Mahasiswa KPI UMY Pelajari Komunikasi Empatik

Mei 7, 2018 oleh : BHP UMY

Empati merupakan hal yang diperlukan dalam komunikasi, terlebih dalam komunikasi yang bersifat mengarahkan (counseling). Untuk itu, empati menjadi kemampuan yang sangat perlu dimiliki oleh mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), khususnya bagi mereka yang mendalami tentang komunikasi dan juga konseling. Karena itulah dalam rangka mempelajari komunikasi empatik tersebut, sebanyak 27 orang mahasiswa KPI FAI UMY konsentrasi Konseling Islam melakukan kegiatan kuliah lapangan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr. Rajiman Widyodiningrat, Lawang, Kabupaten Malang. Kegiatan kunjungan tersebut telah dilakukan pada Jum’at (27/4) yang lalu.

Pemilihan RSJ sebagai tempat belajar empati tersebut juga bukan tanpa alasan. Cahyo Setiadi, M.Psi., selaku pendamping kunjungan menjelaskan, dipilihnya rumah sakit jiwa sebagai tempat belajar empati agar mahasiswa bisa berinteraksi dengan menumbuhkan rasa empati terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). “Individu yang mengalami gangguan jiwa (ODGJ) seringkali dianggap sebagai kelompok liyan (lain) oleh masyarakat, sehingga pola komunikasi yang dibangun cenderung tidak empatik. Seperti diolok, dipukuli, atau bahkan diterlantarkan. Pola komunikasi tidak empatik paling sering terjadi pada komunikan yang dianggap sebagai kelompok lain,” jelasnya melalui rilis yang diterima Biro Humas UMY pada Ahad (6/5).

Cahyo kembali menyampaikan bahwa mahasiswa didorong untuk berinteraksi selama beberapa waktu dengan ODGJ. “Dengan interaksi tersebut diharapkan mahasiswa dapat lebih mehamami kondisi ODGJ yang sejatinya adalah manusia. Dengan begitu, mahasiswa dapat menumbuhkan rasa kesamaan dengan ODGJ sehingga dapat lebih menumbuhkan empati. Kemampuan mahasiswa menumbuhkan empati terhadap kelompok yang sempat dianggap lain (walaupun sejatinya sama) tersebut diharapkan dapat digeneralisasikan mahasiswa kepada pola komunikasi terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, mahasiswa dapat menumbuhkan empati dalam komunikasinya,” paparnya lagi.

Sementara Ngesti Rahayu, S.Sos Kepala Instalasi Diklit yang mewakili pimpinan RSJ menyambut baik kunjungan mahasiswa ini. Ibu Yayuk, panggilan akrab beliau, mengharapkan bahwa kunjungan yang sudah memasuki tahun kedua ini dapat dilanjutkan dalam kerjasama lain seperti praktik kerja, penelitian, atau kerjasama lain. Peluang tersebut terbuka lebar karena RSJ Dr. Rajiman Wediodiningrat dapat menampung hingga 400 mahasiswa dari berbagai jenjang dan bidang pendidikan, termasuk konseling Islam. Kemampuan RSJ menampung mahasiswa praktik kerja yang banyak tidak terlepas dari daya tampung RSJ yang merupakan RSJ terluas di Indonesia, yaitu maksimal 700 pasien.

Selain melakukan interaksi yang diawasi dengan pasien, mahasiswa juga mendapatkan penyuluhan tentang Kesehatan Mental dari pihak RSJ. Mahasiswa juga memperdalam pemahaman tentang kondisi jiwa ODGJ dengan berkunjug ke Museum Kesehatan Jiwa yang berada di dalam kompleks RSJ. “Selain itu, mahasiswa merasakan shalat jum’at dengan sebagian jama’ah merupakan ODGJ. Hal ini merupakan pengalaman baru bagi mahasiswa,” imbuh Cahyo.