Perilaku profesionalisme dokter bangun kepercayaan bagi pasien

Oktober 29, 2010 oleh : BHP UMY

Adanya professionalism behavior menjadi penting diajarkan dan diterapkan dalam perkuliahan ilmu kedokteran secara eksplisit. Dengan mengedepankan perilaku profesionalisme yang ditunjukkan dengan perkataan, perbuatan dan penampilan, hal ini akan membangun kepercayaan bagi para pasien.

Demikian disampaikan dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan-Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK-UMY) dr.Wiwik Kusumawati, MKes pada Seminar ‘Menuju Generasi dokter yang Profesional dan Berkualitas’ di Asri Medical Center (AMC-UMY) Sabtu (23/10).

Menurutnya, adanya pengelompokkan pasien sesuia strata seperti adanya klasifikasi ruangan pasien di dalam rumah sakit dapat serta munculnya proses pendidikan yang hanya berorientasi bisnis atau komersial dapat menurunkan standar profesionalisme seorang dokter. “Turunnya standar ini juga dipengaruhi saat proses seleksi mahasiswa Kedokteran yang lebih melihat hasil tes akademik dan kurang menjadikan hasil tes psikologi sebagai decisionsaat menyeleksi mahasiswa,” jelas Wiwik.

Ia menambahkan, kompetensi seorang dokter tidak hanya dinilai dari keterampilan klinis maupun pengetahuan semata tetapi juga membutuhkan perilaku yang baik. Hal ini karena dokter akan berhubungan dengan seorang pasien. “Sehingga selain kemampuan maupun pengetahuan kedokteran yang baik, seorang dokter juga dituntut untuk mampu bertutur kata maupun bersikap sesuai keinginan pasien,”jelasnya.

Wiwik memaparkan yang dimaksud profesionalisme merupakan sesuatu yang menjadi kebiasaan yang ditunjukkan dengan jelas berdasarkan knowledge atau pengetahuan, skill atau kemampuan serta attitude atau perilaku.

”Sedangkan professionalisme behavior merupakan perilaku-perilaku yang biasa diamati. Dimana perilaku tersebut mencerminkan standar-standar dan nilai-nilai yang dibuktikan melalui cara bertutur kata, cara bersikap maupun berpenampilan. Hal itu nantinya akan menimbulkan sikap percaya pasien kepada dokter. Ketika sikap percaya itu tumbuh yang terjadi apapun yang terjadi pada dirinya pasien akan merasa nyaman.”urainya.

Selain itu dijelaskan Wiwik, seorang dokter juga harus memiliki komitmen dan tanggung jawab. “Dokter juga harus selalu mengupdate ilmunya agar tidak terjadi regresi atau kemunduran ilmunya. Hal itu rawan terjadi terutama ketika dokter menjalani praktik di daerah pelosok yang minim sarana infrastruktur misalnya jaringan internet serta jarang mengikuti seminar untuk meningkatkan keilmuannya,”tegasnya.

Dokter yang baik adalah seorang dokter yang memiliki kemampuan intelektual yang baik, memahami undang-undang yang berlaku, komitmen terhadap pelayanan masyarakat, dan harus memiliki etika sehingga nantinya benar-benar akan terwujud dokter dengan professional behavior.

Bagian-bagian dari professionalism behavior misalnya meletakkan kepentingan pasien di atas kepentingan pribadi atau dokter. Kemudian memiliki sikap rasa saling menghormati tidak hanya kepada pasien tetapi juga terhadap keluarga, teman sejawat atau rekan kerja, bidan, maupun apoteker.