Minimnya Kepemimpinan Orang Tua Dalam Mendidik Anak – Anak Mengenai Unggah-Ungguh Basa dan Basa Semu Di Bantul.

Juni 27, 2014 oleh : BHP UMY

Gambaran masyarakat saat ini termasuk masyarakat suku Jawa, mengalami degradasi identitas diri sebagai manusia yang berbudaya. Tingkah laku manusia banyak yang menyimpang dari nilai budaya dan agama sehingga menghilangkan ciri-ciri manusia sebagai insan yang berbudaya dan beragama. Kondisi tersebut ditandai dengan munculnya berbagai tindakan anarkis, keadaan masyarakat yang patologis tersebut merupakan bentuk berkurangnya nilai-nilai luhur yang dibanggakan sebagai bangsa dan masyarakat Indonesia.

Sementara itu keluarga sebagai lembaga masyarakat yang paling kecil memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pendidikan pertama dan utama dari kedua orang tua. Sedangkan bahasa merupakan alat komunikasi untuk mengekpresikan pikiran, perasaan, dan kemauan. Bahasa merupakan pengetahuan abstrak yang dimiliki manusia pada semua budaya, dan digunakan sebagai alat komunikasi yang santun.

Sebaliknya, bahasa dapat menjadi salah satu indikator rusaknya masyarakat. Indikator itu adalah keadaan masyarakat yang sudah tidak beretika dalam berbahasa. Anak-anak sudah tidak mempunyai tatakrama atau unggah-ungguh basa ketika berbicara kepada orang yang lebih tua dan dihormati.

Keluarga Jawa merupakan salah satu masyrakat terkecil dari lembaga masyrakat di Indonesia dengan bahasa yang khas, ialah Bahasa Jawa. Bahasa Jawa memiliki keunikan tersendiri, utamanya memiliki tingkatan-tingkatan atau unggah-ungguh basa bagi pemakai dan penggunanya dengna memperhatikan umur, jabatan, pangkat, dan keturunan. Penggunaan Bahasa Jawa kian hari kian tidak efektif, sumber ketidakmampuan tersebut adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Contohnya ketika di rumah orang tua berbicara dengan anaknya kerap tidak pernah menggunakan Krama Lugu, Krama Inggil, dan Basa Semu. Menjadi wajar ketika anak-anak tidak mampu berkomunkasi dengan bahasa tersebut dengan baik. Di sisi lain anak-anak juga tidak menunjukkan unggah ungguh yang baik ketika berbicara dengan orang tua.

Dalam Desertasinya, Kusno Efendi salah satunya meneliti tentang bagaimana kepemimpinan orang tua mendidik anak dalam unggah ungguh  basa dan Basa Semu Di Lingkungan Masyarakat Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul. Salah satu penelitiannya menunjukkan Kepemimpinan orang tua mendidik anak belajar dan berbicara unggah unggu basa dan Basa Semu di lingkungan tersebut kurang aktif kurang berkualitas, dan tidak berhasil.