Pertumbuhan Klenik di Indonesia dinilai Sangat Subur

Oktober 12, 2016 oleh : BHP UMY

img-20161011-wa0012

Klenik merupakan kegiatan perdukunan yang dipercayai oleh banyak orang. Praktik Klenik di Indonesia sendiri ada banyak wujudnya, dan pertumbuhannya juga dinilai sangatlah subur.

Hal tersebut yang disampaikan oleh Dr. Aris Fauzan, Dosen Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang Klenikologi, di Ruang Sidang Direktur Pascasarjana, pada Selasa (11/10). Dalam pemaparannya Aris menjelaskan dari segi historis munculnya klenik-klenik yang ada di Indonesia.

Indonesia memiliki banyak “Isme-isme,” atau sistem kepercayaan, yang dicontohkan Aris seperti paham dinamisme, animisme, Budha, Hindu, Islam, dan lain-lain. “Di dalam isme-isme itu sendiri ada beragam aliran-aliran kepercayaan seperti Darmo Gandul, Gatolotjo dan lain-lain. Semua keyakinan tersebut merupakan kombinasi dari budaya lokal yang sudah ada sejak jaman dahulu, dengan agama-agama yang datang kemudian,” jelas Aris.

Aris juga menyebutkan bahwa dalam kepercayaan-kepercayaan tersebut banyak yang ajarannya bersifat tidak senonoh, namun dinilai suci oleh penganutnya. Kitab Darmo Gandul, misalnya, dinilai Aris memiliki konten-konten seperti buku Kamasutra versi Jawa. “Meskipun demikian, di Jawa, kitab Darmo Gandul dianggap suci. Contoh lainnya apabila kita lihat patung-patung hindu yang banyak melambangkan organ vital laki-laki dan perempuan, namun semua itu dianggap suci oleh para penganutnya,” ungkap Aris.

Kemunculan klenik juga didasari oleh faktor kepercayaan manusia bahwa Tuhan merupakan sumber cahaya. “Dalam Al-Qur’an surat An-Nur juga disebutkan Allah nur al-samawat wa al-ardli (Allah cahaya lahit dan bumi). Paham kepercayaan terhadap cahaya juga disebut Isyraqiyyah. Tokoh bernama Suhrawardi juga menyebutkan tiga hal bahwa pencipta adalah cahaya, akal immaterial (Immaterial Intellect) adalah cahaya, bahwa setiap spesis memiliki Tuhan yang diidolakan yang merupakan cahaya immaterial yang mandiri,” jelas Aris.

Selain kepercayaan bahwa Tuhan adalah sumber cahaya, paham klenik juga muncul dari kisah Nabi Sulaiman. “Nabi Sulaiman itu memang diberikan kemuliaan seperti berbicara dengan hewan. Ini yang memunculkan paham-paham kepercayaan baru. Padahal Nabi Sulaiman sendiri mengatakan bahwa kemuliaan tersebut dapat membuat orang kafir atau bersyukur,” tutur Aris.

Sedangkan, Aris memaparkan bahwa ciri-ciri orang yang baik adalah yang selalu melakukan amal sholeh. “Salah satu contoh amal sholeh seperti memberikan kesejahteraan kepada orang lain, yang mana hal tersebut menguntungkan dirinya sendiri dan juga orang lain. Sedangkan dalam kasus Taat Pribadi, ia menggandakan uang yang berarti merusak sistem perekonomian,” tutup Aris. (Deansa)