Jelang Milad ke-34, UMY Siap Hadapi MEA 2015

Februari 23, 2015 oleh : BHP UMY
Dr. Nano Prawoto, SE., M.Si. selaku penanggung jawab acara Milad UMY ke-34, saat memberikan keterangan kepada Jurnalis BHP UMY

Dr. Nano Prawoto, SE., M.Si. selaku penanggung jawab acara Milad UMY ke-34, saat memberikan keterangan kepada Jurnalis BHP UMY


Akhir tahun 2015 akan diresmikan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan meramaikan pasar di ASEAN dan bisa menjadi tolak ukur bagi perekonomian di Indonesia. Demi menyambut MEA 2015, seluruh masyarakat Indonesia termasuk mahasiswa dan semua sivitas akademika di Indonesia harus terus meningkatkan keterampilan dan mempersiapkan dirinya agar mampu bersaing dengan negara lain demi meningkatkan perekonomian Indonesia di mata ASEAN.

Hal inilah yang sedang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk bisa mempersiapkan diri mengahadapi MEA. Untuk membuka jalan tersebut maka, di Milad UMY ke 34 ini, UMY pun mengusung tema “Dengan Mutu Sumber Daya Manusia yang Tinggi, UMY Siap Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015”. “Alhamdulillah tema ini sudah disetujui oleh forum. Tema ini diambil agar UMY bisa lebih siap mengahadapi MEA nantinya. Bukan hanya itu saja ini juga bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi kami untuk bisa mengahadapi MEA, “ tutur Dr. Nano Prawoto, SE., M.Si. selaku penanggung jawab acara Milad UMY ke-34.

Nano menjelaskan, bahwa secara umum tema yang diangkat hampir sama dengan tema Milad ke-33 tahun lalu, hanya saja yang membedakan di sini adalah penekanannya lebih pada peningkatan kualitas SDM serta MEA. “Perlu kita ketahui bahwa MEA menjadi suatu hal yang baru di Negara ASEAN. Jadi ketika MEA sudah terselenggara dan dipukul gongnya pada Desember 2015 nanti, maka negara-negara yang bertanda tangan dan masuk dalam organisasi tersebut harus menghadapi beberapa kebebasan dalam perekonomian di Indonesia,” jelasnya.

Nano juga memaparkan bahwa ada 5 hal kebebebasan yang harus diikuti oleh negara-negara yang masuk dalam MEA. “Ketika Indonesia sudah masuk ke MEA ada 5 hal kebebasan atau liberalisasi yakni bebas keluar masuk barang, bebas dalam berbahasa, bebas dalam menanam modal, bebas dalam berinvestigasi, dan bebas dalam bidang ketenagakerjaan yang terdidik dan terampil. Untuk bidang ketenagakerjaan, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) belum termasuk. Intinya adalah bahwa hanya lulusan sarjana dengan skill bagus yang bisa bebas keluar masuk negara ASEAN tanpa hambatan, “ paparnya.

Bukan hanya itu saja, lanjut Nano, masyarakat Indonesia juga akan memperoleh manfaat tanpa hambatan, misalnya ketika ada pengiriman barang subsidi tidak perlu memakai kuota lagi. “Artinya, ketika kita akan impor sapi maksimal dalam setahun ada sekian sapi. Jika dalam bidang investasi, kita tidak usah lagi join dengan perusahaan lain yang ada di Indonesia, jadi kita bebas berinvestigasi di negara manapun tanpa harus join terlebih dahulu, “ paparnya.

Namun menurut Nano, ada beberapa hal yang perlu disiapkan untuk menghadapi MEA, karena jika masyarakat Indonesia tidak siap, tentu ini akan menjadi sebuah bencana bagi Indonesia sendiri. “Untuk MEA, tentu Indonesia harus menyiapkan SDM yang bagus pula. Jika tidak, kita akan menjadi penonton di negeri sendiri, Indonesia akan diserbu oleh barang-barang impor, jasa pendidikan, jasa kesehatan dari negara lain. Tentu, hal ini tidak boleh terjadi di Indonesia, untuk itu kita menyiapkan SDM yang memiliki daya saing tinggi dan mempersiapkan diri untuk bisa bersaing dengan negara lain, “ terangnya.

Untuk itu, imbuh Nano lagi, masyarakat Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi MEA, dan untuk memepersiapkannya tentu tak lepas dari peran universitas dalam meningkatkan SDM sebab saat ini batas-batas negara sudah terlihat semu. “Saya berharap kita bisa punya motivasi yang tinggi bahwa kita tidak hidup sendiri. Kita harus hidup dengan negara lain yang bebas melakukan transaksi keluar masuk, baik dalam bentuk barang atau jasa, dan investasi. Batas-batas negara juga sudah tidak ada. Jika kita hanya berdiam diri, daya saing kita lemah, pendidikan rendah, itu artinya kita ini sedang dijajah, “ tegasnya.

Setidaknya, lanjut Nano dengan Indonesia masuk dalam daftar MEA, Indonesia dapat memperoleh manfaat, misalnya bisa melakukan ekspansi barang ke negara lain, bahkan dalam sektor pendidikan pun bisa dilakukan. “Jadi, mahasiswa perlu motivasi dan usaha yang tinggi, karena kita bukan hanya berhadapan dengan yang ada di Bantul, Yogja, dan Indonesia saja. Tapi, mulai sekarang kita sudah berhadapan langsung dengan negara lain, “ pesannya.

Adapun pelaksanaan Milad UMY ke-34 ini akan dibuka dengan Malam Tasyakuran yang akan dilaksanakan pada Sabtu, 28 Februari 2015 dan diakhiri dengan acara Family Day dan Sepeda Santai yang akan dilaksanakan pada Minggu, 12 April 2015. Bukan hanya itu saja dalam Milad ini juga ada Laporan Tahunan Rektor dan Pidato Milad, konferensi Internasional yaitu International Conference on Accounting and Finance (ICAF), International Conference on Management Science, dan International Conference on Islamic Economics dan Financial Inclusion (ICIEFI), Seminar Nasional, Pameran Kewirausahaan, Lomba non akademik dan akademik, serta Bakti Sosial. (Icha)