Menelisik Fenomena Bayi Parasit

Oktober 2, 2013 oleh : BHP UMY

bayi ginan

KOMPAS.com/PUTRA PRIMA PERDANA

Kelahiran bayi kembar merupakan proses kelahiran normal, akan tetapi lahirnya bayi berjenis kelamin laki-laki bernama Ginan Septian Nugraha di Bandung menarik banyak perhatian karena kelahiran bayi tersebut disertai  fenomena bayi parasit. Bayi Ginan yang lahir dengan dua jenis kelamin dan tiga kaki ini amat jarang terjadi sehingga juga mendapat perhatian khusus dari Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Sebelum membahas bayi Ginan, ada banyak fenomena kelahiran bayi kembar. Pertama fenomena kelahiran bayi parasit atau dalam istilah kedokteran disebut conjoined parasitic,  menurut dosen spesialis kandungan FKIK UMY dr. Supriyatiningsih, M. Kes, Sp. OG kasus ini merupakan perisiwa yang langka di dunia, terjadi 1: 400 dalam persalinan, Sedangkan persalinan bayi dempet sekitar 1: 5000 dalam persalinan hidup.

Selain itu, peristiwa bayi kembar terbagi dalam dua typedizygotedan monozygoteDizygote yaitu proses yang biasa terjadi dalam persalinan atau lahirnya bayi. Sedangkan monozygote merupakan proses bergabungnya satu sperma, satu telur, satu selaput pemisah dan terlambat berpisah. Pada kehamilan normal cabang bayi yang terdiri dari satu telur, sperma dan selaput pemisah. Proses pemisahan cabang normal terjadi 72 jam atau 2 sampai 8 hari setelah pembuahan.  “Sedangkan pada bayi parasit pemisahan cabang terjadi terlambat sekitar 12 hari setelah pembuahan. Inilah yang menyebabkan bayi parasit,” jelas dosen FKIK UMY ini di AMC UMY, Senin (30/9).

Fenomena kedua yakni peristiwa bayi kembar dempet atau disebut juga conjunction twins ada dalam pembuahan type monozygote, sedangkan monozygo teterbagi menjadi dua bentuk, yaitu simetris conjunction twins dan asimetris conjunction twinsSimetris conjunction twins yaitu janin yang kembar dan berhasil selamat, bentuk ini terbagai dalam 8 type, kembar yang berdempet di dada, perut dan lainnya. Sedangkan bentuk asimetris conjunction twins, merupakan proses pembuahan yang salah satu janinnya gagal berkembang. Akan tetapi janin tersebut dekat dengan proses fusi di janin yang lain. Sehingga bayi yang lahir nantinya disebut bayi parasit, atau disebut juga incomplet conjunction twins, ilmuan kedokteran juga menyebutnya  sebagai vetus in veto.

“Kasus di Bandung tersebut adalah type incomplet conjunction twins (vetus in veto). Yakni janin yang gagal menumpang atau kita sebut parasit, bergantung pada cabang yang berkembang. Memang bentuknya aneh, tapi bayi parasit bukan monster yang harus ditakuti, dia juga manusia seperti kita. Kan banyak orang tuyang bilang mengerikan,” jelas dokter yang biasa disapa dr. Upi ini.

Dokter spesialis kandungan UMY ini juga menerangkan bahwa peristiwa bayi parasit banyak diderita oleh orang Afrika. Peristiwa bayi parasit ini kebanyakan meninggal di dalam rahim, jika dipersentasekan sekitar 28 persen, sedangkan yang bertahan hidup hanya sekitar 20 persen. Peristwa bayi parasit ini juga dominan berjenis kelamin perempuan dibanding laki- laki, perbandingannya sekitar 3:1 dari peristiwa incomplet conjunction twins. Faktor yang sangat berpengaruh dalam peristiwa bayi parasit ini adalah nutrisi untuk ibu hamil (suplementasi asam folat). Selain itu faktor lingkungan yang terkontaminasi serta usia pembuahan yang terlambat pada perempuan, namun usia pembuahan terlambat pada perempuan lebih sering menghasilkan bayi kembar bukan parasit.

“Ini untuk menjadi perhatian juga ya bagi ibu hamil, harus cukup asupannya dan menjauhi lingkungan yang terkontaminasi atau kurang oksigen . Selain  itu peristiwa bayi parasit ini biasa  terjadi pada keluarga ekonomi yang di bawah rata- rata. Apalagi asupan nutrisi atau gizi semakin mahal, terutama di negara kita Indonesia,” terang dr. Upi. (syah)