Pemilu 2019, Pemilih Harus Waspadai Informasi Hoax

Februari 8, 2018 oleh : BHP UMY

Euforia pemilihan umum tahun 2019 sudah dapat dirasakan baru-baru ini. Meskipun masih di awal tahun 2018, euforia politik sudah dapat dirasakan masyarakat. Hal ini dikarenakan penyebaran informasi yang cepat sehingga dengan mudahnya masyarakat mengakses segala informasi dan berita mengenai pemilu tahun 2019. Namun perlu diwaspadai bagi seorang pemilih baru maupun pemilih yang sudah pernah memilih bahwa ada banyak infomasi dan berita yang beredar di laman sebuah website. Serta perlu dipertanyakan apakah berita maupun informasi tersebut adalah fakta atau hanya sebatas hoax yang beredar.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan dosen bidang politik spesialisasi partai politik, pemilu dan demokrasi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (IP UMY) Bambang Eka Cahya Widodo, S.IP, M.Si. saat diwawancarai di ruang dosen prodi IP UMY pada Kamis (8/2).

Menurut Bambang, kualitas informasi yang diterima menjadi salah satu faktor utama bagi pemilih. Informasi yang tersedia menjadikan tolak acuan pemilih melihat seberapa kredibel seorang calon pemimpin. Namun, Bambang menyebutkan bahwa kebanyakan kandidat saat ini hanya dilihat berdasarkan popularitas yang dimiliki. Mereka yang popular lebih cenderung dilihat oleh masyarakat daripada mereka yang profesional di bidang tersebut.

“Orang-orang saat ini bukan tidak tahu mengenai informasi pemilu 2019, namun mereka kebanjiran akan informasi, dan yang ditakutkan adalah ketika masyarakat mendapatkan informasi yang tidak sesuai dengan fakta (hoax) yang dapat merugikan pemilih. Hoax dapat mengubah pemilih untuk mengubah pilihannya. Adapun tiga aspek atau komponen mendasar pemilih yaitu informasi, pengalaman serta kualitas atau keyakinan. Menurut kami, di era seperti sekarang ini jika ada informasi yang tidak diketahui publik, itu merupakan sebuah kegagalan dari orang-orang yang ingin menyampaikan informasi kepada publik,” ungkapnya.

Bambang menyebutkan bahwa semua kandidat maupun masyarakat dapat melakukan kampanye di Handphone masing-masing, mulai dari sosial media yang dimiliki. Bambang berharap bahwa para pemilih dapat menggunakan informasi secara bijak.

“Harapannya, dengan banyaknya informasi politik yang tersedia, pemilih dapat dengan bijak menggunakan informasi tersebut untuk menentukan pilihannya. Kedua, kita hidup di zaman dimana kita dapat dengan mudah mengakses informasi, terutama adanya HP untuk mendapatkan informasi. Tapi jangan lupa, info tidak selamanya benar. Kita harus memiliki sikap yang jelas, bahwa yang ada di internet pasti salah hingga dapat dibuktikan itu benar, bukan sebaliknya,” ungkap Bambang.

Pesan Bambang, terutama kepada pemilih pemula, untuk tidak tertipu dengan uang, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang melobangi kapal negara kita. Mereka akan sadar bila kapalnya mulai tenggelam. Politik akan menghasilkan hal baik apabila hubungan antara pemilih dengan kandidat dilandaskan berdasarkan trust (kepercayaan), bukan tipu-tipu. (Darel)