Perang Bukan Solusi Dari Konflik, Inisiator Perang Harus Dihukum

September 18, 2015 oleh : BHP UMY

MGPS 6PUTRAJAYA – Peperangan yang saat ini banyak terjadi, sebenarnya memang bermula dari adanya konflik. Konflik yang terjadi di sebuah negara ataupun antar negara itulah yang kemudian menyebabkan terjadinya perang. Padahal, untuk menyelesaikan konflik tersebut ada banyak cara lain yang bisa digunakan. Sebab perang itu bukanlah solusi dari segala sesuatu, termasuk pula bukan solusi untuk menyelesaikan konflik.

Karena itulah, masyarakat dunia juga semestinya mengetahui dan menyadari akan kerugian yang ditimbulkan dari peperangan tersebut. Selain karena peperangan saat ini yang semakin brutal, perang yang terjadi saat ini pun seolah menjadi sebuah misi pembunuhan. Oleh sebab itu, orang yang menyebabkan perang itu terjadi, sudah selayaknya dihukum dan dipenjara.

Demikian pemaparan Tun Dr. Mahathir Mohammad, saat menjadi keynote speech dalam acara Mahathir Global Peace School (MGPS) pada Selasa (15/9) di Putrajaya International Convention Center, tepatnya di Kantor Yayayasan Kepemimpinan Perdana, Kuala Lumpur – Malaysia. MGPS keempat yang bertemakan “Justice, Prosperity and Peace for Global Citizens” ini kembali diselenggarakan oleh Perdana Global Peace Foundation (PGPF) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan akan berlangsung hingga Jum’at (18/9).

Menurut Tun Mahathir, terjadinya perang itu dapat menghancurkan sebuah negara. Karena banyak korban jiwa yang berjatuhan. Bahkan mirisnya lagi, banyak negara yang saat ini justru saling beradu dalam peperangan dan tidak peduli siapa yang menjadi korbannya. “Manusia saat ini sangat primitif. Mereka saling bertengkar dan membunuh satu sama lain. Saling berperang untuk bisa menjadi pemenang. Tapi setelah mereka menang, apa yang akan mereka dapat? Justru korban peperangan yang akan mereka dapatkan, karena perang saat ini sangat brutal dan tidak memang siapa yang menjadi korbannya,” tegasnya.

Mahathir juga menjelaskan, bahwa konflik yang terjadi di suatu negara bisa saja dibuat menjadi sebuah peperangan. Karena itulah mengapa dirinya mengajak pada semua elemen masyarakat dunia untuk tidak lagi menyelesaikan konflik dengan perang. Selain itu, ia juga menganjurkan agar orang-orang yang menyebabkan peperangan (inisiator perang) itulah yang seharusnya mendapatkan hukuman dan dipenjara. “Perang itu adalah kejahatan yang sangat buruk sekali. Jika kita bisa menghukum orang yang membunuh satu nyawa manusia, maka kita juga harus bisa menghukum orang telah membunuh jutaan nyawa manusia. Mereka yang telah membunuh jutaan manusia itu harus mendapatkan hukuman dan dipenjara, kalau kita memang ingin mewujudkan perdamaian,” jelasnya.

Sebab setiap orang itu, lanjut Mahathir, pada dasarnya pasti menginginkan perdamaian bukan peperangan. “Perdamaian itu menunjukkan jati diri setiap orang, bahwa mereka ingin perdamaian. Saya percaya kalau semua dari kita ini sudah pernah mendapatkan pelajaran tentang perdamaian dalam kurikulum sekolah kita. Bahkan mungkin kurikulum tentang perdamaian itu sudah diajarkan sejak kita masih bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK). Karena itulah, Malaysia, Indonesia dan Singapura juga harus setuju untuk menyelesaikan permasalahan dan konfliknya tanpa perang, melainkan dengan jalan perdamaian,” paparnya.

Namun meski demikian, Mantan Perdana Menteri Malaysia ini juga menyadari bahwa untuk menghentikan peperangan dan mewujudkan perdamaian di seluruh negeri yang sedang berkonflik itu, memang butuh proses. Tapi ia tetap optimis bahwa perdamaian tersebut akan terwujud, dengan lebih bersabar dan bisa mengambil langkah tepat untuk menghentikan perang tersebut. “Mungkin memang butuh waktu untuk mewujudkan perdamaian di muka bumi ini. Tapi kita juga harus percaya dan lebih bersabar untuk hal itu, serta harus bisa mengambil langkah yang tepat untuk menghentikan perang. Dan setidaknya, langkah pertama yang bisa kita ambil saat ini adalah melalui sekolah perdamaian ini, yang merupakan kerjasama antara Indonesia dan Malaysia untuk mewujudkan perdamaian dan menyelesaikan konflik tanpa peperangan,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Sekjen PP Muhammadiyah, Dr. H. Abdul Mu’ti. Menurutnya, perang bukanlah cara untuk menyelesaikan konflik. Ada banyak cara yang bisa dilakukan suatu negara dalam menyelesaikan konflik yang terjadi, salah satuanya seperti dengan cara berdialog atau saling bertukar budaya. “Kita tidak bisa menyelesaikan konflik itu dengan cara perang. Karena itu bukan solusi yang tepat. Salah satu cara yang bisa kita lakukan dalam menghadapi dan menyelesaikan koflik yang itu adalah dengan dialog atau melalui cultural movement (pertukaran budaya). Sekalipun cultural movement ini adalah pola, tapi ini bisa jadi salah satu cara kita untuk mewujudkan perdamaian dan bisa menyelesaikan konflik,” ujarnya.

Selain melalui pertukaran budaya dan saling memahami budaya negara lain, berdialog menurut Mu’ti juga bisa dijadikan salah satu insturmen dalam menyelesaikan konflik yang terjadi. Belajar dari pengalaman konflik yang pernah terjadi di Indonesia, Mu’ti mengatakan bahwa dialog itu juga merupakan salah satu cara untuk mewujudkan perdamaian. Di Indonesia sendiri juga tidak pernah terlepas dari yang namanya konflik. Namun kami selalu berusaha untuk menyelesaikan konflik tersebut bukan dengan jalan perang, tapi dengan berdialog dan saling bertukar serta memahami budaya daerah-daerah setempat. Dari pengalaman tersebut kemudian kami jadikan pelajaran bahwa memang dengan berdialog, konflik yang terjadi itu bisa diselesaikan dengan jalan damai. Cara ini tentunya bisa menjadi kontribusi kita bagi dunia dalam mewujudkan perdamaian di muka bumi ini,” tutupnya.(sakinah)