ini sangatlah besar, tanpa kerja keras mereka mungkin film ini tidak akan berhasil seperti saat ini. Ke depannya, kami berharap bisa mengikuti Festival Film Internasional, sekaligus memperkenalkan permainan tradisional yang dimiliki oleh Indonesia kepada dunia,” tutupnya. (adm/sakinah (ed))