Komunitas GBN Gelar Seminar Jaga Kedaulatan NKRI

Maret 8, 2017 oleh : BHP UMY

Komunitas Generasi Bakti Negeri Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan seminar kepemudaan bertemakan “Peran pemuda perbatasan dalam menjaga kedaulatan NKRI” dengan mengundang Fatimah Aprilia (Siswi berprestasi dari Pulau perbatasan, Sebatik, Kalimantan Utara) sebagai pemateri. Seminar tersebut diakan di ruang Simulasi Sidang ASEAN, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Senin (6/3).

Ketua panitia seminar, Adzkiya Brama dalam sambutannya mengungkapkan bahwa seminar ini adalah bentuk apresiasi kepada siswa berprestasi dari pulau perbatasan agar dapat menginspirasi berbagai kalangan di Yogyakarta. “Seminar ini bertujuan untuk menginspirasi kita semua dan juga sebagai sumber informasi kami dalam mempersiapkan Saudara Sebatik Project 3,” ungkap Bram.

Deni Febrian selaku ketua umum GBN mengungkapkan bahwa dengan hadirnya Fatimah yang notabene masih berstatus sebagai siswa SMA menjadi pemateri di UMY adalah bukti keberhasilan dan sustainability program-program yang diberikan GBN di Sebatik. “Alhamdulillah program pengabdian masyarakat yang di lakukan GBN dengan roadmap 3 tahun program kerja (2015-2017) telah sedikit banyak berdampak kepada masyarakat, salah satunya Fatimah bisa hadir ke Jakarta dan Jogja,” tuturnya bersemangat.

Fatimah merupakan siswi SMA N 1 Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara. Siswi kelas XII IPA tersebut memiliki segudang prestasi meskipun tinggal di wilayah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Salah satu prestasi yang baru saja ia raih adalah lolos menjadi peserta pelatihan kepemimpinan pelajar paling bergengsi seluruh Indonesia yaitu Indonesia Student Unite (ISUNITE) di Jakarta pada 2 hingg 5 Maret lalu.

Fatimah yang juga juara kelas dan mantan ketua OSIS tersebut menyebutkan bahwa salah satu faktor keberhasilannya dalam meraih prestasi adalah berkat bimbingan mahasiswa UMY yang melakukan pengabdian di Pulau Sebatik sejak 2015. “Saya sangat berterima kasih kepada kakak-kakak GBN karena telah banyak memberikan pengetahuan baru kepada kami pemuda perbatasan, termasuk program ISUNITE kemarin,” ungkapnya di sela-sela seminar.

Dalam sesi pemaparan materi, siswi yang bercita-cita kuliah di jurusan hubungan internasional tersebut, menjelaskan berbagai dinamika yang ada di Pulau Sebatik serta peran pemuda dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah arus globalisasi serta komunitas ASEAN. Ia mengungkapkan bahwa upgrade kapasitas dan kualitas pendidikan sangat di butuhkan di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia tersebut. Maka dari itu peran volunteer dari luar daerah dalam proses upgrading tersebut sangat penting. “Banyak relawan yang hadir di Sebatik seperti Indonesia Mengajar, Sekolah Guru Indonesia (Dompet Dhuafa), Nusantara Sehat, GBN dan gerakan lainnya. Kehadiran mereka sangat signifikan dalam mendorong dan menginspirasi kami untuk terus berprestasi,” paparnya.

Selain masalah pendidikan, narkoba juga menjadi momok yang menghantui pemuda Sebatik. “Wilayah kami memang sangat rawan terhadap masalah narkoba. Faktor utama masalah tersebut adalah mudahnya akses masuk narkoba dari wilayah perbatasan yang minim pengawasan. Karena memang ada beberapa wilayah perbatasan yang tidak setiap hari dijaga,” ungkapnya sebelum sesi tanya jawab di seminar.

Ade Marup, salah satu dosen UMY mengapresiasi diadakannya seminar tersebut. “Sangat penting bagi lingkungan akademis mengahdirkan masyarakat dari wilayah 3T, apalagi siswa berprestasi untuk berbagi kepada kita (red-dosen dan mahasiwa)”.

Ade juga menambahkan bahwa sangat penting juga bagi Universitas, Pemerintah, NGO dan masyarakat secara umum untuk mendukung gerakan mahasiswa yang mengabdi di wilayah-wilayah yang masih tertinggal, salah satunya Sebatik. “Karena memang gerakan seperti GBN ini kongkrit dampaknya dan juga merupakan salah satu tri dharma pendidikan,” ungkapnya.

Seminar yang dihadiri oleh berbagai kalangan seperti mahasiswa, dosen, Himpunan Keluarga Mahasiswa Sebatik Yogyakarta dan pers tersebut di tutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada pemateri. “Semoga saya dan teman-teman dari daerah perbatasan juga bisa kuliah di Jogja suatu hari nanti”, tutup Fatimah.