Lulusan Eksak UMY dengan IPK 4 : Sosok Almarhum Ayah Jadi Sumber Kekuatan Raih Prestasi

Oktober 21, 2014 oleh : BHP UMY

Cinky Priyanto

Siapa bilang prestasi hanya bagi mereka yang memiliki kelebihan materi. Saat ini sudah banyak orang-orang yang tidak memiliki materi berlebih, tapi meraih prestasi gemilang baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Satu lagi contohnya yakni Cinky Priyanto, S.T, sarjana Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang meraih prestasi sebagai lulusan terbaik universitas dengan IPK 4. Saat ditemui di Biro Humas UMY, Selasa (21/10), Cinky pun menceritakan mengapa ia bisa meraih prestasi tersebut.

Prestasi Cinky ini bisa dikatakan cukup istimewa. Sebab tidak banyak mahasiswa dari jurusan eksakta yang bisa meraih IPK 4. Selain itu, yang tak kalah menariknya lagi, ia juga bukanlah dari golongan anak orang kaya. Ayahnya sudah meninggal sepuluh hari sebelum ia berangkat ke Yogyakarta, untuk memasuki masa kuliah di UMY. Dengan begitu, segala kebutuhan dan biaya kuliah Cinky harus ditanggung seorang diri oleh ibunya yang hanya berprofesi sebagai pedagang hasil pertanian.

Tidak mudah sebenarnya bagi Cinky sendiri untuk menjalani masa kuliah hanya dengan bertumpu pada penghasilan ibunya. Terlebih lagi ia juga menjadi satu-satunya harapan keluarga, karena hanya dia seorang dalam keluarganya yang bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. “Saya sarjana pertama di keluarga. Kakak saya tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena masalah biaya. Sementara, sepuluh hari sebelum saya berangkat ke Jogja untuk kuliah, ayah saya meninggal. Jadi, ibu yang harus menanggung biaya kuliah saya,” ujar Cinky, yang baru lulus pada Sabtu, 19 Oktober 2014 kemarin.

Namun bagi Cinky, keterbatasan biaya dan ketiadaan sosok ayah tidak menjadikannya putus asa untuk meraih prestasi. Namun justru sosok sang ayah itulah yang ternyata menjadi sumber kekuatan utamanya meraih prestasi. “Bapak pernah berkata pada saya, sebelum meninggal, beliau berpesan agar saya tidak menjadi orang bodoh seperti bapak. Jadi dari sana saya bertekad untuk terus belajar dan bisa menjadi anak yang membanggakan bagi orang tuanya,” pungkasnya.

Cinky pun berusaha untuk menguasai mata kuliah yang dipelajarinya, dengan harapan suatu saat nanti ilmunya dapat berguna bagi orang lain dan bisa dijadikan referensi untuk mencari atau membuat pekerjaan. “Sebenarnya kalau belajar di kelas saya tidak begitu serius. Santai saja. Tapi setelah keluar kelas, saya biasanya suka ketemu dosen untuk bantu-bantu pekerjaan dosen. Dan di sanalah, saya bisa lebih leluasa belajar dengan dosen,” ungkap lelaki asal Pangandaran, Ciamis ini lagi.

Cinky mengakui, jika waktu kebersamaannya dengan dosen saat di luar kuliah sangat membantu pemahamannya mengenai mata kuliah di Jurusan Teknologi Informasi. Sebab ketika ia sedang bersama dosennya, saat itulah dia memanfaatkan waktu untuk bertanya mengenai mata kuliah yang belum ia mengerti. Selain itu, ia juga mendapatkan tambahan ilmu dari luar kelas, yang mungkin masih jarang didapatkan oleh teman-teman sekelasnya.

“Dari pengalaman belajar dengan dosen di luar kelas itu, saya kemudian mendapat kesempatan untuk menjadi asisten dosen.” Selain itu, sejak semester 5 Cinky juga sudah memiliki pekerjaan sendiri dalam bidang pembuatan software, aplikasi-aplikasi kantor, maupun segala hal yang terkait dengan TI sesuai dengan permintaan pelanggan. Namun semua itu ia lakukan dengan mempromosikan keahliannya lewat media sosial seperti facebook dan Blackberry Messenger (BBM).

Walau demikian, lulusan pertama TI Fakultas Teknik UMY ini mengakui, jika terkadang dirinya susah membagi waktu, antara kuliah, belajar, dan bekerja. “Karena waktu kuliah untuk TI itu pakainya paket, kuliahnya dari pagi sampai sore. Jadi, ya mengorbankan waktu tidurnya saja. Lebih sedikit waktu tidurnya.”

Setelah melalui masa kuliah S1 dan meraih prestasi tersebut, Cinky pun berharap ia bisa mempunyai penghasilan sendiri dari keterampilan dan kemampuannya. Ia juga berharap bisa lebih mengembangkan usaha pembuatan aplikasinya lagi, agar tidak hanya dilakukan secara online saja. “Tapi yang paling utama adalah memaksa ibu saya untuk berhenti kerja. Saya tidak tega melihat ibu bekerja terus, karena ibu sudah sepuh. Jadi saya harap bisa segera punya penghasilan sendiri, agar bisa membiayai hidup saya sendiri dan ibu saya,” tutupnya. ​