Media dan Teroris “Saling Menguntungkan”

Oktober 28, 2016 oleh : BHP UMY

img_1879

Kemajuan teknologi informasi modern dan internet, membawa manfaat tersendiri bagi banyak orang. Namun tidak sedikit pula yang justru memanfaatkan kemajuan tekonologi dan internet tersebut untuk hal-hal yang negatif, seperti teroris. Melalui kemajuan IT dan internet tersebut, teroris secara tidak langsung mendapatkan perhatian publik yang hanya didapatkan melalui media mainstream, tetapi juga media baru.

Bahkan, teroris menggunakan Internet sebagai alat baik untuk mendapatkan massa maupun untuk menyebarkan informasi. Munculnya dan meningkatnya penggunaan Internet telah memungkinkan transformasi pada cara teroris berkomunikasi dengan lawan mereka dan menyebarkan ide-ide mereka kepada khalayak umum. Tentu saja hal ini membuat penyebaran ide mereka menjadi lebih cepat dan tepat sasaran.

Hal ini disampaikan oleh Keynote Speaker Mahmoud Eid, Ph.D dari University of Ottawa, Canada dalam acara Asian Conference of Media and Communication (ACMC) 2016 di Gedung Pascasarjana Ruang Sidang Amphiteater lantai 4 Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis sore (27/10). Dalam pemaparannya, Mahmoud juga memperkenalkan istilah “Terorredia” dalam risetnya, yang dia presentasikan dengan judul “Terroredia and Public Relations: New Media Technologies for Terrorism and Counterterorrism”. “Terroredia merujuk pada hubungan antara teroris dan media yang dijelaskan dalam beberapa hal, terutama bahwa hubungan itu berupa simbiosis yang saling menguntungkan atau saling ketergantungan,” ungkapnya.

Mahmoud menambahkan bahwa kedua belah (antara terorism dan media) menyasar khalayak luas (meskipun untuk tujuan yang berbeda). Oleh karena itu, mereka berinteraksi dalam hubungan sangat beracun yang melibatkan proses pertukaran yang diperlukan untuk kelangsungan hidup masing-masing. “Proses pertukaran kontribusi untuk kelangsungan hidup masing-masing pihak; aksi terorisme memberikan cerita bagi media yang menghasilkan siaran pers, berita cetak, dan berita online, sedangkan media membawa perhatian publik terhadap terorisme yang diperlukan untuk keberadaan mereka,” tambahnya.

Menurutnya, Terroredia saat ini perlu dikaji secara berlanjut. Pasalnya tidak menutup kemungkinan terorredia ini menimbulkan jenis baru bentuk terorisme. “Terroredia dapat melahirkan terorisme jenis baru, dan mungkin saja penggunaan taktik baru ini dapat menyebabkan kerusakan yang luar biasa. Misalnya di era sekarang seperti Cyber-terrorism. Cyber-Terrorism merupakan contoh dari taktik terorisme modern yang dapat menyebabkan kerugian besar di berbagai bidang industri,”paparnya.

Sebelumnya acara ACMC ini dibuka resmi oleh presidennya, Azman Azwan Azmawati dari Malaysia. Dalam sambutannya dia berharap semua elemen bersatu menciptakan suasana konferensi yang produktif dan informatif. “Kami dalam ACMC percaya konferensi ini merupakan sarana yang menguntungkan untuk para peneliti dan praktisi. Kita berkomitmen untuk menyediakan lingkungan yang mendukung untuk mengolah ide dan saling bertukar pikiran diantara peneliti, praktisi dan mahasiswa. Terima kasih kepada para peserta delegasi yang kontribusi dan partisipasinya membuat lingkungan yang membangun dalam konferensi ini. Saya harap peserta dapat membangun konferensi yang produktif, informatif, dan berharga,”tambahnya. (bagas)