Mahasiswa Harus Selektif Pilih Tokoh Idola

September 10, 2016 oleh : BHP UMY

img_8944

Tokoh Idola biasanya dijadikan sebagai motivasi atau referensi seseorang dalam mengambil langkah untuk menentukan masa depan. Oleh karenanya, para mahasiswa harus selektif dalam memilih tokoh idola mereka, supaya tidak salah jalan di masa mendatang.

Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., mengharapkan agar para mahasiswa baru UMY dapat menjadikan tokoh Islam seperti Nabi Muhammad atau Ahmad Darwis sebagai panutan mereka. Hal tersebut beliau sampaikan dalam pembukaan Orientasi Studi Dasar Islam (OSDI) bagi mahasiswi-mahasiswi baru UMY pada Jum’at (09/09) di Sportorium UMY.

Gunawan mengungkapkan bahwa dirinya kecewa kepada para mahasiswa yang lebih mengidolakan tokoh – tokoh sosialis luar negeri, dibandingkan tokoh penggerak nasional seperti Ahmad Darwis sebagai pendiri Muhammadiyah. “Biasanya mahasiswa mengutip perkataan tokoh yang mereka idolakan sebagai landasan sikap mahasiswa. Saya sedih mahasiswa UMY jarang menyebut Ahmad Darwis sebagai panutan,” jelas Gunawan.

Gunawan juga menyebutkan bahwa kebanyakan tokoh sosialis yang dipercantik karakternya di media sosial. “Saya heran kenapa mahasiswa Indonesia seakan-akan menuhankan tokoh – tokoh sosialis luar negeri tersebut. Kenapa tidak mengidolakan Nabi Muhammad yang jelas-jelas membawa Islam. Atau paling tidak Ahmad Darwis yang perannya di Indonesia hingga saat ini bisa mewujudkan ratusan perguruan tinggi Muhammadiyah. yang berperan dalam bidang pendidikan di Indonesia,” tegas Gunawan.

Gunawan juga mengungkapkan, saat mahasiswa yang mengidolakan tokoh-tokoh sosialis, ketika lulus mereka cenderung menjadi pengikut sosialis juga. Para lulusan tersebut disebut Gunawan hanya bisa berdemo dan berorasi dengan mengacungkan tangan kiri sebagai simbol kelompok sosialis. “Yang seperti itu yang cenderung meninggalkan norma dan kerohanian. Sehingga ini menjadi kritik yang mendalam,” jelas Gunawan.

Oleh karenanya, Wakil Rektor bidang akademik tersebut berharap program OSDI dapat menjadi orientasi pertama mahasiswa dalam belajar agama Islam. Terutama pada materi tentang pembelajaran Al-Qur’an secara intensif. “Saat kalian nanti sudah punya anak, malu kalau tidak bisa membaca Al-Qur’an sedangkan anak kalian bisa. Anak kalian lalu akan membandingkan kalian dengan tetangga yang lebih bisa membaca Al-Quran,” ungkap Gunawan.

Dalam forum yang sama, Ketua LPPI UMY, Dr. M. Khaeruddin Hamsin, Lc., M.A., menyebutkan bahwa program OSDI merupakan program wajib bagi mahasiswa baru UMY dan sebagai syarat kelulusan yudisium mendatang. Selain OSDI, para mahasiswa baru UMY juga akan mengikuti program bimbingan baca Al-Qur’an dan juga program Kuliah Intensif Agama Islam (KIAI).

“Yang kemaren saat test baca Al-Qur’an belum berhasil mendapatkan nilai A, nanti akan ada program bimbingan baca Al-Qur’an setiap sore pukul 15.30 di masjid Ahmad Dahlan. Dan untuk program Kuliah Intensif Agama Islam, mahasiswa diwajibkan menginap di Unires selama 4 malam dan mengikuti program yang ada,” jelas Hamsin.

Dengan diadakannya tiga program tersebut, Hamsin berharap bahwa lulusan UMY tidak hanya unggul dalam wawasan teknologi saja. Tetapi mereka akan juga dapat menjadi sosok yang bertanggung jawab, dengan berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman. (Deansa)