Muhammadiyah Di Tengah Arus Besar Bangsa

Mei 9, 2019 oleh : BHP UMY

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Konsolidasi Nasional yang dihadiri seluruh perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dari 34 provinsi di seluruh Indonesia pada, Rabu (8/3) di Aula Masjid K.H. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pada pertemuan ini terdapat beberapa poin yang disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Dr. H, M.Si tentang gerak keumatan dan kebangsaan modern.

Haedar mengatakan bahwa selepas reformasi muncul berbagai pemikiran yang tumbuh dan menyebar. Ini menjadi arus baru yang tidak bisa kita cegah. Sebagian mereka masuk ke organisasi arus utama, termasuk Muhammadiyah. “Di satu sisi, kita harus menjaga ukhuwah. Namun di sisi lain, bagaimana penguatan paham ke-Islaman dan nilai-nilai ideologis kita di tengah situasi ini perlu diperhatikan,” katanya.

Menurutnya, Pimpinan Muhammadiyah harus ada di tengah arus besar saat ini untuk tetap melakukan gerakan tajdid dan Muhammadiyah harus tetap menghadirkan Islam Wasatiyah.

Kemudian, ia juga membahas soal kualitas dan kuantitas jumlah anggota yang ada di berbagai tempat. Keberadaan anggota yang dimiliki oleh Muhammadiyah harus selalu dijaga dan diberdayakan. Hal ini dibutuhkan ketika kader-kader Muhammadiyah hendak terlibat pada ranah kebangsaan.

Haedar juga melihat kualitas amal usaha Muhammadiyah yang masih menunjukkan disparitas tinggi. AUM yang berkualitas mulai banyak, namun AUM yang berada di level menengah dan bawah juga masih banyak. Kekuatan Muhammadiyah, tumbuh berdiaspora dari bawah, namun kualitasnya harus dibangun dengan jejaring yang kuat dari samping dengan saling memberdayakan antar AUM. “Keseksamaan kita ke depan lebih penting,” ungkapnya.

Haedar juga menyikapi maraknya penggunaan media sosial sebagai wadah baru untuk menyampaikan pendapat dengan terbuka dan bebas. Untuk itu, ia menyerukan kepada kader Muhammadiyah untuk masuk pada ranah itu untuk melakukan tabligh. “Perlu ada rancang bangun dalam bidang dakwah komunitas ini, terutama komunitas virtual,” imbuhnya.

Pada akhir pidato, Ketum PP Muhammadiyah itu membahas tentang persoalan keumatan yang sedang terjadi belakangan ini. Ia berkata bahwa Muhammadiyah perlu menjadi solusi dari tumbuhnya semangat beragama dan gairah untuk menunjukkan identitas masing-masing. Semangat ini harus tetap dibingkai oleh Muhammadiyah.

Dalam menyikapi hasil pemilu, ungkap Haedar, Muhammadiyah harus menerima apapun hasilnya dengan lapang dada dan siap bekerjasama dengan siapapun yang terpilih secara konstitusional. Muhammadiyah harus menjadi kekuatan yang berjiwa besar untuk menjadi jembatan bagi semua golongan. Peran ini tidak mudah, namun harus diusahakan.

“Sekali konflik terjadi, susah untuk merekatkan kembali keutuhan. Muhammadiyah perlu menjadi contoh dalam merekat kebersamaan. Kita tidak bisa berdakwah, jika negeri ini terpecah belah,” tutup Haedar.(ak)