Peserta KKN Internasional Ciptakan Alat Bantu Keterampilan Pembuatan Lincak dan Usaha Lempeng

September 18, 2014 oleh : BHP UMY

Peserta KKN Internasional saat menjelaskan cara kerja dan kelebihan alat ciptaannya

Masyarakat di Desa Timbul Harjo yang sehari-harinya bekerja sebagai produsen Lincak (Kursi dari bambu) dan lempeng (kerupuk nasi), masih memproduksi lincak dan lempeng dengan peralatan manual yang masih tergolong lama dan berbahaya bagi keamanan pekerjanya. Misalnya saja dalam memproduksi lincak para pengrajin masih menggunakan gergaji untuk memotong bambu dan menggunakan pisau untuk melubangi bambu. Sedangkan untuk memproduksi lempeng warga masih menggunakan cara manual dalam menggiling lempeng yakni menggunakan tangan, selain membutuhkan tenaga yang cukup banyak dan lama cara seperti ini juga tidak higenis.

Oleh karena itu, Singapore Polytechnic (SP) dengan menggandeng Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Pembangunan Negeri Veteran (UPN-Veteran) Dalam program “Learning Express Kuliah Kerja Nyata (KKN) International”, mencoba membantu warga setempat dengan membuat suatu alat pemotong bambu sekaligus dapat difungsikan untuk melubangi bambu dan juga alat untuk mempermudah penggilingan lempeng. Para peserta KKN Internasional yang terdiri dari 60 mahasiswa ini sebelumnya telah melakukan pengamatan serta melaksanakan kegiatan produksi bersama-sama warga desa selama 2 minggu di Desa Timbul Harjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Berdasarkan hasil pengamatan dan keikutsertaan secara langsung dalam aktvitas warga itulah, kedua alat itu pada akhirnya dicetuskan oleh para peserta KKN Internasional tersebut.

Dalam acara presentasi hasil karyanya, di ruang serbaguna Balai Desa Timbul Harjo, pada Rabu (17/9) para peserta KKN mencoba mempresentasikan cara kerja dan kelebihan alat buatan mereka. Alat untuk memotong bambu dan melubangi bambu tersebut tujuannya adalah untuk mempermudah para pengrajin agar bisa cepat memotong dan melubangi bambu, yang biasanya para pengrajin dalam 10 menit hanya bisa memotong 2 bambu, tapi menggunakan alat tersebut mereka dapat memotong 6 hingga 10 bambu dalam waktu 10 menit. Selain itu juga para pengrajin tidak melakukannya dengan tangan, karena alat tersebut sudah dilengkapi dengan dinamo sebagai penggerak mesin pemotongnya, hal ini diharapkan dapat menjamin keamanan para pengrajin.

Selain itu peserta KKN internasional juga membuat alat untuk menggiling lempeng. Alat ini dilengkapi dengan pegangan yang nyaman, dan tumpuan alat pada ujung penggilingnya lebih besar dan datar. Sehingga dengan satu kali ditekan menggunakan alat ini, lempeng bisa langsung pipih, tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Selain itu alat ini juga menjamin kebersihan karena sudah tidak menggunakan tangan langsung untuk mengiling lempeng tersebut, tentu saja dengan menggunakan alat ini produksi akan lebih cepat dan mudah.

Yudha Setya Negara, peserta KKN internasional dari UMY menjelaskan bahwa penemuan alat untuk pembuatan lempeng tersebut terinspirasi karena saat pengamatan, masyarakat desa dalam proses pembuatannya masih mengabaikan proses kebersihan. Prosesnya juga bisa menjadi cukup lama karena saat penggilingan masih menggunakan cara manual menggunakan tangan, “Karena itu, kami berharap dengan adanya alat tersebut, proses pembuatan akan lebih cepat dan lebih bersih karena tidak lagi menggunakan tangan,” ungkapnya.

Yudha juga menambahkan bahwa selain memberikan alat penggilingan lempeng, ia beserta mahasiswa KKN Internasional lainnya juga memberikan alat untuk pemotongan dan untuk melubangi bambu-bambu. Karena menurutnya proses pembuatan lincak (kursi dari bambu) masih tergolong lama karena menggunakan gergaji pada proses pemotongannya, dan menggunakan pisau pada proses melubanginya, sehingga munculah ide untuk membuat mesin pemotong sekaligus bisa melubangi bambu.

