Media Massa dan Perannya Dalam Aspek Kehidupan

Januari 19, 2011 oleh : BHP UMY

Seseorang, terutama civitas akademika harus memiliki keterampilan menulis karena aktivitas ini bermanfaat bagi diri sendiri dan publik, termasuk memberikan nilai lebih bagi institusi. Media massa pun penting bagi kehidupan politik, ekonomi, dan sosial mengingat media ini mampu membentuk opini publik.

Demikian disampaikan Pemred SKH Kedaulatan Rakyat, Octo Lampito dalam Sarasehan Pesona Karya Ilmiah civitas akademika di mata pers, di Kampus Terpadu, Rabu (19/1). Sarasehan yang digagas Lembaga Pengembangan Pendidikan, Penelitian, dan Masyarakat-  Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3M UMY) tersebut juga dihadiri dari tokoh TVRI dan RRI Yogyakarta.

Menurut Octo, seseorang harus menulis karena hal tersebut menjadi kekhasan gagasan untuk menjadi produktif. “Dengan menulis, seseorang akan memberikan perubahan lebih baik yang bermanfaat tak hanya untuk dirinya, namun juga masyarakat karena mampu meyumbangkan pikiran serta informasi,” terangnya.

Ia juga memaparkan berdasarkan survey LSI, media massa mendapatkan kepercayaan masyarakat tertinggi karena dinilai paling bisa menyuarakan keinginan rakyat (30%). Keyakinan pada kemampuan partai dalam menyuarakan kepentingan rakyat jauh lebih sedikit (11%) dibanding keyakinan mereka pada media massa dan ormas. Sementara itu, survey tersebut juga menunjukkan jika TV merupakan lembaga yang bekerja paling sesuai dengan perannya (76,5%) dan disusul dengan Koran (72%).

Octo mengungkapkan jika media massa menjadi penting dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial karena media mampu melewati batas apapun, baik umur, jenis kelamin, social ekonomi, demografis, dan psikografis. Media massa juga mampu melipatgandakan pesan (multiplier of message). “Pesan tersebut bisa berkali-kali diwacanakan dalam media, baik dalam bentuk tulisan atau penyiaran sehingga mampu membentuk opini publik,” terangnya.

Ia menambahkan media punya agenda setting yang bisa diwacanakan, sesuai dengan news room dan kebijakan redaksional. “Media juga menjadi rantai informasi yang mana suatu peristiwa terus diwacanakan oleh banyak media. Hal ini akan menambah kekuatan pada publik, yang pada gilirannya membentuk opini public,” jelas Octo.

Namun, Octo menguraikan jika beberapa penulis masih memiliki kelemahan dalam mengungkapkan gagasannya melalui tulisan. Beberapa kelemahan tersebut diantaranya masih banyak penulis yang belum kritis melihat permasalahan sehingga bahasa terlalu datar dan data tidak lengkap. “Kurang cepatnya melihat sesuatu dengan pengamatan akademis, termasuk wawasan yang kurang tajam juga menjadi kendala bagi penulis. Jika ada tulisan seperti ini, maka masyarakat sekadar membaca sebuah uraian,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberitaan TVRI Yogyakarta yang juga hadir dalam sarasehan tersebut, Bambang Satmoko, mengatakan jika para akademisi diharapkan tidak hanya pandai menulis, namun juga mengekspresikan ide. “Jangan grogi di depan kamera saat ada dialog publik sehingga pembawaan ini akan mempengaruhi penonton,” ujarnya.