Peserta KKN Internasional Ciptakan Prototype dengan Konsep Design Thinking

September 17, 2015 oleh : BHP UMY

SAM_3813Lima puluh sembilan Mahasiswa yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional yang meliputi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan menggandeng Singapore Polytechnic (SP), Kanazawa Institute of Technology (KIT), serta Universitas Pembangunan Nasional (UPN), berhasil menciptakan ide unik dalam bentuk prototype dengan konsep Design Thinking yang berguna untuk memberdayakan perekonomian masyarakat. Kelima puluh sembilan peserta tersebut merupakan 16 mahasiswa UMY, 23 mahasiswa Singapore Polytechnic (SP), 12 mahasiswa UPN dan 8 mahasiswa KIT. Mereka dibagi dalam dua tim dan melakukan KKN di Dusun Kaliabu, Banyuraden, Gamping dan Pulesari Sleman.

Keduanya memiliki potensi menjadi desa wisata di Yogyakarta. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh mahasiswa Hubungan Internasional UMY, Rico Bima Paksi dan juga selaku perwakilan dari panitia penyelenggara KKN Internasional. “Dalam menciptakan sebuah ide untuk memecahkan masalah di kedua dusun tersebut, para peserta menggunakan konsep design thinking. Dengan konsep inilah para peserta terbantu dalam mengetahui permasalahan yang ada di dusun yang dituju,” ungkapnya saat ditemui di sela-sela pameran prototype KKN Internasional pada Kamis (17/9).

Para peserta KKN Internasional yang telah dilebur terbagi ke dalam dua kelompok. Dusun dari tim UMY beserta sebagian dari mahasiswa Singapura dan Jepang ditempatkan di Dusun Kaliabu, sedangkan dari Tim UPN di Dusun Pulesari. “Untuk mengetahui permasalahan di masing-masing dusun tersebut, dengan konsep design thinking ini para peserta memulainya dengan proses wawancara kepada warga di masing-masing dusun tersebut, selanjutnya dengan pengelompokan masalah, hingga terciptanya sebuah ide yang cocok untuk dimanfaatkan oleh warga setempat,” jelas Rico.

Agar dalam melakukan sosialisasi terorganisir dengan baik, setiap dusun yang dituju yang sebelumnya telah dilakukan penelitian dari pihak Biro Kerjasama UMY, IRO (International Relations Office, red), setiap kelompok diberikan tema sesuai dengan permasalahan di setiap dusun tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Galuh Hikmah. “Untuk tema bagi kelompok di Dusun Kaliabu mengusung tema terkait Isu-isu lingkungan, promosi wisata sungai dan desa, serta pengolahan sampah dan limbah (residu, red) yang tidak bisa dijual lagi,” jelasnya.

Sementara itu, Galuh Hikmah, peserta KKN Internasional dari UMY mengatakan, sebelum para peserta KKN Internasional terjun langsung ke masyarakat, peserta yang telah lolos seleksi diharuskan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran terkait design thinking selama 3 minggu di Singapura. Selanjutnya kegiatan KKN Internasional tersebut dilanjutkan di Indonesia untuk membantu memecahkan permasalahan kondisi di dusun yang telah ditentukan. “Selama di Singapura kami belajar teori, lalu diterapkan di Indonesia. Peserta dari Singapura dan Jepang dilebur untuk bergabung dengan tim UMY dan tim UPN yang selanjutnya diterjunkan langsung di dua dusun yang berbeda,” ungkapnya.

Supaya warga di Dusun Kaliabu dapat mengolah sampah dengan baik dan aman, tim KKN tersebut membuat mesin pengempes botol, alat pembuka tutup botol, alat pemecah kaca, hingga mesin pembersih sungai. “Setelah kami jelaskan ide tersebut kepada warga, mereka sangat antusias dan mengapresiasi dengan adanya alat tersebut. Hal ini sangat membantu warga terkait permasalahan lingkungan, terutama banyaknya sampah yang tidak bisa didaur ulang,” tambah Galuh.

Berbeda dengan penjelasan dari salah satu mahasiswa UPN yang ditempatkan di Dusun Pulesari, Widyasari Galuh menjelaskan bahwa di Dusun tersebut banyak hasil perkebunan Salak. Warga setempat telah memanfaatkan buah Salah tersebut dengan membuat dodol salak. Namun karena keterbatasan alat pembuatan dodol tersebut, terlebih hanya dilakukan dengan cara manual, maka terbentuklah ide membuat alat untuk mempermudah pembuatan dodol salak. “Alat yang kami buat dinamakan dancing spoon. Alat pengadukan ini kami buat menggunakan tenaga air. Meskipun dalam pembuatan dodol salak tanpa menggunakan alat yang kami buat sama-sama memakan waktu 5-7 jam, namun warga sangat senang karena proses pembuatan dodol dapat menimalisir tenaga,” jelasnya.

Widyasari juga menambahkan, selain membuat alat pengaduk pembuatan dodol salak tersebut, tim kelompoknya juga membantu membuat proposal hingga membuat website agar masyarakat luas lebih banyak mengetahui terkait potensi di Dusun Pulesari tersebut. “Tentunya selain meningkatkan perekonomian warga Pulesari, dusun tersebut bisa dijadikan daya tarik wisata yang menjadikan makanan dodol salak sebagai makanan khas oleh-oleh Pulesari,” ungkapnya.

Semua ide dari Tim KKN Internasional tersebut dibuat dalam bentuk prototype atau bentuk visualisasi dari permasalahan yang ada dari kedua dusun tersebut. Bentuk visualisasi tersebut telah dipamerkan di kampus UMY pada Kamis, (17/09) dan terbuka untuk umum.

Kegiatan Learning Express beserta KKN Internasional ini diharapkan pula dapat membantu warga setempat, terlebih para peserta telah membuat visualisasi atau prototypenya. Rico juga menambahkan bahwa, diharapkan kegiatan pembuatan prototype ini dapat dilanjutkan ke Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). “Karena apa yang dihasilkan mereka ini tidak jauh beda dengan PKM. Apa yang mereka buat termasuk kreativitas dan harus dikembangkan,” tutupnya. (hevi)