KOMAKOM Buka Rangkaian Communication Award dengan Talkshow Nasional

November 13, 2017 oleh : BHP UMY

Masa depan adalah sekarang, diiringi dengan kemajuan teknologi yang banyak membantu dalam setiap aspek kehidupan saat ini. Hal tersebut di ungkapkan oleh Bima Marzuki dan Nugroho Nurarifin dalam Talkshow Nasional bertajuk What to do in the Future yang diselenggarakan oleh Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMAKOM) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Acara tersebut dilaksanakan pada hari Minggu (12/11) di Ruang Sidang Utama Gedung AR Fachruddin A kampus terpadu UMY. Gelar wicara tersebut merupakan soft opening dari rangkaian kegiatan tahunan Communication Award yang rutin diadakan oleh KOMAKOM UMY.

Bima Marzuki, CEO serta pendiri dari Media Buffet Public Relation, menyebutkan bahwa ilmu komunikasi saat ini sedang berada dalam persimpangan. “Ilmu komunikasi saat ini maju dan sudah masuk ke dunia digital, hal ini merupakan sebuah perkembangan yang baik dan perlu untuk dimanfaatkan. Untuk menanggapi kemajuan ini saya memiliki sebuah format yaitu Technology, Attitude, dan Engagement. Dengan kemajuan teknologi yang saat ini ada, ada banyak sekali media sosial yang dapat menjadi perantara untuk berkomunikasi. Sebagai contoh ketika saya menjadi jurnalis, saya perlu untuk menentukan mana media yang sesuai untuk digunakan agar dapat menyasar target audiens yang diinginkan,” ujar Bima ketika berbagi pengalamannya dalam kehumasan.

Akan tetapi, kemudahan teknologi yang ada kadang tidak sejalan dengan sikap dalam penggunaannya. “Attitude merupakan tentang siapa kita dan bagaimana kita ingin orang lain mengingat kita. Karena itu kesopanan dan mampu menempatkan diri secara baik dalam setiap situasi merupakan sebuah kewajiban jika anda ingin menjadi profesional. Ini penting untuk ditekankan karena dengan sikap yang baik engagement dari setiap pihak yang berinteraksi dengan anda akan menghasilkan hubungan yang baik. Tentunya ini akan sangat berguna untuk memperluas jaringan kerja profesional dan juga sosial yang anda miliki. Karena tidak hanya jaringan yang luas, dengan sikap yang baik anda dapat mengenali potensi dari klien yang ada dan membuat sebuah deep networking,” papar Bima.

Selanjutnya Nugroho Nurarifin, Executive Creative Director dari Grey Advertising Indonesia, menerangkan bahwa saat ini iklan tidak hanya sekadar iklan semata. “Advertising seringkali dikaitkan dengan karya artistik, saya kira tidak hanya itu namun juga harus menyentuh kehidupan. Maksudnya iklan yang terbaik bukan hanya sekedar iklan, namun karya yang dihasilkan adalah hidup itu sendiri. Ini dapat kita lakukan dengan memanfaatkan kemajuan sosial yang sudah terjadi. Misal dengan penggunaan big data, ini tidak akan menjadi hal yang signifikan dalam advertising ketika data yang ada tidak dapat dinarasikan dengan baik,” ungkap Nugroho dalam sesi bincang-bincang periklanan.

“Kemudian iklan yang ada harus memiliki aspek entertainment agar dapat membuat orang tertarik untuk mengetahui informasi yang ditawarkan. Karena anda tidak dapat memaksa orang untuk melihat isi iklan anda kalau mereka tidak tertarik. Lalu yang terakhir adalah anda harus memahami bahwa tidak ada pembatas antara kreatifitas dan efektifitas, keduanya saling melengkapi dan aspek penting untuk menghasilkan iklan yang baik. Sebagai contoh iklan yang baik, anda dapat melihat cara Swedish Tourist Association dalam mengiklankan Swedia. Mereka mengajak orang di seluruh dunia untuk mengenal Swedia dengan menelpon warga Swedia secara acak untuk membicarakan segala hal yang anda inginkan. Iklan yang dibuat tersebut selain sangat efektif dan kreatif untuk memperkenalkan pariwisata di Swedia, juga memiliki aspek hiburan yang dapat menarik orang banyak. Serta sangat dekat dengan aspek kehidupan, karena Swedia sendiri merupakan negara yang menjunjung tinggi hak kebebasan berbicara yang dimiliki oleh setiap orang,” papar Nugroho.

Nugroho juga menyampaikan bahwa informasi yang diberikan dalam gelar wicara tersebut ditujukan agar para mahasiswa memahami pentingnya aplikasi dari ilmu yang sudah didapatkan. “Teori yang anda dapatkan tidak akan berguna kalau tidak anda aktualisasikan dalam karya anda. Saya juga ingin mengingatkan bahwa kehidupan merupakan medium yang sangat baik, karena itu karya anda harus mampu memiliki aspek kehidupan. Karena iklan yang ada seharusnya dapat memperkaya dan bukan memanipulasi,” tutupnya. (raditia)

Sharing is caring!