Masalah Timur Tengah Adalah Masalah Bersama

September 18, 2015 oleh : BHP UMY

Permasalahan dan konflik berkelanjutan yang terjadi di negara-negara di kawasan Timur Tengah bukan saja menjadi permasalahan dari negara yang bersangkutan. Bahkan konflik dan masalah yang terjadi di negara-negara tersebut tidak seharusnya pula hanya mendapat perhatian kecil dari negara-negara lainnya. Karena konflik dan masalah yang terjadi di negara-negara Timur Tengah tersebut juga merupakan masalah bersama masyarakat dunia.

Hal tersebut diungkapkan Sekjen PP Muhammadiyah, Dr. H. Abdul Mu’ti saat menjadi pembicara dalam sesi Kuliah Umum pada rangkaian acara Mahathir Global Peace School (MGPS) keempat di Putrajaya International Convention Center, pada Selasa (15/9). Menurutnya, jika berbicara tentang masyarakat dunia, maka segala permasalahan dan konflik yang terjadi di negara lain adalah masalah bersama. Sekalipun sebenarnya seseorang itu tidak bisa melepaskan identitas negaranya, namun seseorang tetap menjadi bagian dari masyarakat dunia. “Kita memang harus menjaga identitas negara kita sendiri. Tapi kita ini juga termasuk dalam bagian masyarakat dunia. Untuk itulah masalah dan konflik yang terjadi di negara lain itu juga harus menjadi masalah kita bersama. Dan kita pun harus ikut membantu mereka dalam menyelesaikan masalah dan konflik yang terjadi,” paparnya.

Mu’ti juga menyampaikan, bahwa masyarakat dunia itu tak seharusnya pula apatis dengan masalah yang dialami oleh negara lain. Apalagi hingga tidak peduli dan tidak menolong mereka saat mereka sedang membutuhkan pertolongan. “Negara kita aman, terhindar dari konflik dan perang. Tapi bukan berarti kita harus diam saja dan tidak peduli dengan konflik yang terjadi di negara lain. Kita tetap harus membantu dan ikut memikirkan bagaimana kita bisa memberikan kontribusi pada mereka yang menjadi korban konflik tersebut,” ujarnya.

Pada kesempatan lain, Mu’ti pun sempat menyinggung kondisi pengungsi Suri’ah yang diperlakukan kurang baik oleh negara lain. Menurutnya, negara yang menjadi tempat tujuan sementara bagi para pengungsi tersebut tak sepatutnya memberikan mereka banyak aturan, jika ingin singgah di negaranya. Bahkan tak sepatutnya pula menjadi tempat bagi negara tersebut untuk dengan sengaja menyebarkan agamanya secara paksa kepada para pengungsi. “Kalau apa yang diberitakan itu benar, maka yang dilakukan oleh negara-negara tersebut salah. Apalagi jika memang benar terbukti bahwa pihak negara dengan sengaja menyuruh para pengungsi tersebut pindah agama terlebih dahulu, agar bisa masuk ke negaranya,” ungkapnya.

Untuk itulah, Mu’ti pun menyarankan pada pemerintah Indonesia untuk bisa membantu para korban perang dan konflik tersebut. Mu’ti juga meminta pemerintah Indonesia agar tidak apatis dalam memandang permasalahan tersebut. “Indonesia dan pemerintah Indonesia seharusnya tidak hanya diam saja melihat kondisi dan konflik yang terjadi di Timur Tengah. Indonesia ini kan kaya, sudah seharusnya pula bisa membantu para korban konflik tersebut. Apalagi Indonesia ini juga punya banyak pulau, akan sangat bagus kalau Indonesia ini bisa memberikan kontrbusi dengan menyediakan satu pulau bagi para pengungsi tersebut. Dengan begitu kita bisa memberikan bantuan nyata pada korban konflik dan perang itu,” tegasnya. (sakinah)