MGPS Terus Berkomitmen Wujudkan Perdamaian Dunia

Desember 11, 2014 oleh : BHP UMY

Seluruh peserta MGPS ketiga

Sekolah Perdamaian kerjasama antara Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan Perdana Global Peace Foundation (PGPF), Mahathir Global Peace School ketiga telah resmi ditutup, pada Rabu sore (10/12). Berbagai pemikiran dan karya ilmiah dari para pembicara ahli serta 40 partisipan dari berbagai negara dalam kegiatan ini diharapkan mampu diimplementasikan untuk masing-masing negara, khususnya dalam penanganan konflik dan menciptakan perdamaian.

Ketua PGPF, Tan Sri Norian Mai, saat memberikan sambutannya dalam acara Closing Ceremony The 3rd Mahathir Global Peace School “Migration, Border & Global Peace”, di ruang sidang Gedung AR. Fachruddin A kampus terpadu UMY, Rabu siang (10/12) mengatakan, kegiatan MGPS itu bukan hanya kegiatan yang dijalani oleh beberapa orang untuk mendapatkan ilmu atau pengetahuan baru. Namun lebih dari itu, MGPS bertujuan untuk membangun pemikiran yang sama dari para partisipannya dalam menciptakan perdamaian di masing-masing negara. “Kita juga ingin melihat, bagaimana implementasi perdamaian di masing-masing negara asal kita. Karena jika kita hanya fokus pada masalah perang tanpa memikirkan solusi untuk menciptakan perdamaian, tanpa solusi bersama maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Sebab peperangan itu tidak sepenuhnya benar,” ungkapnya.

Oleh sebab itulah Tan Sri Norian Mai mengajak semua orang yang peduli akan perdamaian dunia harus cepat bertindak untuk menciptakan perdamaian tersebut. Salah satu caranya adalah melalui kegiatan seperti MGPS. “Kita harus bertindak untuk menciptakan perdamaian. Banyak yang membahas tentang perdamaian, tapi masih sedikit yang membahas dan melihat bagaimana perdamaian dunia yang sebenarnya. Karena itulah melalui MGPS ini kami berharap, ide-ide yang dihasilkan dari kegiatan ini dapat memberikan kontribusi nyata untuk perdamaian dunia,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Hilman Latief, Ph.D selaku ketua scientific committee MGPS. Menurut Hilman, kegiatan MGPS merupakan salah satu kepedulian para kalangan akademisi, mahasiswa, serta pemerintah dari berbagai negara, pada dunia. “Ini adalah salah satu bentuk kepedulian kita akan mimpi kita untuk menciptakan perdamaian dunia. Dan kami berharap, kegiatan serta ide-ide yang dihasilkan dalam kegiatan ini bisa bermanfaat bagi masa depan kita dan dunia,” tuturnya.

Namun, menurut Hilman, sekolah perdamaian atau MGPS itu bukanlah kegiatan akhir dalam upaya ikut menciptakan perdamaian di dunia. Sebab masih akan ada tugas-tugas lainnya di masa yang akan datang setelah MGPS tersebut. “Ini bukan kegiatan terakhir kita. Masih ada tugas lagi di masa yang akan datang setelah MGPS ini. Karena itu, ceritakan pada semua orang di negara-negara asal kita, untuk menjadi agen perdamaian di mana pun mereka berada. Dan dengan begitu, perdamaian dunia yang kita impikan itu akan terwujud,” paparnya.

Dalam acara penutupan MGPS ke‚Äčtiga ini, seluruh partisipan yang berasal dari 12 negara diantaranya Jerman, Australia, Thailand, Kenya, Kamboja, Tiongkok, Filipina, Sudan, Palestina, Turki, Malaysia dan Indonesia mendapatkan penghargaan dan sertifikat sebagai alumni MGPS ketiga. Adapun MGPS yang akan menjadi agenda tahunan ini akan dilaksanakan kembali pada tahun 2015, dan rencananya akan bertempat di Bangkok, Thailand.

Acara MGPS ketiga yang diselenggarakan selama 10 hari sejak 1 hingga 10 Desember 2014 ini, juga mendatangkan “the Father of Peace Studies”, Prof. Dr. Johan Galtung, sebagai salah satu pembicara ahli. Pada kesempatannya saat menyampaikan materi dalam sesi kelas MGPS, Jum’at (5/12) ia menyampaikan sebuah metode baru dalam mengatasi dan menganalisa konflik, yakni dengan menggunakan “segitiga konflik dan garis waktu”. Metode ini merupakan tehnik menceritakan perkembangan konflik yang terjadi, serta melihat konflik dari berbagai sisi, baik itu dari sisi Direct Violence (kekerasan langsung), Cultural Violence (kekerasan kultural), dan Structural Violence (kekerasan struktural). Sebab menurutnya, segala kemungkinan itu bisa menjadi awal pemicu terjadinya konflik.