Pemerintah Malaysia Gandeng FH UMY Kaji Sistem Administrasi Tanah Pra dan Pasca Bencana di Indonesia

Desember 22, 2011 oleh : BHP UMY

Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tsunami, dan tanah longsor saat ini menjadi sebuah kejadian yang semakin sering terjadi di negara-negara Asia Tenggara. Hal ini menuntut setiap elemen termasuk institusi pendidikan dan pemerintah di Asia Tenggara untuk mengkaji masalah ini lebih dalam. Sistem perundang-undangan tentang Administrasi tanah, menjadi penting dalam meminimalisasi permasalahan yang timbul jika terjadi bencana.

Hal ini melatarbelakangi kerjasama yang diadakan International Program For Law & Sharia Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogykarta UMY (IPOLS FH UMY) dengan  Institut Tanah Ukur Negara (INSTUN) Kementrian Sumber Asli dan Alam Sekitar Kerajaan Malaysia, dan Ahmad Ibrahim Kulliyyah of Laws,  International Islamic University of Malaysia (AIKoL IIUM) dalam penyelenggaraan Colloquium “Sistem Pendaftaran dan Administrasi Pertanahan Pra dan Pasca Bencana Alam di Indonesia dan Malaysia” Selasa-Sabtu (20-24/12) di Yogyakarta.

Menurut Direktur IPOLS Yordan Gunawan yang ditemui di sela-sela acara di All Season Hotel, Kamis (22/12), Colloquium menjadi sebuah ajang bertukar pikiran secara mendalam mengenai bagaimana proses administrasi dan inventarisasi tanah baik sebelum maupun setelah bencana. Setelahnya diperlukan pemahaman mengenai isu-isu dan masalah yang dihadapi. “Tidak hanya sekedar pada tataran teori, tetapi juga secara praktis. Pada akhirnya bersama-sama kita dapat menemukan sistem yang lebih baik”, jelasnya.

Menurut Yordan, menjadi sangat penting bagi kita untuk merancang sistem administrasi pertanahan yang jelas sebelum bencana terjadi. Pendaftaran kepemilikan tanah, pemberian hak serta perundang-undangan lain sangat diperlukan untuk mengantisipasi kondisi tidak terduga pasca bencana alam, misalnya sengketa tanah.

Colloquium menghadirkan Dosen FH UMY, Dr. Johan Erwin Isharyanto, S.H., M.H., pimpinan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Wilayah DIY, Kabupaten Sleman dan Bantul. Para pembicara akan menjelaskan sistem administrasi dan inventariasi tanah pra dan pasca bencana di daerah masing-masing. “Kabupaten Bantul dan Sleman memiliki sistem yang cukup berbeda dalam penanganan hal ini. Di Sleman ada erupsi Merapi, di Bantul ada gempa bumi dan lain-lain. Sehingga kami perlu hadirkan keduanya” terang Yordan.

Yordan juga menjelaskan bahwa kegiatan semacam ini memang diadakan rutin oleh INSTUN di berbagai negara yang kerap mengalami bencana alam. Hal ini dilakukan pemerintah Malaysia untuk mengantisipasi bencana yang bisa datang tak terduga. UMY, menjadi pilihan untuk mengadakan kajian bersama tersebut di Indonesia. “Sebuah kebanggaan yang sangat besar bagi UMY atas kepercayaan yang diberikan untuk bekerjasama langsung dengan pihak Kerajaan Malaysia” terangnya.

Pada akhirnya Yordan mengharapkan, kerjasama seperti ini terus berlanjut demi hubungan baik Indonesia dan UMY secara khusus dengan Malaysia. “Ini merupakan aktififtas luar biasa demi perkembangan kualitas edukasi kedua negara. Sungguh mulia kiranya saat kita bersama-sama berupaya meminimalisasi permasalahan yang muncul akibat bencana alam di dunia”

Acara ini dibuka langsung oleh Dekan FH UMY Endrio Susilo, dan juga dihadiri pejabat INSTUN Mohammad Yusaimi Bin Mat Yusuf, serta Wakil Dekan AIKoL IIUM, Prof. Farid Sufian Suhaib. Selain berupa seminar, para peserta Colloquium juga dijadwalkan mengunjungi BPN DIY untuk meninjau langsung proses administrasi.