Masyarakat Indonesia Perlu Tumbuhkan Jiwa Bahari

September 21, 2015 oleh : BHP UMY

Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah dengan memiliki luas pantai kurang lebih 81 ribu km. Selain itu, luas pantai serta kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia, 37 persen diantaranya termasuk kekayaan dunia, khususnya dari spesies ikannya. Ikan di Indonesia pun telah diakui sebagai ikan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun hingga kini belum dapat dioptimalkan oleh pemerintah Indonesia. Terlebih Indonesia yang kaya sumber daya alam dan manusia, akan tetapi masih minim budaya bahari dalam jiwa masyarakat Indonesia. Karena itulah, budaya bahari ini sangat penting ditumbuhkan dalam jiwa masyarakat Indonesia.

Demikian pemaparan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, GKR Hemas saat memberikan sambutan dalam acara diskusi buku karya budayawan Radhar Panca Dahana di Gedung Mini Teater Pusat Pelatihan Bahasa (PPB) Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (19/09). Dalam diskusi tersebut yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMY, selain mengundang Wakil Ketua DPD RI sebagai pengantar materi serta penulis buku “Agama Dalam Kearifan Bahari”, Radhar Panca Dahana, BEM KM juga turut mengundang Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, M. Jadul Maula, serta Dr. Muhammad Azhari.

Menurut GKR Hemas, isu atau tema bahari adalah isu yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Isu ini merujuk pada budaya yang berdasarkan kearifan lokal di Indonesia. Karena secara alamiah masyarakat Indonesia ditakdirkan sebagai bangsa bahari. Sedangkan respon keilmuan masih sangat minim. “Karena itu, diskusi semacam ini menjadi sangat penting bagi kita, untuk menumbuhkan jiwa bahari dalam diri kita. Selain itu, kita juga akan tahu bagaimana menjadi manusia yang bahari,” jelasnya.

GKR Hemas juga menambahkan, jiwa bahari tersebut juga menyangkut hal-hal lainya seperti pancasila, undang-undang, kebinekaan bahkan juga dalam masalah agama. “Kalau berbicara agama dalam kearifan bahari, merujuk pada pemikiran Radhar sebagai penulis buku “Agama Dalam Kearifan Bahari”, agama itu memperlihatkan garis yang jelas akan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan. Sementara dari sisi pancasila, pancasila sendiri akhir-akhir ini rupanya telah ditinggalkan oleh bangsa Indonesia itu sendiri,” imbuhnya.

Pancasila, lanjut GKR Hemas lagi, apabila dibicarakan kepada masyarakat luas, khususnya mahasiswa pasti yang akan terlintas dalam pikiran mereka adalag tentang pasal-pasal. Dan hal itu akan membuat jenuh mereka. Akibatnya, masyarakat akan dengan mudahnya meninggalkan apa-apa yang bisa menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, serta jauh dari realitas kehidupan berbangsa yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. “Oleh karena itu, dengan menggandeng Radhar Panca sebagai seorang budayawan, mahasiswa tidak hanya memahami undang-undangnya saja. Tapi juga bisa memotret kondisi secara obyektif dan bisa mengaplikasikan nilai-nilai pancasila itu sendiri. Aplikasi dari nilai-nilai pancasila ini tentunya juga dapat menjadi salah satu cara bagi generasi muda untuk menumbuhkan jiwa baharinya,” papar GKR Hemas lagi.

GKR Hemas juga berharap, dengan adanya diskusi buku tersebut, akan mengulas lebih banyak lagi bagaimana manusia Indonesia menjadi manusia bahari. “Ini menjadi penting, saya berharap bapak Radhar dapat mencerahkan kaum muda bangsa ini, dalam memahami kebijakan bukan hanya sekedar untuk kepentingan pribadinya, lingkungannya, tetapi ini menjadi satu masa depan yang harus dimulai dari Yogya untuk Indonesia,” ungkapnya.

“Mahasiswa di sini juga bukan hanya mahasiswa Jogja, saya berharap setelah para mahasiswa di sini menuntut ilmu di Jogja, kembalilah membangun daerah. Ini sangat penting, saya keliling Indonesia sangat sedih ketika berkunjung ke pulau Natuna. Hal ini karena gas alam Indonesia yang terbesar 3 dunia, ternyata Indonesia masih kekurangan listrik, air, gas, bahan bakar, karena kita semua tidak berani membangun daerah kita sendiri. jadi itulah yang menjadi pesan saya karena selalu keliling diluar jawa sangat sangat membutuhkan tenaga dan pikiran. Ini dapat membangun Indonesia untuk maju masa depan bangsa,” tutup Hemas

Sementara itu, bentuk keprihatinan atas kondisi Indonesia juga dirasakan oleh Presiden Mahasiswa UMY, Zainuddin Arsyad saat mengisi sambutan di acara tersebut. “Apabila berbicara mengenai budaya, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan suku, ras, agama, dan budaya hingga memiliki kelimpahan sumberdaya alam sampai Indonesia dikatakan sebagai miniatur dunia, namun bangsa kita masih dengan mudahnya digrogoti oleh bangsa lain,” ungkapnya.

Supaya negeri kita ini tidak terjajah dengan bangsa lain, Zainuddin menambahkan ketika kita tidak bermoral, tidak memiliki ilmu yang banyak, tidak memiliki pendidikan yang bagus, maka bangsa kita akan lebih mudah direbut kekayaan alam dan budaya bangsa kita. “Kalau bukan kita yang menjaga, lantas siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Lantas mulailah untuk berpikir untuk menanamkan nilai-nilai ketuhanan dalam diri kita. Tanamkan nilai-nilai UUD 1945, serta nilai-nilai Pancasila yang semua sila-silanya wajib tertanam nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa,” tegasnya.

(hevi) wp-image-15124″ />