Mahasiswa Harus Sadar Pengaruh Technopreneur Bagi Perkembangan Ekonomi

Desember 27, 2016 oleh : BHP UMY

Menghadapi era digital, masyarakat di era ini sudah mulai kreatif dalam membuat model bisnis baru berbasis teknologi. Model ini disebut technopreneur yang merupakan salah satu bentuk dari entrepreneur, yang sama-sama memiliki peran penting bagi perkembangan ekonomi di masa mendatang.

Dalam Seminar Creativepreneur yang diselanggarakan oleh SEBI (Student Entrepreneur and Business Incubator) UMY, Hero Wijayadi, selaku Founder HeroSoftMedia, menyampaikan bahwa mahasiswa harus siap menghadapi era Technopreneur ini. Dalam seminar yang diadakan di Mini Teather Gedung D UMY pada Selasa (27/12) Hero menyampaikan bagaimana pesatnya perkembangan Technopreneur di masa kini.

“Sekarang ini gelombang baru ekonomi sudah muncul. Realitanya, top ten most valluable market di dunia, 5 dari 10 merupakan perusahaan teknologi seperti apple, alphabet (google), microsoft, dan Facebook. Teknologi juga sudah mengubah banyak hal. Seperti sekarang orang bisa memfoto semua kejadian menggunakan ponsel masing-masing,” jelas Hero.

Di samping memiliki manfaat, teknologi juga dinilai Hero memiliki sifat Disruptive atau merusak. Contohnya ada pada perusahaan-perusahaan besar di masa lalu yang sudah memiliki cabang hingga ribuan, namun tidak mengantisipasi datangnya era digital seperti sekarang ini.

“Semua orang tahu produk Kodak. Produk ini sudah berusia 100 tahun dan memiliki banyak cabang di seluruh dunia, tetapi sekarang sudah bankrut. Sekarang ada yang disebut Instagram, yang mana semua orang bisa mengabadikan momen mereka menggunakan kamera ponsel dan kemudian diunggah. Kodak bankrut karena tidak mengantisipasi akan adanya perubahan perilaku digital masyarakat di era ini. Selain itu di Indonesia sendiri dulu ada blue bird, tetapi sekarang kita lebih mengenal Go-Jek yang meski hanya sekedar usaha ojek online, namun nilai perusahaannya bahkan lebih tinggi dari nilai perusahaan pesawat Garuda,” ungkap Hero.

Dengan demikian, Hero berharap agar mahasiswa bisa lebih inovatif untuk membuat usaha dalam bentuk technopreneur untuk menghadapi persaingan di masa mendatang. Hero memberikan kunci 3P+2P yang harus dimiliki di awal pengembangan usaha berbasis technopreneur.

“3P yang pertama adalah Place, Program dan People. Place berarti wadah untuk membangun usaha kita. Jadi bukan dimaknai dengan tempat saja. Program, kita harus merencanakan program kedepannya. Dan yang paling penting adalah people. Untuk membangun bisnis berbasis teknologi, kita butuh minimal 3 orang, yakni hacker, hipster, dan hustler,” terang Hero.

Hacker dijelaskan Hero bukan sebagai peretas situs, namun seseorang yang memiliki keahlian dalam koding, programmer, dan web developer. Sedangkan Hipster adalah seorang desainer, dan aktif di social media. Dan Hustler adalah seorang yang memiliki tipikal komunikatif, suka membangun jaringan, kerjasama dan berjualan.

“Setelah 3P terpenuhi, baru 2P yaitu Problem dan Product. Kita menganalisa apa masalah yang ada di sekitar kita dan apa peluang yang bisa kita ciptakan dari masalah tersebut. Karena setiap masalah pasti ada peluang, misalnya saja tidak akan ada warung makan jika tidak ada orang lapar. Baru setelah kita menemukan masalah, kita membuat produk yang tepat untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut,” tutup Hero. (dean)

Share thisShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0