Lulusan PT Dituntut Miliki Kompetensi yang Unggul

Desember 4, 2010 oleh : BHP UMY

Tuntutan mutu atau kualitas lulusan baik dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Swasta (PTS) makin tinggi. Hal ini mendorong setiap lulusan harus memiliki kompetensi atau kemampuan yang diunggulkan untuk mampu bersaing. Kemampuan tersebut dibutuhkan karena hanya lulusan yang memiliki keunggulan yang dinilai mampu bertahan.

Demikian disampaikan dr. Agus Taufiqqurrahman, M.kes., S.Ps selaku pembicara dalam ‘Pelatihan Pengembangan Diri Mahasiswa Fakultas Agama Islam-Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FAI-UMY) 2010’ yang diselenggarakan FAI-UMY Selasa (30/11) di Kampus Terpadu UMY.

Lebih lanjut Agus menguraikan, kompetensi tersebut tidak hanya tingginya Indek Prestasi Kumulatif (IPK) semata melainkan kemampuan-kemampuan lainnya.  “Kita tidak hanya boleh cerdas intelektual tetapi juga cerdas dalam moral spiritual. Dengan intelektual dan moral yang bagus pastinya peran sosial di masyarakat juga akan bagus,”jelasnya.

Menurutnya saat ini yang menyebabkan banyaknya koruptor disebabkan karena individu-individu tersebut hanya cerdas intelektual tetapi tidak cerdas secara moral spiritual. “Coba saja kita lihat para koruptor tersebut mesti lulusan universitas. Mereka pasti seorang sarjana. Tetapi mengapa mereka malah menjadi seorang koruptor. Karena antara intelektual dan moral yang tidak seimbang.”tambahnya.

Oleh karena itu mahasiswa-mahasiswa sekarang harus mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektualnya dan moral spiritualnya. “Mahasiswa tidak hanya asal belajar tetapi harus tekun. Harus memiliki semangat belajar yang baik serta memiliki kemauan untuk mencapai kesuksesan.”urainya.

Terkait dengan system belajar, mahasiswa harus mulai mengenali kemampuan belajar mereka termasuk tipe belajar yang seperti apa. “Ada beberapa tipe belajar. Mulai dari tipe visual yaitu tipe belajar dengan membaca tulisan atau melihat gambar. Tipe auditorik yaitu tipe belajar dengan mendengarkan secara lisan. Kemudian tipe kinestetik, belajar dengan gerak maupun sentuhan. Bahkan mungkin termasuk ketiga tipe tersebut.”tuturnya.

Dengan menganali tipe belajar tersebut diharapkan dapat mempengaruhi semangat belajar mahasiswa. Kemudian mahasiswa-mahasiswa tersebut tidak hanya mengikuti kuliah tetapi juga organisasi maupun belajar berwirausaha.“Diharapkan ketika kuliah kemudian lulus mahasiswa tidak hanya memiliki intelektual tetapi juga moral sehingga benar-benar menjadi lulusan yang berkualitas dan mampu bersaing,”tegasnya.