Permainan Pakok dan Taro Sarana Sosialisasi Bahaya Rokok Pada Anak-Anak

Mei 23, 2015 oleh : BHP UMY

Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2013 terdapat 21 Juta anak di Indonesia yang gencar mengonsumsi rokok. Dari data tersebut diketahui pula bahwa anak-anak itu mulai merokok sejak usia 13-18 tahun. Padahal sudah diketahui bahwasannya perokok mempunyai risiko 2-4 kali lipat untuk terkena penyakit jantung koroner dan risiko lebih tinggi untuk penyakit kanker paru-paru, serta penyakit menular lainnya. Melihat permasalahan tersebut, mahasiswa dari Jurusan IPOLS (Internasional Program Of Laws Syariah) yang diketuai oleh Andika Putra, dengan anggota Dicky Kurniawan, Diana Setiawati, Apriana Daru Prabowo, dan Ahmad Zulfikar, menyelenggarakan program Pengabdian Masyarakat yang bertemakan “Gencar Takok” Generasi Cerdas Tanpa Rokok.

Objek pada pengabdian ini adalah anak-anak di Desa Pendowoharjo, Bantul, Yogyakarta. Ketika ditemui di Jurusan Hukum pada Sabtu (23/5), Andika Putra menuturkan program Gencar Takok ini memiliki tujuan untuk mengembangkan dan mensosialisasikan hidup sehat tanpa rokok kepada anak-anak, melalui permainan edukatif kreatif yaitu “Pakok dan Taro”. Pakok merupakan singkatan dari puzzle anti rokok, yang bertujuan untuk menciptakan kerjasama antara anak-anak usia dini untuk menyusun gambar dampak bahaya merokok. “Sedangkan Taro adalah singkatan dari tangga rokok, yang merupakan permainan adaptasi dari permainan ular tangga. Permainan ini memberikan esensi bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai macam bahaya untuk kesehatan,” jelas Andika.

Tak hanya melalui permainan saja, sosialisasi dampak merokok tersebut juga dilakukan dengan membuat karya berupa Puisi Cinta untuk Perokok. Menurut Andika, dalam pembuatan Puisi Cinta tersebut, anak-anak di Desa Pendowoharjo dilatih untuk mengasah bakatnya dalam menulis puisi. Puisi yang dituliskan oleh anak-anak itu pun harus ditujukan kepada siapa pun yang merokok, baik itu teman, saudara, bahkan keluarga seperti ayahnya sendiri. “Kegiatan sosialisasi ini merupakan penyadaran dampak buruk dari rokok bagi kesehatan. Menurut kami, program ini merupakan cara yang efektif, dan mudah untuk menanam kesadaran pada anak-anak tentang bahaya rokok. Karena metode sosialisasi yang kami gunakan melalui media permainan, yang biasanya selalu disukai oleh anak-anak,” paparnya.

Andika juga mengatakan, jika respon yang ditunjukkan anak-anak selama sosialisasi ini berlangsung, bisa dikatakan sangat positif. Hal ini karena anak-anak tersebut sangat antusias mengikuti satu demi satu permainan yang dimainkan. Program pengabdian masyarakat berupa sosialisasi bahaya dan dampak rokok terhadap anak-anak ini, dilakukan oleh Andika beserta keempat temannya selama tiga bulan, yakni dari bulan Maret hingga Mei 2015. Dengan diikuti oleh 70 anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).

Ditambahkan Andika, program yang diajukan untuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian Masyarkat dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) RI ini, ke depannya juga akan dipresentasikan pada  berbagai forum internasional yang akan membahas mengenai tobacco control, yaitu ICTOH (Indonesian Conference on Tobacco or Health) pada tanggal 27 – 29 Mei 2015, di Indonesia. ICTOH Youth Forum ini diselenggarakan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) bekerjasama dengan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia.