Internasionalisasi UMY Perlu Kesiapan Matang

Februari 3, 2016 oleh : BHP UMY

IMG_2335Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A., mengungkapkan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah mulai tahun ini. Beberapa barang, jasa, dan tenaga ahli sudah mulai keluar masuk ASEAN dengan bebas. Namun Indonesia belum sepenuhnya siap. Selain kesiapan tersebut, juga diperlukan dorongan perguruan tinggi untuk bisa bersaing dengan kampus-kampus Internasional yang ada di dunia. Kondisi itulah yang mendorong UMY untuk bisa bersaing dan siap masuk perguruan tinggi yang diakui oleh dunia global.

“Pada Tahun 2020, WTO (World Trade Organization) telah disepakati bahwa barang, jasa termasuk tenaga ahli akan leluasa masuk antar Negara. Lulusan PT yang memiliki skill dan pengalaman Internasional akan memiliki peluang lebih besar mendapatkan posisi dan pekerjaan yang bagus. Dalam lima tahun persiapan tersebut, tentunya terdapat tantangan yang harus dihadapi,” ungkap Rektor dalam sambutannya pada agenda workshop Internasionalisasi UMY yang diselenggarakan selama dua hari (2-3 Februari) di Hotel Neo+ Awana Yogyakarta pada, Rabu (2/3).

Dalam sambutannya tersebut, Prof. Bambang kembali mengatakan bahwa jika dilihat dari pertumbuhan penduduk Asia, trend pertumbuhan penduduk naik. Terlebih didominasi oleh usia 15 sampai 19 tahun. “Trend pertumbuhan penduduk yang didominasi para remaja tersebut, perguruan tinggi khususnya UMY tidak perlu khawatir kurangnya mahasiswa. Hanya saja yang perlu diperhatikan bagaimana cara supaya program atau akademik di UMY ini berkualitas,” Ungkapnya.

Prof. Bambang memberi contoh salah satu Universitas Terbaik di Denmark, AAL Borg Uni yang telah memiliki bintang 5 pada QS. Internasional. “AAL Borg Uni memiliki total 5 dalam QS. Stars. Jika dilihat jumlah mahasiswa sama dengan UMY yaitu sekitar 21.560, tetapi AAL Borg memiliki mahasiswa Internasional yang bisa diperhitungkan untuk bersaing dengan kampus lain, sekitar 3.234 mahasiswa. Salah satu supaya Universitas diakui dunia, salah satunya banyaknya peminat mahasiswa asing,” Jelasnya.

Keberhasilan UMY mendapatkan bintang 5 untuk Facities, Sosial Responsibilities, dan Inclusiveness. Namun UMY masih perlu memaksimalkan dan meningkatkan standar Internal kampus yang ada, terutama di bidang akademik. “Untuk pencapaian Internasionalisasi UMY, kita memerlukan dosen-dosen Asing. Kami sudah memutuskan ditahun depan UMY akan merekrut 2 professor untuk setiap prodi. Kira-kira untuk keseluruhannya, kami akan merekrut 70 professor asing,” tandasnya.

Dalam pencapaian UMY menjadi bagian dari kampus Internasional, tentunya dibutuhkan strategi. Prof. Bambang menambahkan, diperlukan dua hal penting strategi umum. Dua hal tersebut yaitu kecepatan dan inovasi. “Speed atau kecepatan poin penting untuk pencapaian kampus yang unggul. Menjadi kampus unggul harus bisa bergerak cepat, serta unggul dan membuat suatu yang baru. Selain itu juga perlu adanya inovasi, dalam artian harus unggul dibanding senioritas atau tidak bergantung senior,”jelasnya.

Disamping strategi secara umum, Prof. Bambang kembali menambahkan bahwa perlu juga adanya strategi secara khusus. Diantaranya yaitu perlu perkuat program Internasional S1, Membuka program Internasional pada S2 dan S3, menambah Internasional fakultas, menambah mahasiswa Internasional dan mengirimkan mahasiswa keluar negeri, serta reformasi fasilitas perpustakaan. “Yang menjadi salah satu impian saya yaitu semua program studi mempunyai program Internasional. Di lingkungan UMY setiap harinya menggunakan bahasa asing, baik bahasa Inggris, bahasa Arab maupun bahasa lainnya. Bahkan untuk prodi yang telah terakreditasi A diwajibkan untuk membuka program Internasional,”Ujarnya.

Dalam penuturannya, Prof. Bambang mengatakan, untuk menempatkan UMY eksis dimata dunia perlu adanya keaktifan dari berbagai pihak. Dalam pengakuannya, mengelola perguruan tinggi untuk mendapatkan QS harus kerja lebih maksimal dibanding mendapatkan AIPT. “Mengelola perguruan tinggi jika dianalogikan seperti lomba lari marathon yang tidak boleh terhenti. Jika sekali terhenti akan habislah kita,” tutup Prof. Bambang. (Hv)