Irman: Pendidikan Poin Utama Hadapi Globalisasi

Desember 12, 2012 oleh : BHP UMY

_MG_7353Memasuki era globalisasi terlebih dengan akan diberlakukannya Asean Economic Community (AEC) pada tahun 2015, pendidikan menjadi poin utama menghadapi arus deras globalisasi. Selain itu, tenaga pendidik juga harus melatih anak didiknya agar siap menghadapi tantangan globalisasi. Jangan hanya menuntun anak didiknya untuk sekedar mencari ijazah akan tetapi membimbingnya supaya cerdas, menguasai pengetahuan dan teknologi, kreatif serta punya benteng moral dan etika melalui pendidikan karakter manusia.

Pernyataan tersebut dipertegas oleh Irman Gusman, Ketua DPD RI dalam kuliah umum bertemakan “Pendidikan Karakter dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Bangsa Untuk Menghadapi Asean Economic Community (AEC) 2015”. Acara ini berlangsung di Gedung Serbaguna Sportorium Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Rabu (12/12). Turut hadir dalam acara tersebut pejabat pemerintahan DIY, Pimpinan Muhammadiyah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah, perwakilan perguruan tinggi se-DIY, Rektor dan Dosen, serta mahasiswa UMY.

Irman menjelaskan setiap elemen memiliki tantangannya sendiri. Bagi orientasi pendidikan tidak hanya menekankan pada pendidikan saja akan tetapi pendidikan harus membentuk insan manusia seutuhnya. “Adanya ancaman global yang perlu diantisipasi karena era tersebut akan mengakibatkan insan yang cenderung pragmatis, pola hidup instan. Untuk itu perlu adanya geneasi penerus bangsa yang berkarakter,” jelasnya.

Selain itu, Irman memaparkan tentang beberapa hal penting yang harus dimiliki untuk membentuk bangsa yang memiliki karakter yang kuat. “Pertama adalah Brain, dimana kita harus memiliki pengetahuan dan teknologi yang tinggi agar bisa bersaing dengan negara lain dalam Globalisasi, kedua adalah Dream yang berarti cita-cita juga tujuan yang dimiliki bangsa tersebut. Mimpi besar bukanlah hal yang mustahil untuk di wujudkan. hal tersebut didukung pula dengan Spirit atau semangat yang kuat agar semua tujuan dari bangsa tersebut tercapai. hanya semangat tanpa adanya confidence juga tidak cukup. sudah seharusnya kita percaya dengan kemampuan bangsa kita sendiri, Jangan hanya menjadi bangsa yang konsumtif tapi mulai dari sekarang percayalah bahwa bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang produktif,” paparnya.

Selanjutnya Irman menuturkan bahwa semua poin itu tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya nilai Spiritual. “Dari keempatnya akan menjadi sia-sia tanpa adanya nilai spiritual dalam hal ini doa atau nilai-nilai Agama. Seperti yang kita ketahui, Agama menjadi landasan kita dalam bertindak sehingga poin terpenting adalah landasan itu sendiri yang sudah tertanam sejak dini,” tuturnya.

Dalam kesempatannya, Irman mengkritik lembaga-lembaga pendidikan yang hanya menyampaikan ilmu, tapi hanya sedikit membentuk karakter generasinya. “Padahal, pendidikan adalah suatu proses pembudayaan. Artinya melalui pendidikan, baik dalam institusi keluarga, sekolah, institusi agama, formal maupun informal, terjadi internalisasi nilai-nilai positif, baik itu nilai moral, etika, kejujuran, kebaikan, agar terbentuk insane yang bertanggung jawab, berguna bagi masyarakat,” tegasnya.

Irman juga berpesan saat menghadapi era globalisasi jangan berpikiran negatif karena secara tidak langsung telah mengaku kalah. “Memelihara sikap optimis dan pola pikir yang positif sangat penting jika ingin mendapat peluang dari era globalisasi. Ketahuilah bahwa globalisasi juga memiliki sisi positif. Untuk itu kita perlu memiliki rasa daya saing tinggi untuk mendapat tempat di era tersebut,” tandasnya.