KKN 45 UMY Berdayakan KWT Koripan II Dengan Emping Garut

Oktober 19, 2016 oleh : BHP UMY

img_20160929_124520

Kuliah Kerja Nyata (KKN) 45 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mengusung tema “Penguatan Kelembagaan dan Agronomi”, di Dusun Koripan II, Desa Dlingo, Bantul, telah berakhir pada Senin (17/10). KKN yang berlangsung sejak 15 September 2016 ini ini mencoba memberdayakan ibu-ibu istri tani di dusun setempat, dengan memberikan pelatihan mengolah dan memasarkan Emping Garut.

Menurut Dimas Arif Fahreza (Akuntansi 2013), selaku ketua tim KKN 45, ia beserta teman-temannya memilih program pemberdayaan tersebut lantaran di daerah Koripan II banyak Umbi Garut yang masih belum diolah secara maksimal. Padahal, Umbi Garut sendiri merupakan jenis umbi yang banyak mengandung nutrisi dan khasiat yang berguna untuk kesehatan. “Pemilihan untuk mengolah Umbi Garut menjadi Emping Garut ini juga karena teknik pengolahannya yang sederhana dan tidak menguras biaya. Sebagaimana pembuatan emping pada umumnya, pembuatan Emping Garut ini juga hanya membutuhkan alat untuk mengulek umbi dan penggorengan. Untuk memproduksi umbi garut menjadi Emping Garut pun hanya membutuhkan waktu tiga hari,” jelasnya melalui rilis yang diterima Biro Humas UMY pada Selasa (18/10).

Selain itu, menurut Dimas, Emping Garut dari umbi garut tersebut juga memiliki kelebihan dibandingkan dengan emping biasanya yang terbuat dari buah melinjo. “Emping Garut ini banyak mengandung serat yang baik untuk pencernaan serta tidak menyebabkan asam urat, berbeda dengan emping yang terbuat dari buah melinjo. Sehingga Emping Garut ini juga sangat aman untuk dikonsumi oleh siapa saja. Selain itu, kami juga rencananya akan melanjutkan program pemberdayaan ini pada tahap inovasi rasa serta pemasarannya, agar Emping Garut Dlingo ini semakin dikenal masyarakat luas dan menjadi makanan khas Dlingo,” imbuhnya.

Sementara itu, Ibu Dian selaku Sekretaris Kelompok Wanita Tani (KWT) Koripan II, Dlingo, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran tim KKN 45 UMY. Sebab sebelumnya mahasiswa KKN 168 UMY juga sudah pernah membantu ibu-ibu tani setempat, namun hanya terbatas pada proses pengolahan umbi garut. Sehingga adanya tim KKN 45 UMY dianggap membawa angin segar terhadap produk Emping Garut, terutama ketika tim KKN 45 UMY membantu menjadi fasilitator dalam pengurusan izin nomor PIRT dan pemasaran-pemasaran ke minimarket, pusat oleh-oleh, dan sebagainya.

“Kedepannya kami ingin memasarkan produk Emping Garut ini ke luar wilayah, karena produsen Emping Garut di daerah sini sudah banyak sekali, hampir setiap rumah memiliki stok Emping garut. Sehingga tidak memungkinkan bila kami memasarkannya di sekitar sini. Jadi jalan satu-satunya adalah memasarkan ke luar wilayah, namun kami kami terkendala dengan masalah transportasi. Selain itu, regenerasi juga menjadi tugas utama kami, karena mayoritas pengurus kami sudah berumur. Tapi dengan adanya tim KKN dari UMY ini kami sudah sangat merasa terbantu,” ujar Ibu Dian.

Adapun Emping Garut hasil olahan KWT Lestari dampingan tim KKN 45 UMY ini dihargai Rp. 12.000 untuk kemasan mentah, dan Rp. 9.000 untuk kemasan matang. Selisih penjualan dari Emping Garut tersebut juga digunakan oleh warga setempat untuk mengisi kas Organisasi KWT serta biaya operasional organisasi lainnya. Selain itu, kemasan Emping Garut KWT Lestari yang diberi merk “Emping Garut L Lestari” ini juga sudah dilaunching pada acara Gelar Festival Budaya Dlingo pada 29 September 2016 yang lalu. Pada kompetisi tersebut Koripan II yang diwakili oleh produk kemasan Emping Garut juga berhasil menyabet gelar juara sebagai kemasan terbaik se-Dlingo, Bantul.