Kesalehan Sosial Tumbuhkan Toleransi Antar Kelompok

Juli 30, 2013 oleh : BHP UMY

_MG_4578Selain kesalehan individual yang diwujudkan dengan ibadah melalui ritual, saat ini juga diperlukan kesalehan sosial. Kesalehan individual belum tentu memiliki korelasi positif dengan kesalehan sosial yang terwujud ketika manusia berada dalam suatu kelompok. Padahal kesalehan sosial itu dapat membangun sikap toleransi antar kelompok sosial.

Demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Amin Abdullah dalam materinya yang berjudul “Konsepsi Al-Ihsan Dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah” pada acara Pengajian Ramadhan Pejabat Struktural dan Dosen UMY 1434 H di ruang sidang gedung AR Fahruddin B UMY, Jum’at (26/7).

Seseorang yang saleh dalam hal hubungannya dengan Tuhan belum tentu bisa membawa kesalehan tersebut ketika berada dalam kelompok. “Tuhan tidak dapat dilepaskan sedetikpun dari manusia sebagai individu, dalam arti manusia secara individu mengklaim dan percaya demikian adanya, tetapi ketika mereka berkelompok seringkali mereka melupakan pengawasan Tuhan,” katanya.

Ketika umat Islam hidup berkelompok, jelas Amin, mudah sekali terbelenggu pada ikatan primordialisme dan neo sektarianisme beraqidah yang supra ketat yang tidak toleran terhadap perbedaan tafsir keagamaan. Bahkan, lanjut Amin, sering kali Tuhan di jadikan tameng dan dalih oleh kelompok tertentu untuk melakukan “kekerasan” psikologis maupun fisik sosial. “Hal itu yang kemudian menyebabkan kita mudah saling mengkafirkan, saling murtad memurtadkan di lingkungan intern umat Islam sendiri,” jelasnya.

Perilaku sosial neo sektarianisme, tambahnya, seringkali dianggap oleh sebagian orang sangat emosional dan mudah menyulut kekerasan. Ia meyakini tidak semua perilaku sosial organisasi atau sosial keagamaan memiliki tingkah laku seperti itu. “Banyak pengamat sosial menganggap prilaku kelompok neo sektarianisme sangat emosional dan mudah menyulut kekerasan dan mengantarkan ke disharmonisasi sosial,” tambahnya.

Lebih jauh  Amin Abdullah memaparkan, selain itu saat ini dibutuhkan pula kesalehan publik misalnya  dengan memiliki etos kerja yang baik untuk memperbaiki wajah publik yang akan berdampak pada baiknya wajah agama. “Apabila kita memperbaiki wajah publik maka kita juga dapat memperbaiki wajah agama,” paparnya.

Sementara itu wakil ketua Badan Pengelola Harian (BPH) UMY Dasron Hamid dalam sambutannya menyampaikan, bahasan tentang “ihsan” yang disampaikan sangat pas dengan visi dan misi UMY sebagai pusat pendidikan karakter melalui catur dharma Pergurutan Tinggi. “Oleh sebab itu para pengajar di UMY harus memiliki bekal pengetahuan tentang Al-Islam,” pungkasnya.