“Selain membuat alat untuk menggiling lempeng, kami juga membuat alat untuk memotong dan melubangi bambu yang menjadi bahan dasar pembuatan lincak. Karena saat kami perhatikan, proses pemotongan bambunya masih menggunakan gergaji, dan pelubangannya juga masih menggunakan pisau. Ini juga tidak aman, karena dalam pengamatan kami sangat besar peluangnya untuk terkena tangan, sehingga muncul ide dari teman-teman untuk membuat mesin ini,” ujar mahasiswa Fakultas Hukum ini.

Berbeda dengan Yudha, mahasiswa Singapore Polytechnic Kevin Prasetyo menjelaskan, bahwa keadaan masyarakat di desa memang harus didikung dengan kegiatan seperti ini. Karena kondisi mereka yang tidak sempat untuk mencari cara yang dapat meningkatkan produktifitas masyarakat desa. Selain itu menurut Kevin, kegiatan ini dapat menjadi wacananya saat kembali ke Singapore untuk membuat alat yang lebih baik lagi dalam meningkatkan produksi masyarakat di desa-desa.

“Keadaan masyarakat yang seperti ini harus kita dukung. Karena mereka tidak sempat untuk mecari cara yang dapat meningkatkan produktifitas mereka. Dan kami juga setelah melihat hal ini, kegiatan selama 2 minggu ini dapat menjadi wacana kami saat kami kembali ke Singapore untuk membuat alat yang serupa, dan lebih baik tentunya untuk mendukung masyarakat di desa” jelas mahasiswa asal Indonesia tersebut.

Disamping itu, Kenneth Mahasiswa Singapore Polytechnic University, juga menjelaskan bahwa kegiatan KKN internasional ini memberikan pengalaman yang cukup berharga baginya. Karena dirinya baru sekali terjun kelapangan di desa, yang cara hidup masyarakatnya masih jauh dari kehidupan modern seperti di Singapore. Kenneth juga mengungkapkan bahwa dirinya sangat bangga sekali dapat ikut membantu dalam membuat alat untuk warga desa.

“Ini merupakan pengalaman pertama saya yang cukup berharga, karena ini pertama saya main kesini. Saya juga melihat cara hidup masyarakat masih jauh dari kondisi masyarakat kota, misalnya seperti di Singapore. Saya juga bangga sekali bisa ikut membantu dalam membuat alat untuk mereka” ujar mahasiswa asli Singapore ini.

​Sementara itu menurut Sekretaris Desa Timbul Harjo Agus Hartono, dirinya mengungkapkan bahwa temuan mahasiswa adalah sebuah bukti nyata dari sumbangsih pemikiran dan aksi nyata mahasiswa dalam membantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomian desa. Selain itu dirinya juga sangat beterimakasih sekali karena program ini melibatkan mahasiswa Singapore dengan dasar ilmu yang dipelajarinya adalah teknik.

“Menurut saya ini adalah bukti nyata dari pemikiran mahasiswa dalam menemukan suatu alat yang dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan produktifitasnya. Hal ini juga akan berdampak bagi peningkatan perkonomian desa, dan juga merupakan kesempatan yang baik sekali karena dari program ini ada mahasiswa singaporenya. Dari kampus politeknik yang dasar ilmunya adalah teknik, sehingga mereka mampu ikut membantu untuk meciptakan alat seperti ini, kita patut berterimakasih sekali,” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

Kegiatan presentasi prototipe ini adalah merupakan rangkaian terakhir program dari KKN internasional yang diikuti oleh mahasiswa Singapore Politeknik, untuk program selanjutnya akan dilanjutkan oleh mahasiswa UMY untuk 2 minggu kedepan. Prototipe tersebut juga akan dipresentasikan serta dipamerkan di hadapan mahasiwa dan civitas UMY hingga hari ini, Kamis (18/9) di lantai dasar gedung AR. Fachruddin B kampus terpadu UMY. (Shidqi)