Media Online Pesaing Baru Jurnalis Media Cetak

Mei 21, 2014 oleh : BHP UMY

Persaingan media massa saat ini semakin jelas terlihat, khususnya antara media massa cetak dan online. Para jurnalis dari media massa cetak pun memiliki pesaing baru di tingkat media massa online. Sebab kecepatan berita yang disajikan oleh media online jauh lebih cepat dibandingkan media cetak. Dan hal tersebut tentu saja membuat para jurnalis media cetak harus bisa secepat dan setangkas mungkin mencari informasi yang jauh lebih lengkap daripada jurnalis online.

Demikian pemaparan Yani Ardiansyah, Direktur Koran Sindo Pusat. Hal itulah menurutnya yang kemudian menjadi persaingan baru bagi para jurnalis dalam mencari informasi. Ia memaparkannya di hadapan mahasiswa UMY saat menjadi narasumber dalam acara Seminar Jurnalistik 2.0 (two poin O) Era di ruang sidang utama gedung AR. Fakhruddin A lantai 5, Kampus Terpadu UMY, Rabu (21/5). Acara ini juga merupakan kerjasama antara Koran Sindo dengan Biro Humas dan Protokol UMY.

Yani juga mengatakan bahwa semakin meningkatnya teknologi, semua orang bisa menjadi jurnalis. Dari sanalah kemudian lahir jurnalisme warga atau yang biasa disebut sebagai citizen journaslism​. “Citizen journalism itu lahir dari tuntutan masyarakat. Sehingga biasanya mereka memanfaatkan media sosial untuk memberikan informasi terkini pada masyarakat. Karena itu, saat ini semua orang bisa mendapatkan berita dari mana saja,” ujarnya.

Namun, berita yang ada di media cetak dan media online tentunya memiliki perbedaan, terutama dari segi nilai beritanya. “Berita dalam media online terlebih media sosial itu tidak dapat diukur nilai beritanya, sedangkan berita dalam media cetak dapat diukur nilai beritanya. Selain itu, berita yang dicantumkan dalam media online belum ada peraturan dan koridor-koridor yang harus diikuti. Padahal, sebelum kita menampilkan berita kita harus menimbang nilai berita yang ada, sehingga kita dapat menyesuaikannya dengan pembaca,” imbuh Yani lagi.

Di sisi lain, Hanna Farhana selaku Redaktur Pelaksana Koran Sindo juga mengatakan bahwa memang pada kenyataannya saat ini ada orang yang mengatakan bahwa media cetak sekarang sedang berada di usia senja. “Hal ini memang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa merebaknya media sosial saat ini sedikit memberi dampak juga kepada media cetak,” tuturnya.

Namun Hanna masih optimis jika hal ini tidak akan terjadi di Indonesia. Sebab saat ini orang masih percaya kepada media cetak, dimana orang Indonesia masih percaya mengiklankan produk atau jasanya melalui media cetak bukan media online. “Dulu ketika kuliah, dosen saya pernah bilang bahwa Tuhannya media itu adalah pengiklan, jadi jika masih banyak orang yang percaya mengiklankan produknya melalui media cetak maka media cetak akan sulit dipunahkan,” jelasnya tegas.​

Dalam seminar ini juga dijelaskan bahwa di dunia jurnalistik kita pasti mengenal istilah 1.0 (one poin O) Era dan 2.0 Era. Istilah ini bukan hal baru lagi namun, semenjak berkembangannya dunia internet istilah 2.0 Era semakin berkembang. “1.0 Era sendiri lebih kepada media konvensional seperti media cetak sehingga pembaca hanya sebagai konsumen saja, sedangkan 2.0 Era lebih kepada media internet, disini peran pembaca berbeda. Dimana pembaca bukan hanya menjadi pembaca saja namun dapat memberi komentar terhadap pemberitaan tersebut serta meng-upload berita sehingga ada proses feedback disana,” jelas Yani.