Pengajaran Bahasa Arab Kurang Optimal

Februari 10, 2010 oleh : BHP UMY

Penguasaan bahasa asing menjadi suatu hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi di era ini. Dalam dunia yang begitu kompetitif sekarang, mau tidak mau, suka tidak suka, seseorang harus memiliki nilai lebih dibanding yang lain. Bahasa asing yang menjadi bahasa dunia sampai saat ini memang masih bahasa Inggris. Namun, ada bahasa-bahasa lain, yang juga menjadi bahasa internasional. Salah satunya adalah bahasa Arab.

Bahasa Arab di Indonesia yang merupakan Negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia bukanlah sesuatu yang asing. Banyak lembaga pendidikan, khususnya yang bernafaskan Islam, menjadikan bahasa Arab menjadi bahasa asing yang prioritas untuk dikuasai oleh para siswanya. Sayangnya, masih banyak guru pengajar yang mengajarkan bahasa Arab dengan metode yang kurang tepat, sehingga mengakibatkan proses belajar mengajar menjadi kurang optimal.

Sebagai salah satu langkah pembenahan metode pengajaran pada para guru pengajar bahasa Arab, Iranian Corner Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan Workshop Pengajaran Bahasa Arab Inovatif untuk guru bahasa Arab tingkat Sekolah Dasar atau sederajat hingga Sekolah Menengah Atas atau sederajat di Kampus Terpadu UMY, Senin (08/02).

Dalam workshop ini, sekitar seratus orang guru bahasa Arab SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/MA, diberikan evaluasi tentang proses mengajar yang selama ini mereka lakukan. Para guru tersebut juga diberikan berbagai teknik mengajar oleh dua pembicara asal Mesir, yaitu Mahmoud Abd El Fattah, Lc, lulusan Universitas Cairo, Mesir yang sejak tahun 2006 datang ke Indonesia dan Mahmud Hamzawi Fahim Usman, M.A, guru di Al Azhar, Cairo, Mesir.

Gendroyono, M.Pd, Direktur Iranian Corner mengatakan bahwa workshop ini diadakan tujuannya adalah agar proses pengajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah dapat berlangsung secara maksimal. “Dengan evaluasi metode pengajaran bahasa Arab oleh ahlinya, para guru dapat mengetahui kekeliruan yang sering mereka lakukan dalam mengajar. Sehingga nantinya, mereka dapat lebih maksimal lagi dalam mengajarkan bahasa Arab ini,” ujar pria yang biasa disapa Roy ini.

Roy menambahkan bahwa selama ini, ada persepsi yang berbeda tentang pengajaran bahasa Arab yang baik. Sebagian guru mengajarkan bahasa Arab dengan berbasis pada praktek, sedangkan sebagian lainnya tidak. Melalui workshop ini diharapkan pesepsi tersebut dapat disamakan.

Mahmoud Abd El Fattah, salah satu pembicara menjelaskan bahwa disadari atau tidak, sebagian guru bahasa Arab sering melakukan kekeliruan ketika mengajar. Menurutnya, beberapa di antara kesalahan yang biasa dilakukan guru bahasa arab saat mengajar misalnya dalam makharijul huruf atau cara mengucapkan huruf. Dalam hal makharijul huruf ini, guru sering mencontohkan suaranya, namun tidak mencontohkan bagaimana cara mengeluarkan huruf tersebut.

Contoh lain adalah dalam pengajaran nahwu dan sharaf yang seringkali dipisahkan. Cara mendefinisikan maf’ul muthlaq juga sering keliru. Banyak guru yang masih terlalu terpaku pada penguasaan kitab seperti Alfiyah, Jurumiyah, dan sebagainya. Padahal menguasai alfiyah, jurumiyah, bukan syarat dan juga bukan jaminan untuk menguasai bahasa Arab.

“Agar proses belajar mengajar dalam bahasa Arab dapat berjalan maksimal dan mencapai hasil yang diharapkan, para guru harus menyadari kesalahan atau kekeliruan yang dilakukannya dan mengetahui bagaimana menanganinya,” tutur Mahmoud yang telah menerjemahkan empat buku selama tinggal di Indonesia ini.

Menurut Mahmoud, metode pengajaran pun seringkali masih terkesan monoton, dengan hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab saja. Padahal diperlukan metode lain agar proses belajar mengajar dapat mencapai hasil yang maksimal. Kedua pembicara pun memberikan gambaran inovasi dalam metode pengajaran. Inovasi tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan lagu, cerita, dan permainan-permainan ringan lainnya.

“Sangat disayangkan jika pengajaran bahasa arab ini tidak berjalan dengan maksimal. Padahal di Indonesia, semangat untuk belajar dari para siswa, juga semangat guru untuk mengajar termasuk tinggi. Para guru harus selalu mengevaluasi dirinya, agar dapat memberikan yang terbaik untuk para siswa. Metode mengajar yang tidak monoton harus dilakukan agar para siswa dapat menangkap apa yang diajarkan dengan lebih sempurna,” imbuh Mahmoud.