Koruptor Kelas Hiu Jadi Pemicu Konflik dan Kegaduhan Nasional

Februari 13, 2015 oleh : BHP UMY

IMG_0337Koruptor kelas hiu yang berkonspirasi di seluruh struktur dan lingkungan pemerintahan, partai politik, maupun masyarakat sebenarnya menjadi pemicu konflik dan kegaduhan nasional yang saat ini terjadi. Kontroversi pengangkatan Budi Gunawan sebagai Kapolri yang berstatus tersangka dan berujung pada “konflik” antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia yang mencuat menjadi isu nasional krusial akhir-akhir ini, disebutkan oleh Dr. H. Haedar Nashir, seorang pengamat dan sosiolog, karena adanya campur tangan koruptor kelas hiu yang telah lupa akan etik, moral, dan kebenaran.

Etika yang sejatinya berfungsi sebagai rujukan norma dan nilai serta menjadi sistem kontrol dalam berperilaku, telah dipertaruhkan dalam kekisruhan nasional tersebut. Karena itu, orang-orang yang tidak mengindahkan etika, termasuk pula koruptor, sudah tidak bisa lagi membedakan mana tindakan yang baik dan pantas dengan tindakan yang buruk dan tidak pantas. ‚Äč

Demikian disampaikan Dr. H. Haedar Nashir saat menjadi narasumber dalam acara Kuliah Umum dan Yudisium Pascasarjana S2 dan S3 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), bertajuk “Etika Profesi Di Tengah Globalisasi”. Kuliah umum yang diikuti oleh 78 calon wisudawan Pascasarjana UMY ini diselenggarakan oleh Pascasarjana UMY, dan bertempat di ruang sidang utama AR. Fachruddin A lantai lima, Kampus Terpadu UMY, Jum’at (13/2).

Dalam pemaparannya, Haedar mengatakan, nilai benar-salah, baik-buruk, dan pantas atau tidak pantas tidak menjadi pertimbangan yang kuat dan cenderung ditiadakan dalam bertindak. Nilai sebagai sesuatu yang berharga dalam hidup menjadi serba dangkal dan jatuh ke titik terendah yang serba inderawi. “Orang-orang benar, baik, dan berjiwa utama, terkesan makin sedikit jumlahnya. Sedangkan orang-orang yang sebaliknya, justru makin besar jumlahnya dan malah jadi idola. Demo mendukung koruptor juga semakin menjadi pemandangan umum. Kondisi kacau nilai ini seolah mendekati dan mengingatkan saya pada konstruksi pujangga Ronggowarsito dalam surat Katalatida tentang “zaman edan”. Suatu zaman ketika manusia kian banyak yang “edan” dan jika tidak ikut “edan” maka dia tidak akan “kebagian”, sehingga setiap orang akhirnya terjangkiti penyakit rakus dan “gila” dunia dalam kehidupan,” paparnya.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini pun menyoroti kaum profesional yang hanya mengandalkan keahlian instrumental, yang cerdas nalurinya dalam mengejar karir dan mobilitas diri, tapi lemah radar moral atau etikanya. “Banyak manusia cerdas dan bertahta tetapi rakus dan hedonis, sehingga ilmu dan kedudukannya tidak memberi manfaat bagi orang banyak. Mereka sangat sadar akan hak tetapi lemah dalam menunaikan kewajiban. Dimensi moral, tanggungjawab, dan martabat hidup yang utama pun menjadi asing dari dirinya. Hal ini bisa kita lihat dari kasus para tersangka korupsi itu. Sebenarnya, tanpa melakukan korupsi pun gaji dan segala kebutuhan mereka akan tercukupi. Namun karena mereka sudah terjangkiti penyakit rakus dan “gila” dunia, apapun dan berapapun yang mereka terima, mereka masih merasa kurang,” tegasnya.

Haedar juga menjelasakan jika kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia saat ini selain ditandai dengan sejumlah kemajuan, pada saat yang sama juga dihadapkan pada masalah-masalah yang krusial. Korupsi, sogok menyogok, pencucian uang, gratifikasi, kekerasan, politik uang, kebohongan, tipu muslihat, dan demoralisasi menjadi pemandangan yang umum. Orientasi hidup yang memuja materi (materialisme), kesenangan inderawi (hedonisme), kegunaan (pragmatisme), dan kedudukan (jabatan, kekuasaan) menjadi alam pikiran dan praktik hidup yang meluas dengan menabrak nilai-nilai moral agama maupun keadaban budaya.

Karena itu, lanjut Haedar lagi, di tengah kebanyakan manusia yang rakus mengejar gemerlap serba duniawi yang tidak ada ujungnya itu, harus tampil orang-orang dengan kalbu, ilmu, dan akal pikirannya yang jernih untuk menyadarkan orientasi hidup masyarakat pada nilai-nilai etik yang utama. “Dengan nilai keutamaan itu, orang-orang yang berilmu dan bermoral harus menjadi pelaku pencerahan untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada cahaya. Kelompok manusia yang tercerahkan dan mencerahkan seperti inilah yang nantinya akan lebih memilih hidup terhormat, daripada sukses tapi hina dan menghinakan diri,” pungkasnya.