Isu Agama Bukan Fokus Konflik yang Sesungguhnya

Desember 3, 2016 oleh : BHP UMY

umy-mgps-5-chandra-muzaffar

Perang seperti yang terjadi antar Palestina dan Israel dan Konflik di Kashmir (wilayah utara India), banyak diisukan sebagai perang antar umat beragama. Namun pada kenyataannya fokus konflik atau perang antar kedua belah pihak bukanlah pada hal agama. Melainkan lebih kepada faktor geo-poitik.

Hal tersebut yang disampaikan oleh Dr. Chandra Muzaffar, Presiden International Movement for a Just World (JUST International), dalam kelas Mahathir Global Peace School 5 pada Jum’at (2/12). Dalam forum yang dilaksanakan di ruang sidang gedung AR. Fakhruddin A lantai 5 tersebut, Dr. Chandra menyampaikan bahwa asumsi terhadap perang antar agama sebenarnya merupakan asumsi yang salah.

“Media barat banyak menyebarkan bahwa peperangan dan konflik yang terjadi merupakan konflik antar agama. Kita seharusnya lebih teliti dalam mendalami akar permasalahan pada konflik tersebut. Karena pada dasarnya semua konflik itu tentang lahan (land), pendudukan wilayah (occupation), dan self-determiantion,” jelas Dr. Chandra.

Konflik di wilayah Kashmir, disebutkan Dr. Chandra sebagai konflik paling lama yang terjadi di dunia sejak 1947. Menurut Dr. Chandra, banyak masyarakat yang menilai bahwa konflik tersebut merupakan konflik yang terjadi antara umat Hindu dengan umat Islam. Meskipun secara historis tidak demikian.

“Dari segi agama, konflik di Kashmir tidak disebabkan oleh kepercayaan umat Hindu yang mengaggap hewan sapi suci, sedangkan umat Islam menyembelih sapi, kemudian mereka berseteru atas hal tersebut. Yang mereka seterukan bukanlah terkait permasalahan agama, melainkan wilayah. Masyarakat Kashmir utara merupakan keturunan Pakistan yang beragama Islam, menginginkan wilayah Kashmir masuk sebagai kawasan Pakistan. Sedangkan masyarakat Kashmir selatan merupakan etnis India beragama Hindu, yang menginginkan Kashmir masuk sebagai wilayah India,” terang Dr. Chandra.

Dengan demikian, Dr. Chandra menyimpulkan bahwa secara fakta, agama tidak pernah menjadi alasan utama konflik yang terjadi. Dr. Chandra juga memberikan contoh pada kasus konflik antara Palestina dan Israel. Konflik yang terjadi di kawasan Palestina melibatkan tiga kelompok yakni Muslim, Yahudi dan Kristen.

“Kaum Yahudi di Palestina ingin kebebasan, Islam di sana juga, begitupun Kristen. Konklusinya, yang menjadi pertikaian adalah lahan. Yang mereka perebutkan adalah wilayah dan kekuasaan. Keinginan untuk mendominasi wilayah, itulah yang menjadi faktor utama terjadinya konflik,” tegas Dr. Chandra.

Setiap agama disebutkan Dr. Chandra, mengajarkan pada bagaimana setiap umat menilai diri mereka sendiri, lalu menilai kepada makhluk lainnya. “Pada setiap agama tidak mengajarkan untuk menjadi tamak akan kekuasaan. Jika ada manusia yang memaknai bahwa dalam ajaran sebuah agama mengajarkan kekerasan dan dominasi kekuasaan, maka dia membutuhkan untuk lebih memahami agama tersebut lagi. Karena setiap agama mengajarkan pada bagaimana kita dapat berinteraksi secara baik dengan sesama manusia,” tutup Dr. Chandra. (deansa)