Kurikulum PTM Perlu Pembenahan

Maret 14, 2012 oleh : BHP UMY

Kurikulum pembelajaran di PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) masih perlu banyak pembenahan. Saat ini, banyak sekali lulusan perguruan yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi namun ternyata belum mampu bekerja. Sebagian yang bekerja memang mampu bekerja sendiri, tapi kesulitan untuk bekerja secara tim. Perlu ada pembenahan dalam kurikulum dan sistem pembelajaran. Peta perkuliahan harus didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai, sehingga standar kompetensi yang dimiliki lulusan PTM di seluruh Indonesia terukur dengan jelas.

Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, Pakar Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menyampaikan hal tersebut dalam acara “Workshop KBK dan Pengelolaan Jurnal” pada Rabu (14/3) bertempat di Kampus Terpadu UMY. Acara ini diselenggarakan oleh Asosiasi Program Studi Manajemen (APSMA) PTM Se-Indonesia.

Gunawan mengatakan, kurikulum yang ada harus selalu diperbarui sesuai kompetensi yang dibutuhkan. “Bila memungkinkan, setiap tiga sampai empat tahun sekali, kurikulum harus diperbarui. Hal ini harus dilakukan karena kebutuhan kompetensi di masyarakat juga akan terus berkembang. Dosen harus paham mengapa sebuah mata kuliah diberikan kepada mahasiswa. Sehingga hasil akhirnya akan lebih jelas dan terukur. Pemberian porsi dan jenis mata kuliah nantinya harus menyesuaikan tujuan yang akan dicapai,” ungkapnya.

Selain itu, masih menurut Gunawan, ada lima hal minimal yang harus ada pada setiap lulusan sarjana PTM. “Sarjana paling tidak lulus dengan memiliki lima hal, yakni landasan kepribadian, penguasaan ilmu dan keterampilan, kemampuan berkarya, sikap dan perilaku yang baik dalam berkarya, serta pemahaman kaidah kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.

Oleh karenanya, lanjut Gunawan, nilai-nilai Islam harus menjadi sebuah value, bukan hanya pendekatan ilmu saja. “Islam harus dapat masuk ke dalam nilai-nilai pembelajaran. Kita punya semboyan kebersihan adalah sebagian dari iman, tapi apakah kamar mandi di kampus lebih bersih dan wangi dibandingkan kamar mandi di Mall? Hal itu harus menjadi introspeksi,” pungkasnya.

Sharing is caring!