Kebutaan akibat Katarak hanya 50 % yang tertangani

Oktober 4, 2010 oleh : BHP UMY

Setiap tahun diperkirakan ada 200 ribu kasus baru mengenai penyakit maupun kebutaan karena katarak. Tetapi yang dioperasi hanya sekitar 50 %nya sehingga terjadi backlog atau penumpukan kasus yang belum tertangani dari kasus katarak tersebut. Sehingga diperlukan upaya untuk menurunkan kasus tersebut salah satunya dengan mengadakan operasi mata gratis untuk penderita katarak.

Inilah salah satu alasan Eye Center Asri Medical Center – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (AMC-UMY) menyelenggarakan bakti sosial operasi mata gratis bagi 11 penderita katarak pada Minggu (3/10).

Bakti sosial tersebut diikuti 11 penderita katarak dengan usia di atas 35 tahun dengan ditangani oleh empat orang dokter. Dimana lama operasi setiap pasien ditentukan parah tidaknya katarak yang diderita. Namun meskipun operasi, penderita tidak diharuskan untuk menginap langsung dapat pulang setelah istirahat 1-2 jam dan bisa melakukan perikasaan atau kontrol pada keesokan harinya.

Menurut penanggung jawab kegiatan tersebut, dr. Nurfifi Arliani, Sp.M, katarak merupakan penyebab kebutaan tertinggi di Indonesia. “Dimana angka kejadiannya hampir 1,5 % penduduk,”urainya ketika ditemui usai mengoperasi pasien katarak Minggu (3/10) sore di AMC.

Terkait dengan banyaknya kasus baru mengenai katarak dimana baru 50%nya saja yang dioperasi dijelaskan Nurfifi hal tersebut disebabkan karena sebagian besar masyarakat mengeluhkan besarnya biaya operasi katarak. “Baik di Rumah Sakit Negeri maupun Swasta. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan kerjasama dari semua pihak baik instansi pemerintah, swata, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mengadakan kegiatan serupa yaitu operasi mata gratis bagi penderita katarak,”jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut Nurfifi berharap dapat menurunkan angka backlog maupun kebutaan akibat dari katarak. “Backlog merupakan penumpukan kasus yang belum tertangani. Misalnya jika ada 200ribu kasus mata akibat katarak kemudian yang tertangani baru 50%nya berarti kasus yang tertangani yaitu 100ribu kasus. Sedangkan 100ribu kasus lagi belum tertangani padahal ada 200ribu kasus baru lagi yang muncul di setiap tahunnya.”tuturnya.

Nurfifi juga berharap kedepan dapat melakukan kerjasama dengan instansi atau pihak lain baik negeri maupun swasta untuk melakukan kegiatan serupa. “Semoga ke depan dapat bekerjasama dengan lebih banyak pihak agar dapat menurunkan angka kebutaan akibat katarak,”tegasnya.