Persiapan Juri Untuk KRI 2015 Sudah 80%

Juni 4, 2015 oleh : BHP UMY

logosmall (1)

Juri menjadi sebuah peran penting dalam pelaksanaan perlombaan, sebab juri menjadi sebuah tonggak untuk menentukan pemenang dalam sebuah perlombaan. Oleh sebab itu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sebagai tuan rumah Kontes Robot Indonesia (KRI) 2015 pun tak lupa mempersiapkan juri. Persiapan juri bukan hanya sekedar dengan hal fisik saja namun juga persiapan dalam hal penilaian menjadi sangat penting. “Untuk juri sudah disiapkan sejak lalu, pelaksanaannya ada lima kali perlombaan di regional di 5 wilayah. Dari 5 regional tersebut kemudian dipilih yang terbaik untuk bisa diajukan dalam perlombaan nasional. Kalau dilihat dari pelaksanaannya di regional, ya lebih diperbaiki dan dibenahi lagi demi kelancaraan berlangsungnya acara, sampai saat ini persiapannya sudah 80%,“ terang Ir. Wahidin Wahab M.Sc. Ph.D selaku Ketua Dewan Juri KRI 2015 saat diwawancarai pada hari Rabu (4/6) di Gedung AR Fachrudin A Lt.5 UMY.

Ir. Wahidin melanjutkan, untuk kali ini ada 10 juri dari Universitas Indonesia yang nantinya berkecimpung langsung dalam penjurian. Terdiri dari Ir. Wahidin sendiri, selaku Ketua Dewan Juri dan rekannya Prof. Dr. Benyamin Kusumo Putro M.Sc dari Universitas Indonesia (UI), Dr. Ir. Endra Pitowarno selaku Wakil Ketua Bidang KRSBI dan Ir. Gigih Prabowo, MT selaku Wakil Ketua Bidang KRSI dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). “Kemudian ada Ir. Heru Santoso Budi Rochardjo M.Eng., Ph.D dari Universitas Gajah Mada (UGM), Dr. Kusprasapta Mutiyarsa dan Ir. Indrawanto Ph. D dari Institut Teknik Bandung (ITB), Prof. Dr. Ir. Mauridhi Hery Purnomo M. Eng dan Dr. Ir. Djoko Purwanto M. Eng dari Institut Teknik Sepuluh Nopember (ITS), dan Dr. Eril Mozef, MS dari Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), “ lanjutnya.

Setiap penilaian masing-masing juri mempunyai metode sendiri-sendiri dalam memberikan peniliaan untuk peserta. Namun, ada beberapa penjelasan dari beberapa lomba terkait dengan sistem penilaian yang ada. “ Untuk Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI) penilaiannya sama dengan pertandingan manusia dalam lomba bulu tangkis, yang mendapat skor tertinggi dinyatakan sebagai pemenangnya. Untuk waktu yang ditempuh selama pertandingan yaitu 4-8 menit dan pada KRAI ini sistemnya pertandingan ganda. Untuk Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRAI) tim yang berhasil memadamkan api paling banyak maka, mereka akan dinyatakan sebagai pemenang. KRAI kali ini pemadaman api akan menggunakan lilin yang akan diletakkan secara acak, “ terangnya.

Ir. Wahiding menjelaskan lagi, sedangkan untuk Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) sistem penilaiannya sama seperti sistem penilaian pertandingan bola versi manusia. “Jadi, tim yang paling banyak menggolkan bola ke dalam gawang akan dinyatakan sebagai pemenangnya. Dalam pertandingan ini satu tim ada dua hingga tiga 2-3 robot yang ikut ditandingkan, untuk waktu pertandingannya 20 menit. Seperti yang sudah saya jelaskan di awal, karna sistem pertandingannya sama seperti pertandingan versi manusia maka, ketika skornya sama maka, tetap akan ada adu pinalthy untuk menentukan siapa pemenangnya, “ jelasnya.

Pada Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI) berbeda dengan yang lain, kalau sebelumnya hanya ada 1 robot maka kali ini ada 2 robot yang dibutuhkan, hal ini tentunya sesuai dengan tema yang akan diusung yaitu “Tarian Bambangan Cakil” di mana dalam hal ini ada 2 penari yang dibutuhkan. “Sistem perlombaannya nantinya robot tersebut akan menari secara bersamaan. Jadi, robot tersebut harus sesuai antara gerakan dengan musik yang diperdengarkan. Kecepatannya yaitu dari waktu start sampai finish, maksudnya sampai musiknya habis. Selain itu waktu terhadap berhentinya musik dan juga kemampuan robot dalam mendeteksi suara tepuk tangan penonton. Jadi, ketika di akhir tarian dan musik berhenti maka, robot akan memberikan salam penutup kepada penontonnya,” tutupnya. (icha)

Sharing is caring!