Kulit Buah Naga Merah Bantu Perbaiki Imunitas​ Penderita HIV/ AIDS

Januari 15, 2015 oleh : BHP UMY

Klub Naga Merah1

HIV AIDS hingga saat ini masih menjadi salah satu penyakit yang mematikan. Obat penawar untuk menyembuhkan penderitanya pun masih belum ditemukan. Untuk itu dibutuhkan suatu penemuan baru yang bisa bermanfaat bagi penderita HIV AIDS, agar mereka bisa sembuh.

Hal itulah yang kemudian mendorong mendorong Annisa Fitriani, Yunita Dwi Setyawati, dan Intan Hanifah. M untuk melakukan penelitian terkait dengan HIV Aids. Penelitian yang dilakukan oleh ketiga Mahasiswa Kedokteran Umum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini adalah dengan mengumpulkan dan mengkaji jurnal-jurnal yang terkait dengan HIV AIDS. “Akhirnya dari pengumpulan dan mengkaji jurnal tersebut kami sepakat untuk memanfaatkan kulit buah naga merah untuk dijadikan obat terapi herbal bagi pasien yang terkena HIV AIDS, “ jelas Annisa Fitriani saat ditemui pada hari Kamis (15/1) di Lobby Fakultas Kedokteran UMY.

Annisa melanjutkan bahwa sebenarnya, kulit buah naga merah ini jauh lebih bermanfaat dari pada daging itu sendiri. Menurutnya  kandungan positif yang ada pada kulit buah naga merah lebih banyak dibandingkan daging buahnya. “Menurut penelitian yang pernah dilakukan, bahwa kulit buah naga merah ini mengandung efek anti oksidan, anti bakteri, anti virus, dan anti mikroba. Karena seperti yang kita tahu, jika orang yang menderita penyakit HIV AIDS ini lama kelamaan sistem imun tubuhnya akan cepat turun. Jadi dibutuhkan obat atau vitamin yang juga bisa meningkatkan lagi sistem imun tubuhnya. Salah satu caranya ialah memanfaatkan kulit buah naga merah tersebut,” paparnya.

Untuk pengolahan kulit buah naga tersebut, Annisa dan kawan-kawannya memilih untuk menjadikannya sebagai teh. Alasannya, bahwa penduduk di Indonesia ini banyak yang mengkonsumsi teh, bahkan konsumsi teh ini sudah banyak dilakukan di Negara Asia dan Timur Tengah. Karena menurut penelitian,  negara-negara tersebut paling tinggi dalam mengkonsumsi teh.

“Ini yang akhirnya menjadi fokus kami untuk melakukan terapi herbal bagi penderita HIV AIDS dengan mengkonsumsi kulit buah naga merah dengan diolah menjadi teh. Ternyata, dari pengolahan tersebut sudah ada yang meneliti terkait dengan manfaat atau kandungan yang ada pada kulit buah naga merah yang dijadikan teh. Namun, dari penelitian tersebut hanya menjelaskan tentang manfaat dan kandungan dari teh kulit buah naga merah itu sendiri belum kepada suatu titik atau fokus tertentu, misalnya untuk melakukan terapi pada suatu penyakit, “ paparnya.

Akhirnya, Annisa dan kawan-kawannya memutuskan untuk menggunakan konsep sebagai terapi herbal kepada penderita HIV AIDS. Dengan dijadikannya kulit buah naga merah tersebut sebagai teh, tentunya memudahkan untuk dikonsumsi oleh setiap orang. “Ketika kita memberikan terapi ini kepada pasien penderita HIV AIDS, mereka akan merasa nyaman. Karena mereka akan menganggap sedang tidak mengkonsumsi obat,” ujarnya lagi.

