Masyarakat Harus Paham Bahwa Islam di Nusantara adalah Islam Kosmopolitan

Desember 21, 2016 oleh : BHP UMY

Pada banyak buku yang ditulis oleh kalangan Orientalis tentang Islam menjelaskan bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang radikal. Penulis dari kalangan Orientalis tersebut selalu mengkaitkan Muslim di Nusantara dengan terorisme dan konflik. Padahal sejatinya, Islam di Nusantara merupakan Islam yang Kosmopolitan.

Assoc. Prof. Khairudin AlJunied, dosen National University of Singapore, dalam Peluncuran Buku “Reformisme Islam di Nusantara” dan “Muslim Cosmopolitanism: Southeast Asian Islam in Comparative Politics” menyampaikan bahwa umat Islam masa kini lebih memikirkan kelompok mereka sendiri saja, daripada berfikiran secara universal. Pada forum yang diselenggarakan di Amphiteater Pascasarjana Kampus Terpadu UMY lantai 4 pada Rabu (21/12) tersebut, Khairudin menjelaskan ada beberapa masalah yang saat ini tengah dihadapi oleh Muslim Nusantara.

“Pertama ialah para pengkaji Islam di Nusantara hanya menggunakan kacamata empiris dalam menjelaskan permasalahan yang dihadapi muslim saat ini. Mereka belum memandang Islam secara teoritis dan konseptual. Ide-ide mereka hanya cocok digunakan untuk Indonesia saja, belum secara universal,” jelas penulis buku Reformisme Islam di Nusantara tersebut.

Permasalahan kedua, disebut dosen NUS tersebut terkait permasalahan madzhab. Khairudin menilai pemikiran pengikut suatu kelompok Islam selalu membenarkan ajaran yang mereka ikuti, namun menutup fikiran tentang ide yang digagaskan dari kelompok Islam lainnya. “Padahal seharusnya kita sebagai Muslim harus dapat menerima pemikiran dari berbagai kalangan. Ibaratnya adalah Ideas are tools, you use it when you need it, and you put it when you don’t (pemikiran bagaikan alat yang digunakan saat dibutuhkan, namun diletakkan bila tidak),” jelas Khairudin.

Menjadi Islam yang Kosmopolitan dinilai penting oleh Khairudin karena dengan begitu umat Muslim tidak akan tertinggal dari dunia luar. Islam di Nusantara harus mampu untuk lebih membuka diri dan tidak hanya fokus pada urusan suatu kelompok saja.

Sementara itu, dosen Ilmu Pemerintahan UMY, Rahmawati Husein, MCP, Ph.D., mengapresiasi buku yang telah diluncurkan oleh Khairudin tersebut. Ia mengungkapkan bahwa buku yang ditulis Khairudin berbeda dari buku yang ditulis oleh kebanyakan orang karena dalam bukunya, Khairudin banyak menyebutkan hal-hal kecil yang mampu membuktikan Muslim Nusantara sebagai Muslim Kosmopolitan.

“Lingkungan Islam di Indonesia pada dasarnya juga sudah Kosmopolitan. Buktinya kita mampu hidup berdampingan dengan warga non-Muslim secara baik. Contohnya adalah Muslim yang masih mau membeli barang-barang atau bahkan kulakan dari pedagang China. Kalau kita radikal, pasti kita sudah memboikot pasar-pasar yang dominan penjualnya adalah kaum Tionghoa, tetapi kita tidak,” ujar Rahma.

Rahmawati juga mengkaitkan Islam yang Kosmopolitan dengan Muhammadiyah. Muhammadiyah disebut Rahma sudah membuka diri ke dunia universal. Hal tersebut ditunjukkan dengan event-event internasional yang sudah banyak digagas oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah. “Seperti contohnya bapak Din Syamsuddin yang menggagas World Peace Forum, kemudian MDMC yang memberikan bantuan terhadap bencana di negara-negara lain seperti Nepal, Palestina dan lain-lain. Dengan begitu, Muhammadiyah sudah menjalankan konsep hidup Muslim yang Kosmopolitan,” tutup Rahma. (deansa)

Sharing is caring!