Pembelajaran Moral Religius Untuk Siswa Sekolah Dasar

Februari 4, 2013 oleh : BHP UMY

IMG_9767Metode pendidikan di Indonesia lebih cenderung berorientasi pada aspek knowledge yang bersifat hard skill di sisi pengembangan intellegence quotient (IQ), ketimbang aspek afektif yakni emotional intellegence (EQ) dan spiritual intellengence (SQ). Sehingga banyak guru mengukur tingkat kompetensi peserta didiknya berdasarkan nilai ujian. Fakta ini menjadi penyebab bahwa pendidikan agama dan moral di sekolah tidak memiliki korelasi terhadap  perubahan perilaku masyarakat Indonesia.

Demikian pernyataan Suroso dalam disertasinya berjudul “Pembelajaran Moral Religius Dalam mewujudkan Perilaku Takwa (Studi Kasus di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya)” yang telah dipertahankan dalam Sidang Promosi Doktor Program Doktor Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Sabtu (2/2).

Selanjutnya Suroso melalui disertasinya juga mengkritisi kelemahan pendidikan Indonesia, diantaranya pembelajaran moral religius yang dipahami secara teoritis tanpa implementasi pada perilaku dan sikap hidup yang baik terhadap Sang Pencipta maupun kepada sesama makhluk. “Kedua, lemahnya kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan pembelajaran moral religius di sekolah. Dan ketiga, adanya efek negatif dari globalisasi,” tuturnya.

Tim penguji ujian terbuka promosi doktor ini terdiri dari ketua Dr. Gunawan Budiyanto, M.P, Sekretaris Dr. Imamuddin Yuliadi, M.Si, dengan Anggota: Prof. Dr. Imam Bawani, M.A (Promotor I), Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag. (Promotor II), Prof. Dr. Siswanto Masruri, M.A., Prof. Dr. Usman Abubakar, M.A., Dr. Khoiruddin Bashori, M.Si., dan Dr. Muhammad Anis, M.A.

Melihat permasalahan yang terjadi tersebut, promovendus yang juga Ketua Yayasan Pendidikan Bina Insan Mulia Suarabaya ini, menjelaskan bahwa dirinya memilih siswa Sekolah Dasar sebagai objek penelitiannya karena tiga hal. Pertama, di samping sebagai guru SD yang sudah 30 tahun mengabdi dan mengetahui perilaku anak, jumlah anak sekolah yang terbesar adalah anak usia SD, dan anak usia SD merupakan pondasi awal untuk menanamkan pendidikan moral. “Selain itu, saya prihatin dengan anak-anak sekarang yang sudah mengenal media massa, karena mereka bisa berperilaku seperti orang dewasa,” jelas Kepala Sekolah SD Negeri Gubeng III Surabaya ini.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Suroso, temuan dari penelitian yang dilakukannya ini menunjukkan bahwa komitmen dari seluruh stakeholder merupakan modal awal keberhasilan yang tidak ternilai. “Pembelajaran moral religius yang dilakukan di SD Muhammadiyah 4 Pucang itu berbeda dari sekolah-sekolah lainnya. Pembiasaan mengaji, atau sekedar menyampaikan kisah-kisah Islami 30 menit sebelum pelajaran dimulai, shalat Dhuha, shalat jama’ah, dan berdo’a bersama di mushalla sebelum pulang, adalah strategi pembelajaran moral religius Islami yang dilakukan,” ujar Suroso. Selain itu, pembelajaran moral religius yang dilaksanakan secara optimal menurut Suroso, dapat membentuk perilaku yang terpuji, seperti jujur, pemurah, disiplin, mandiri, berjiwa pemaaf, mawas diri, bangga menjadi muslim, mengasihi yang lemah, menghargai orang lain, selalu bersyukur, selalu ingat pada Allah, jiwanya damai, tidak sombong, imannya kuat, dan Islamnya menjadi mantap.

Di akhir sidang, disertasi yang ditulis oleh Suroso yang pernah mendapat penghargaan sebagai kepala Sekolah Teladan pada tahun 2010 ini dinyatakan sebagai hasil disertasi yang sangat memuaskan, dengan IPK 3,65. Suroso merupakan lulusan keenam Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam, Program Pascasarjana UMY. (Sakie)