Pameran Seni Instalasi “Mereka Bukan Dewa” Kritik Korporasi Rokok

Desember 5, 2016 oleh : BHP UMY

img_0806

Seni Instalasi Art of Lives “Mereka Bukan Dewa” untuk pertama kalinya dipamerkan untuk publik di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta, pada Senin (5/12). Pameran yang sebelumnya dibuka di Hotel Sheraton Mustika pada 25 November ini adalah sebuah kritik terhadap praktik korporasi rokok yang berusaha menghegemoni pola pikir masyarakat luas untuk mengelu-elukan khasiat rokok dan kuasa korporasi rokok. Pameran yang dibuka untuk publik ini akan dilaksanakan selama seminggu sampai 9 Desember 2016.

Seni instalasi sendiri merupakan karya kreatif yang mengungkapkan apa yang menjadi keresahan publik. Menurut Eko Prasetyo, Ketua Social Movement Institute, dalam rilis yang diterima Biro Humas UMY, adanya seni instalasi atau seni publik tersebut didasarkan pada keprihatinan atas buasnya rokok dalam melumpuhkan kesadaran dan merusak kesehatan masyarakat. “Dari sinilah kemudian kami bersama sejumlah seniman meluncurkan lomba: seni publik untuk merawat Jogja agar kreatif dan sehat. Semangat yang mendasari ini tak lain adalah kebiasaan merokok yang sudah mengancam kesehatan warga, iklan rokok yang menjajah kesadaran dan nalar, serta korporasi rokok yang selalu berkampanye melindungi petani. Jelas propaganda palsu semacam ini sangat berbahaya dan menunjukkan betapa publik telah dijajah oleh pemikiran dan hasutan sesat,” jelas Eko.

Hal itulah menurut Eko yang menjadi dasar atas diselenggarakannya perlombaan tersebut. “Tujuan lomba ini selain untuk mengajak anak-anak muda kreatif dalam kampanye menolak budaya merokok, juga memberi informasi yang sebenarnya tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Bahwa korporasi rokok bukan beroperasi dengan niat baik, cara baik, dan sasaran yang baik,” ungkapnya lagi.
Tak hanya itu, imbuh Eko lagi, usaha mereka meracuni kesadaran berpikir dengan mengatakan bahwa rokok adalah tradisi, dan ada petani tembakau yang dilindungi di sana, juga bukan hal yang benar. “Lebih-lebih kami prihatin dengan sikap pemerintah yang tak kunjung meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC): sikap yang amat bertolak belakang dengan negara-negara maju lainnya. Maka, lomba yang diikuti oleh 20 gagasan ini bagi kami merupakan kesempatan untuk menyuarakan tuntutan yang lebih jelas, lugas, dan tanpa basa basi, yang kemudian dipilih 10 karya terbaik untuk dipamerkan di Ballroom Hotel Sheraton pada 25 November 2016,” imbuhnya.

Berbagai konsep dan pemikiran dituangkan dalam karya-karya tersebut. Salah satu karya instalasi memproyeksikan sebuah alat pelinting rokok tradisional. Dalam karya instalasi ini, bukan tembakau lagi yang dilinting bersama kertas pembungkus rokok. Akan tetapi, di sini yang dilinting adalah seorang petani. Untuk menambah kesan ekstrimnya, yang melinting adalah iblis, disimbolkan sebagai pihak yang mendapatkan untung atas jerih payah sang petani. Hampir kebanyakan, dari 10 karya instalasi yang telah jadi, memiliki narasi kritikan keras terhadap korporasi rokok yang terus menghisap dan mencincang para petani demi keuntungan mereka saja. Narasi yang tak kalah hebohnya, berisi kritikan pedas terhadap korporasi rokok yang menggerogoti akal sehat, mulai dari seniman, budayawan, olahragawan, intelektual, pemusik, serta pemangku kebijakan.

Adapun pemenang Lomba Seni Instalasi Publik ini adalah “Duri Kematian” karya Totok sebagai juara pertama. Kemudian, “Give Up” karya Rian Sayurlodeh sebagai juara kedua dan “Warung Akhirat” karya Surya Madhalika sebagai juara ketiga.

Secara keseluruhan agenda yang dilakukan bekerjasama dengan Komnas Pengendalian Tembakau dan Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) UMY ini ingin mengatakan bahwa, kalangan budayawan, seniman, dan pekerja kreatif harus kritis, berani, dan secara independen mau menyuarakan tuntutan yang sehat dan masuk akal pada korporasi rokok. Jangan biarkan jargon karya seni, kegiatan seni, dan ekspresi kreatif hanya bisa hidup bila ditopang oleh perusahaan rokok. “Kami ingin seniman menunjukkan posisinya sebagai manusia kreatif, independen, dan berani mengekspresikan tuntutanya dalam bentuk karya. Dalam agenda ini, kami juga ingin mengajak masyarakat untuk menikmati karya seni publik yang menggugah kesadaran, mengajak untuk terlibat dalam upaya penyadaran, dan mendorong gerakan untuk menolak ekspansi korporasi rokok pada semua ruang publik, karena rokok memang telah banyak terbukti meracuni masa depan dan merusak generasi,” tandas Eko.

Selain itu, Eko juga menyampaikan agar pemerintah daerah bisa membatasi iklan rokok, karena terbukti membawa akibat ganda: memperbanyak populasi para perokok dan mengkampanyekan kesadaran palsu yang selama ini jadi bahan kampanye di banyak ruang publik. “Kami selalu percaya akan ada lapisan sosial yang tak mudah dibohongi, ditipu, dan dimanipulasi oleh iklan, kampanye, serta anjuran sesat yang selama ini dipompakan berulang-ulang oleh perusahaan rokok. Melalui lomba ini, kami ingin membangun Jogja yang sehat warganya dan kreatif tiap penduduknya, tanpa melalui dukungan perusahaan rokok. Sebab kami meyakini bahwa kota tanpa asap rokok adalah kota yang layak untuk dihuni, dihidupkan dengan kegiatan pengetahuan, dan pasti dibangun oleh akal sehat. Niscaya, menurut kami kegiatan ini berjalan dengan lancar dengan kerja sama yang sangat progresif,” ujarnya.-