Metode Pengajaran Konvensional sebabkan siswa kurang berpikir kritis

Selama ini metode pengajaran yang diberikan seorang dosen maupun guru masih menggunakan pendekatan konvensional dengan metode pengajaran repetisi atau  pengulangan. Metode ini alhasil menyebabkan pendidikan dan penguasaan materi yang diajarkan kurang maksimal dan siswa juga kurang bisa berfikir kritis.

Demikian disampaikan Kepala Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Endro Dwi Hatmanto, M.A. dalam seminar ‘Penguasaan Teori Konstruktivisme dalam Metode Pengajaran untuk Guru dan Dosen’ di Kampus Terpadu UMY Selasa (25/1).

Lebih lanjut Endro menjelaskan metode konvensional yang dimaksud adalah metode dimana guru tidak melakukan penyaluran pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi lebih kepada repetisi atau pengulangan. “Otak siswa diminta untuk menghafal tetapi bukan menganalisis secara kritis,”urainya.

Dalam penuturan Endro metode pengajaran konvensional memosisikan guru sebagai pemilik ilmu atau otoritas pengetahuan. “Guru dianggap sebagai orang yang memberi ilmu atau pengetahuan. Sedangkan siswa menjadi obyek pasif, hanya sebagai penerima ilmu sehingga siswa menjadi tidak kritis.”jelasnya.

Kelemahan metode konvensional yang lain dipaparkan Endro, pada konteks pengetahuan, ilmu yang diberikan juga bersifat sudah baku. “Biasanya dituangkan dalam buku teks dan materinya hanya itu-itu saja. Metode pengajarannya hanya seputar listening atau mendengarkan, mencatat dan menghafal teks. Pada saat assessment atau penilaian biasanya hanya melalui ujian dengan soal pilihan ganda. Oleh karenanya, siswa tidak memiliki kebebasaan untuk menuangkan pikirannya terkait soal yang diberikan. Serta tidak ada metode penilaian yang lain.”ungkapnya.

Untuk itu, Endro menegaskan perlunya metode pengajaran konstruktivisme. Ia menjelaskan metode konstruktivisme yang menitikberatkan pada peranan aktivitas dan pengalaman pembelajaran dalam membentuk proses pembelajaran.

“Metode pengajaran konstruktivisme memandang siswa sebagai agen knowledge schemata atau aset pengetahuan yang harus dikembangkan. Sehingga guru akan berperan sebagai fasilitator yang akan mendorong siswa untuk lebih interaktif dalam system pengajaran.”tuturnya.

Endro menambahkan hal ini akan mendorong guru atau dosen untuk memberikan metode pengajaran transfer of knowledge. “Memberikan pengajaran learning by doing atau  belajar dengan melakukan. Sehingga siswa akan menjadi manusia kritis, reflektif, inventif atau produktif,”tegasnya.

Endro menegaskan metode konvensional atau tradisional menempatkan siswa hanya sebagai penerima. “Kemudian terjadi pembelajaran dengan subyek aktif. Tetapi dalam metode konstruktivisme siswa atau mahasiswa dapat berfikir aktif. Di dalamnya metode penilaiannya melalui banyak sumber tidak hanya melalui ujian. Bisa melalui observasi yang dilakukan siswa, kegiatan-kegiatan di kelas. Penilaian tidak hanya berdasarkan hasil tetapi juga proses.”paparnya.

Kelebihan metode konstruktivisme membuat siswa dan mahasiswa mampu mengungkapkan pertanyaan, menyelesaikan persoalan, serta berfikir kritis. “Sedangkan untuk dosen dan guru akan membuatnya memberikan pengajaran, menulis, dan berbicara secara konstruktif,”tandasnya.

© 2013 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta | Created by Biro Sistem Informasi UMY | About the site