Ada banyak keuntungan dari sistem terapi herbal ini, karena dalam mengkonsumsi teh ini tidak ada batas maksimal atau minimal. Sebab manfaatnya cenderung lebih umum tapi bisa dimanfaatkan untuk pasien penderita HIV AIDS. Selain itu terapi menggunakan teh kulit buah naga ini juga tidak mengandung kadar kafein. “Tidak ada batas maksimal atau minimal, jadi kami pun tidak menyalahkan jika orang sehat mengkonsumsi ini. Intinya, teh ini bisa dikonsumsi untuk di segala jenjang. Jika untuk dikonsumsi bagi penderita HIV AIDS, sebaiknya dikonsumsi setelah mengetahui kalau dirinya sudah positif terkena HIV Aids. Sehingga penggunaan terapi ini harus sebaik mungkin dan semaksimal mungkin, sebab terapi herbal ini hanya sebatas terapi komplementer,” tuturnya.

Terapi komplementer ini, lanjut Annisa, adalah terapi pendamping, artinya pasien HIV AIDS tetap harus mengkonsumsi obat yang sudah ditetapkan oleh pemerintah yaitu obat Anti Retro Viral (ARV). “Untuk proses pemakaiannya sendiri rencanya kita akan melakukan penyeimbang dosis, misalnya dosis ARV yang diberikan ke pasien akan dikurangi dosisnya kemudian teh herbal tersebut dinaikkan dosisnya, begitu pula sebaliknya. Dari situ kita dapat melihat terapi mana yang menimbulkan efek paling baik untuk pasien. Selain itu terapi teh herbal ini, kemungkinan bisa meminimalisir efek dari obat ARV tersebut yang menimbulkan mual muntah dan rambut rontok. Namun, sampai ke tahap tersebut masih harus ada penelitian lanjutan karena, kami hanya pada tahap kajian pustaka saja,” jelasnya.

Annisa pun mengakui, bahwa dalam melakukan penelitian ini, sebenarnya bukan untuk menghilangkan penyakit HIV AIDS itu sendiri. Karena mereka tahu bahwa sampai saat ini belum ada obat penawarnya. Tapi, mereka berpikir, ketika seseorang menderita HIV AIDS maka, secara tidak langsung pasien tersebut akan berproknosis jelek karena imunnya akan terus menerus menurun, dan untuk mencegahnya adalah dengan melakukan terapi teh ini. Karena, dengan mengonsumsi teh ini nantinya dapat mencegah infeksi oportunistik. Jadi dengan mengonsumsi teh kulit buah naga merah tersebut setidaknya dapat mereduksi infeksi oportunistik dan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.

“Jadi dari penelitian ini kami menarik kesimpulan bahwa kulit buah naga merah ini dapat menghambat aktivitas bakteri, virus, dan kuman yang ada dalam tubuh pasien yang suatu waktu akan menurunkan sistem imunnya. Meskipun belum pernah kami produksi atau kami buat, tapi kami menyimpulkan ini sesuai dengan manfaat dari kulit buah naga tersebut, yang dapat menghilangkan infeksi-infeksi yang ditimbulkan pada penyakit HIV AIDS, “ tegasnya.

Annisa beserta kedua temannya pun berharap masih akan ada penelitian lebih lanjut dan rinci mengenai teh herbal tersebut untuk dikonsumsi pasien HIV Aids. Apakah dengan memperbanyak mengkonsumsi teh herbal ini dapat mengurangi efek samping dari ARV atau tidak. “Sebagai dokter, di sini kita membantu untuk bisa meningkatkan kualitas hidupnya dengan cara meningkatkan imunnya. Jika kualitas dan harapan hidupnya meningkat, mereka tentunya bisa lebih percaya diri dalam melakukan hal yang bermanfaat, tidak mengurung diri, bisa bersosialisasi, dan yang lebih penting mereka tidak akan jijik dengan dirinya sendiri, “ jelasnya.

Adapun penelitian yang dilakukan oleh Annisa dan kedua temannya ini juga berhasil menyabet juara III pada IMSF (Islamic Medical Scientific Festival) di Unair yang berlangsung sejak 19-21 November 2014.