Pendekatan Pada Keluarga Dinilai Ampuh Tingkatkan Kualitas Kesehatan Indonesia

Desember 9, 2016 oleh : BHP UMY

Masyarakat Indonesia diharapkan memiliki peningkatan kesehatan yang signifikan pada tahun 2019 mendatang. Dalam merealisasikan program tersebut, pemerintah Indonesia menilai pendekatan pada keluarga sebagai cara yang paling efektif. Hal tersebut karena keluarga dinilai sebagai faktor pendukung terbesar seseorang untuk menjaga kesehatannya.

Hal tersebut yang disampaikan oleh dr. Anung Trihadi, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dalam pembukaan 2nd International Conference of Medical and Health Science and 2nd Life Sciences Conference, yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran UMY di Hotel Alana pada Jum’at (09/12). Konferensi internasional ini diselenggarakan hingga Sabtu (10/12).

Dalam sambutannya, dr. Anung juga menyebutkan beberapa jenis penyakit yang paling banyak berkembang pada masyarakat Indonesia. “Pertama adalah kekurangan gizi dan nutrisi pada ibu hamil. Hal ini berbahaya karena tentu akan mempengaruhi tumbuh kembang bayi saat dalam kandungan. Yang kedua adalah diabetes, dan terakhir adalah penyakit mental (mental illness). Semua penyakit tersebut merupakan penyakit yang bermula dari lingkungan keluarga. Oleh karenanya, dengan melakukan pendekatan terhadap keluarga diharapkan dapat mengurangi jumlah penyakit tersebut pada tahun 2019 mendatang,” jelas dr. Anung.

Masalah kekurangan gizi pada anak juga dinilai dr. Anung masih banyak kasusnya di kalangan masyarakat Indonesia. “80% anak di bawah 5 tahun tumbuh dengan sangat pendek, sedangkan 19.7% nya tumbuh pendek. Hal tersebut dikarenakan oleh faktor kekurangan gizi pada keluarga di Indonesia,” ungkap dr. Anung.

Di samping itu, dr. Anung juga menjelaskan pada peserta konferensi bahwa saat ini diperlukan riset interdisipliner untuk dapat mengembangkan kualitas kesehatan di Indonesia. Pasalnya bila riset kesehatan hanya dilakukan oleh pelaku riset dari bidang kesehatan, tidak akan cukup untuk dapat mengembangkan hasil-hasil riset yang bermanfaat bagi masyarakat.

Riset interdisipliner yang dimaksud, diharapkan dr. Anung, juga dapat diaplikasikan pada pengembangan jamu sebagai obat tradisional. “Masyarakat Jogja masih banyak yang menggunakan jamu sebagai obat tradisional. Jamu sendiri juga dinilai efektif dalam penyembuhan penyakit yang beredar di masyarakat. Oleh karenanya bila dilakukan riset interdisipliner untuk dapat mengembangkan jamu, maka manfaatnya bagi masyarakat Indonesia akan juga semakin lebih banyak lagi,” terang dr. Anung. (deansa)