Perkembangan Roket Indonesia Masih Lambat

Oktober 30, 2018 oleh : BHP UMY

Perkembangan teknologi roket di Indonesia masih termasuk lambat dibandingkan dengan negara berkembang lainnya dan masih bergantung dengan teknologi mancanegara. Atas dasar itu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengadakan Kompetisi Muatan Roket Indonesia (Komurindo) dan Kompetisi Muatan Balon Atmosfer (Kombat) untuk seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Dengan adanya kompetisi Komurindo – Kombat sejak tahun 2007 diharapkan mampu menarik minat mahasiswa untuk menuangkan ide dan kreasi serta melakukan penelitian terhadap teknologi roket dan muatan.

“Coba kita lihat, perjalan teknologi roket di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1960-an hingga sekarang. Dalam kurun waktu 5 dasawarsa kemajuan roket jika dibandingkan negara berkembang lain seperti India, Indonesia masih cukup tertinggal. Padahal, waktu yang digunakan India untuk memulai penelitian teknologi roket tidak jauh berbeda dengan negara kita. Untuk itu, kami mengadakan kompetisi roket dan balon udara secara rutin sejak tahun 2007 silam dan tiap tahun akan selalu ditingkatkan secara kualitas,” ujar Prof. Dr. Ir. Sri Adiningsih, M.Si selaku Sekertaris Utama LAPAN dalam sambutannya pada acara Workshop Komurindo Kombat 2018, Selasa (30/10) di Gedung K.H Ibrahim Lt. 5 Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Melihat posisi Indonesia yang sudah tertinggal, Sri Adiningsi mengharapkan campur tangan dari berbagai pihak untuk bersama – sama mendukung perkembangan roket supaya dapat menyusul negara lainnya. “Saya berharap masyarakat Indonesia tidak hanya bertumpu kepada LAPAN saja untuk urusan pengembangan roket, melainkan juga ada pihak – pihak dari industri yang ada di Indonesia untuk membantu perkembangan ke-antariksaan. Kemudian, ide – ide segar dari anak – anak muda Indonesia sangat kami harapkan untuk membantu tumbuh kembang teknologi roket di tanah air,” imbuhnya.

Menanggapi keadaan ini, pemerintah Indonesia telah memiliki rencana induk ke-antariksa-an melalui peraturan presiden nomor 45 tahun 2017 yang berlaku sampai 2040. Melalui peraturan presiden tersebut, pemerintah memiliki harapan 20 tahun mendatang bisa membangun bandar antariksa dan roket yang mampu untuk meluncur ke luar angkasa untuk kepentingan Indonesia.

Ajang Komurindo – Kombat kali ini memiliki perbedaan dengan kompetisi sebelumnya, karena diadakan selama 2 tahun sekali, terhitung sejak 31 Januari 2018 untuk mengumpulkan proposal penelitian yang akan mengikuti 2 tahap seleksi. Proposal yang sudah lolos seleksi tahap 2, akan mengikuti perlombaan peluncuran roket pada tanggal 21 – 25 Agustus 2019 di daerah Pameumpeuk, Kabupaten Garut. Kompetisi tahun ini diikuti oleh 276 orang yang terbagi menjadi 3 kategori yaitu Kategori Muatan Balon Atmosfer, Kategori Muatan Roket, dan Kategori Wahana Sistem Kendali.

Sementara itu, Hilman Latief, MA.,Ph.D., yang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan AIK UMY menucapkan selamat datang di UMY kepada seluruh peserta Workshop Komurindo Kombat 2018. Hilman pun berharap kepada seluruh peserta bisa mengambil pelajaran secara langsung dari para ahli roket dan ke-antariksa-an. “Kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta di kampus kami. Saya menghimbau kepada kalian semua untuk menggali informasi dan pengetahuan perihal antariksa dari para ahli yang nantinya bisa diterapkan pada alat buatan kalian,” tutup Hilman.(ak)