Kenalkan Potensi Masyarakat Melalui Desa Wisata

IMG_0902Desa wisata merupakan salah satu cara untuk mengenalkan potensi masyarakat lokal. Dengan adanya desa wisata ini, diharapkan masyarakat lokal mampu menarik perhatian pengunjung dari dalam maupun luar negeri.

Demikian disampaikan oleh Muhd. Shazly mahasiswa asal Singapura peserta program “Learning Express” yang diselenggarakan atas kerjasama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) , Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Singapore Polytechnic (SP), dengan Temasek Foundation saat mempresentasikan hasil penelitian peserta program ini kepada masyarakat desa Polengan, kecamatan Srumbung Magelang, Senin (18/3). Program ini diikuti 36 mahasiswa dari Singapore Polytechnic.

Selain dihadiri oleh masyarakat sekitar dan mahasiswa peserta “Learning Express” dari UMY dan Singapore Polytechnic, dalam kesempatan kali ini juga dihadiri oleh Mr. Tan Choon Shian selaku Principal dan CEO Singapore Polytechnic, Ms. Helene Leong selaku Director Department of educational Development Singapore Polytechnic, wartawan The Strait Time Singapore, dan juga Kepala Desa Polengan Wahudi.

Shazly menjelaskan bahwa Desa Wisata ini akan membantu ekonomi masyarakat desa Polengan apalagi pasca erupsi Merapi 2010 lalu. “ Setelah melakukan riset selama tiga hari disini, kami menemukan banyak potensi yang dimiliki desa Polengan yang sangat menarik. Salah satunya adalah makanan khas daerah sini yaitu “Pattilo” , jelasnya.

Pattilo, imbuh Shazly merupakan salah satu makanan ringan olahan dari masyarakat desa Polengan yang terbuat dari Singkong. “Setelah erupsi merapi, masyarakat desa Polengan mendapatkan pelatihan dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) untuk mengolah Singkong menjadi makanan ringan seperti kerupuk yang disebut Pattilo,” imbuh mahasiswa SP ini.

Mahasiswa SP memaparkan bahwa Pattilo ini lah yang nantinya akan menjadi daya tarik dari desa wisata ini. “Proses Pembuatan dari Pattilo yang akan kami kenalkan kepada para pengunjung. Proses pembuatannya pun meliputi pengupasan singkong, kemudian dipotong kecil singkongnya lalu dihaluskan, kemudian di fermentasi, setelah itu diperas lalu dibentuk bola-bola, kemudian dicetak dan dikukus, proses yang terakhir adalah di jemur,” paparnya.

Shazly menuturkan bahwa nantinya para pengunjung akan mendapatkan ilmu tentang proses pembuatan Pattilo ini. “Selain itu, Para pengunjung nanti akan lebih mengenal kebudayaan masyarakat desa Polengan. Tidak hanya itu, kami juga akan membuat taman bermain yang mendidik bagi anak-anak sekitar desa, agar mereka tahu betapa pentingnya Singkong bagi kehidupan desa Polengan,” tuturnya.

© 2013 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta | Created by Biro Sistem Informasi UMY | About the site