Optimis Indonesia Jadi Lumbung Padi Dunia 2045

April 16, 2018 oleh : BHP UMY

Rencana Indonesia akan menjadi lumbung padi dunia di tahun 2045 mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, termasuk dari para penggiat pertanian. Namun, masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dan dikembangkan. Hal tersebut disampaikan Prof Dr. Ir. Hasil Sembiring, M.Sc. selaku Peneliti dan ketua International Rice Research Institute (IRRI) Indonesia dalam acara Agrotech Fair 2018 dengan mengangkat tema “Mewujudkan Indonesia Sebagai Lumbung Padi Dunia, Idealis/Realistis” di gedung AR Fachruddin B lantai 5 Kampus Terpadu UMY pada hari Sabtu (14/4).

Dalam kesempatan kali ini pula, Prof Dr. Ir. Hasil Sembiring, M.Sc. yang sekaligus menjabat Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI menyampaikan pandangannya terkait dengan pewujudan Indonesia sebagai lumbung padi dunia. “Kalau memang dicanangkan demikian, kita kembalikan kepada diri kita masing-masing, bagaimana sikap kita terkait hal tersebut. Kemudian diperlukan dukungan dari setiap lini untuk mewujudkan hal tersebut. Selain itu, sikap optimis juga perlu dimiliki oleh jiwa muda, terkhusus para mahasiswa yang nantinya akan meneruskan perjuangan tersebut dengan ide dan gagasan yang lebih fresh untuk memajukan pertanian Indonesia pada umumnya,” tegasnya.

Sama halnya dengan apa yang disampaikan oleh Prof Hasil, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Dr. (HC) Siswono Yudo Husodo mengungapkan bila optimis harus dimiliki oleh para generasi muda. “Jika pesimis, maka nantinya anda akan gagal, maka bersikap optimis dalam menanggapi hal tersebut,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Indonesia sudah menjadi lumbung padi dunia, dengan berbagai macam varietas biji-bijian menjadi komoditas utama Indonesia dalam proses ekspor ke negara lainnya.

Berbagai pencapaian Indonesia dalam bidang pertanian, terkhusus pada produksi ekspor beberapa komoditi pertanian, juga menduduki peringkat yang baik. Indonesia menduduki peringkat pertama penghasil pala, minyak sawit, lada putih dan cengkeh. Sedangkan untuk komoditas biji-bijian, Indonesia menempati peringkat enam dunia. Untuk beras, Indonesia menempati peringkat tiga dunia. Namun, kembali Siswono menjelaskan, ada beberapa kekurangan yang dimiliki, dan menjadi sebuah hal utama dalam menanggapi sikap Indonesia menjadi lumbung padi di tahun 2045. Seperti masalah lahan yang sempit yang sekiranya dari tahun ke tahun masih perlu dicari titik temu.

Meskipun sama optimisnya dengan kedua pembicara, Rektor Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta, Dr Ir Gunawan Budiyanto, M.P. menganggap bahwa skenario yang dibuat sudah baik dan matang, namun masih ada yang kurang. “Optimis pasti akan terjadi, yang disayangkan adalah adanya skenario baik, namun produser dan pemainnya yang tidak ada,” ungkap Gunawan dalam menanggapi Indonesia sebagai lumbung padi dunia 2045.

Perlu diketahui bersama, lanjut Gunawan, bahwa banyak sektor yang dapat mempengaruhi rencana Indonesia dalam menjadi lumbung padi dunia. Tidak hanya cara, sarana prasarana yang penting. Namun hal tersebut juga perlu mendapatkan dukungan dari berbagai aspek. “Masih banyak lahan tidur yang dapat dikembangkan, reformasi agraria juga harus cepat dicanangkan untuk mendukung Indonesia sebagai lumbung padi Dunia 2045,” tutupnya. (Darel)