Penanggulangan Bencana Sebagai Soft Power Diplomasi Indonesia

Januari 18, 2014 oleh : BHP UMY

IMG-20140117-WA0010Bencana alam yang seringkali terjadi di Indonesia kerap dianggap sebagai sesuatu yang negatif karena dampak yang ditimbulkannya. Namun pengelolaan bencana alam yang baik dapat menjadi kekuatan diplomasi sebuah negara dalam mencapai tujuan dan kepentingannya.

Itulah benang merah dari apa yang disampaikan oleh Ratih Herningtyas, S.IP, MA dan Dr. Surwandono saat menyampaikan hasil penelitiannya dalam acara The First Postgraduate Research Conference ‘IMPROVING HUMAN LIFE’ di Gedung AR Fachrudin A UMY, Jum’at, (17/1). Acara konferensi ini diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerjasama dengan Khon Khaen University Thailand, dan berlangsung di ruang sidang AR. Fachruddin A lantai 5 kampus terpadu UMY.
Menurut pemaparan Ratih, Indonesia sebagai negara dengan tingkat kerawanan yang tinggi terhadap bencana tentu harus bisa mengelola bencana dengan baik, sehingga bisa menjadi soft power dalam diplomasi. Bangsa Indonesia juga harus menyadari bahwa bencana bisa terjadi kapan dan dimana saja sehingga kita harus selalu siap menghadapinya. “Selain itu, mindset yang memandang bencana sebagai sebuah hal yang negatif harus diubah, agar bisa menjadi soft power yang kuat. Hal ini juga sebagai modal sosial untuk membangun kerjasama internasional yang produktif,” paparnya.

Dosen Hubungan Internasional UMY ini juga menambahkan bahwa penanggulan bencana di Indonesia telah mengalami peningkatan sejak tahun 1945. Namun penanggulangan bencana di Indonesia masih perlu dikembangkan dan dibenahi lagi. “Ada beberapa hal yang perlu dibenahi, pertama, Indonesia perlu mengubah paradigma bencana, dari reaktif menjadi pro-aktif. Yang kedua, masyarakat juga harus menyadari bahwa bencana merupakan urusan bersama. Ketiga, Indonesia perlu membangun penanggulangan bencana yang komprehensif dan mencakup semua aspek pembangunan nasional.
Terakhir, kepemimpinan di tingkat lokal juga harus ditingkatkan. Karena pemimpin di tingkat lokal berperan penting dalam komunikasi dan distribusi logistik pada saat terjadi bencana,” jelasnya.

Di sisi lain Dr. Surwandono juga menyatakan bahwa, bangsa ini harus belajar banyak mengenai penanggulangan bencana. Salah satunya, bisa melihat dari bagaimana Jepang menghadapi bencana tsunami pada Maret 2011. Jepang telah menunjukan kepada dunia bahwa bencana alam apabila dikelola dengan baik bisa menciptakan citra positif sebuah negara dan bisa membuka kerja sama yang luas dengan negara-negara lain. Meski sempat panik, namun menurut Dr. Surwandono Jepang bisa dengan cepat bangkit. Masyarakat Jepang begitu sabar dalam menghadapi bencana. Walaupun kelaparan dan krisis air bersih terjadi, namun tidak ada masyarakat Jepang yang melakukan penjarahan dan perbuatan tercela lainnya. “Masyarakat Jepang dengan sabar dan tenang menunggu bantuan dari pemerintah sehingga pemerintah Jepang pun bisa berfokus pada evakuasi, penyelamatan dan distribusi logistik,” jelas Surwandono.

Adapun acara The First Postgraduate Research Conference ‘IMPROVING HUMAN LIFE’ ini merupakan sarana bagi mahasiswa studi pasca sarjana dalam mempublikasikan hasil risetnya. Dalam konferensi tersebut ada sekitar tiga puluh presenter yang berpartisipasi. Achmad Nurmandi yang merupakan direktur Pascasarjana UMY mengatakan bahwa titik berat dari pasca sarjana adalah penelitian dan penelitian tersebut harus dipulikasikan. “Karena itu, konferensi ini diharapkan bisa menjadi wadah bagi mahasiswa pascasarjana untuk mempublikasikan hasil penelitiannya” ungkapnya. (Asri)