Mahasiswa PBI UMY Wakili Indonesia Dalam YSEALI 2017

Mei 22, 2017 oleh : BHP UMY

 

Andini Claudia, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PBI UMY) angkatan tahun 2013 turut mewakili Indonesia dalam Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI). Program yang diinisiasi mantan Presiden Barack Obama tersebut bertujuan untuk memperluas keterampilan mereka dalam memimpin, ekonomi dan juga dalam organisasi pemerintah untuk memecahkan masalah, dan juga menyiapkan profil pemimpin untuk 10 negara ASEAN ( Association of Southeast Asian Nations) agar dapat memberi dampak dan perubahan  positif untuk masyarakat dan negara. YSEALI Fellowship tahun 2017 kali ini diadakan di Arizona State University, Amerika Serikat selama 5 minggu, dimulai pada 18 Maret sampai dengan 24 April 2107.

Kegiatan yang diadakan YSEALI diprogram untuk meningkatkan kecakapan para pesertanya, seperti pengadaan kelas bisnis, pengembangan kepemimpinan, tur edukasional ke instansi pengembangan bisnis dan kemanusiaan, sampai melakukan kegiatan sukarelawan pelayanan masyarakat. Selain itu YSEALI juga mengadakan kegiatan rekreasi seperti tinggal bersama host family dan weekend trip ke North Arizona, San Diego, San Francisco, Los Angeles, dan Washington DC.

Dalam YSEALI 2017 tersebut Andini mengangkat tema Social Entrepreneurship Program, ide yang dimiliki Andini adalah untuk mengembangkan pasar kain tenun Buton. “Ide proyek yang saya bawakan dalam YSEALI tersebut adalah Buton Weaving, yaitu kain tenun Khas pulau Buton yang menjadi ciri tersendiri dari pulau tersebut. Proses pembuatannya yang memakan waktu yang cukup lama dan juga teknik yang tidak mudah menjadikan kain tenun ini sarat dengan kualitas. Namun ternyata proses yang lama ini tidak berbanding lurus dengan harga jualnya. Dibandingkan dengan kain tenun etnis lainnya harga kain tenun Buton jauh lebih murah,” ujar andini saat diwawancarai oleh BHP pada senin (22/5). Andini ingin agar kain tenun Buton ini mampu merambah pasar luar negri agar mampu mengangkat harga dari kain tenun tersebut.

Selain jangkauan pasar, keberlangsungan dari kain tenun ini juga hal yang diperhatikan oleh Andini. “Saat ini pengrajin kain tenun kebanyakan orang-orang tua. sedikit sekali generasi muda pulau Buton yang menenun kain. Ini karena hasil penjualan yang tidak seberapa dan juga proses pembuatannya yang lama. Untuk mengatasi itu saya berencana mengadakan pendidikan dan pelatihan menenun kain untuk mereka,” jelas Andini.
Saat ini Andini sedang melakukan usaha untuk merealisasikan ide yang ia ajukan dalam YSEALI. “Untuk usaha menghubungkan pengrajin kain dengan pasar, saya mencoba untuk bekerja sama dengan organisasi yang perhatian dengan warisan kebudayaan baik di Indonesia maupun internasional. Kemudian juga saya sedang membuat video teaser tentang kehidupan di Buton agar informasi mengenai Buton ini bisa tersebar. (raditia)